Belajar dari Kota Solo

Belajar Dari Kota SoloSolo punya cerita menarik. Tidak seperti kota lain yang merasa dikepung PKL, Solo justru menjadi eksis karena PKL. Saling mengerti antarlini menjadi daya dukung utama mewujudkannya. Solo, salah satu di antara yang berhasil mengelola sektor informal pada kadar yang sepantasnya.

Suatu ketika di bulan Juni, Solo tampak ramai. Kota kecil dengan sejuta kenangan itu kedatangan tamu jauh. Mereka berkumpul untuk berdiskusi tentang tata kota yang baik dalam Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development (APMCHUD).

Beberapa titik kota menjadi perhatian serius. Di antaranya, Pasar Klithikan Notoharjo, Semanggi, Pasar Kliwon. Ada juga bantaran Sungai Bengawan Solo. Selain itu, pembangunan kawasan urban forest Pucangsawit dan pembangunan Rumah Tak Layak Huni (RTLH) Kratonan.

Sementara pasar yang berhasil ditata ulang di antaranya Pasar Nusukan, Pasar Kembalang, Pasar Sidodadi, Pasar Gading, pusat jajanan malam Langen Bogan, serta pasar malam Ngarsapura.

Bagi pemerintah daerah atau kota di banyak tempat, PKL selalu saja tampak merepotkan. Hal itu tidak terjadi di Solo. Berkali-kali disampaikan para petinggi Solo bahwa PKL dapat berkontribusi besar untuk daerah bila dibina dengan baik. Niat dan cara mengimplementasikan kebijakan pro-PKL penting juga penting.

Pemkot Solo memberikan SIUP dan TDP gratis, kemudian melakukan penataan ulang terhadap kantong-kantong PKL yang selama ini semerawut. Pendekatan pun dilakukan selama tujuh bulan sebelum relokasi. Makan siang dan dialog menjadi strategi tambahannya. Lebih lanjut, pemindahan PKL dilakukan dengan penuh kehormatan. Prajurit Keraton Solo diajak bersama-sama, untuk menimbulkan rasa bangga tiada terkira.

Tempat-tempat yang sebelumnya dipenuhi PKL, kemudian menjadi hijau. Masyarakat menjadi betah berlama-lama di sana karena terbuka, bersih, dan asri.

Pemkot Solo juga ingin memperjuangkan pasar tradisional untuk menjual produk sendiri (lokal) agar tidak kalah dengan swalayan. Di Solo, ternyata pemasukan PKL bagi Pemkot justru lebih besar dibandingkan hotel, terminal, atau pasar modern.

Hasil fantasis, penanganan PKL ini rencananya akan ditiru beberapa negara Asia Tenggara, seperti Filipina, Kamboja, Vietnam, dan Thailand. Dan para tamu jauh itu pun tampak puas berkunjung ke Solo; kota indah bagi sektor informal.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.