Bencana Alam, Gegana & Hanura

Satu dasawarsa terakhir, negeri ini disambangi banyak bencana alam. Sebagian terjadi tiba‐tiba. Sebagian lagi terjadi melalui proses yang berlangsung secara perlahan. Bencana seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, kekeringan, letusan gunung api, tsunami, dan anomali kondisi cuaca ekstrem semakin sulit diramalkan.

Peristiwa demi peristiwa silih berganti. Ia menimbulkan kepanikan, kerusakan, kerugian, dan korban. Fenomena saling menyalahkan pun muncul. Bencana-bencana ini selalu memberi dampak kejutan dan menimbulkan banyak kerugian, jiwa maupun materi. Disebut kejutan karena kurangnya kewaspadaan dan kesiapan menghadapi ancaman bahaya.

Mengapa negeri ini seolah menjadi hypermarket bencana? Secara geografis, geologis, hidrometeorologis, dan demografis, wilayah Republik Indonesia memang berisiko tinggi.

Secara geologis, negeri ini menyimpan ancaman tinggi. Kepulauan Indonesia terletak pada jalur tektonik dan seismik terpanjang dan teraktif di dunia. Di sebelah selatan terdapat lempeng Indo-Australia. Di sebelah utara membujur lempeng Eurasia. Sementara di sebelah timur terdapat lempeng Pasifik. Ketiga lempeng mempunyai pergerakan 12 s.d 100 cm setiap tahunnya. Di samping itu, terdapat sabuk api (ring of fire), berupa jalur vulkanik. Negeri ini memiliki 500 gunung api; 129 di antaranya aktif.

Ditinjau dari hidrometeorologis, Indonesia mengenal dua musim: kemarau dan hujan. Negeri ini memiliki 5.590 sungai besar dan anak sungai; diidentifikasi, 600 sungai di antaranya mempunyai potensi banjir. Indonesia juga memiliki luas hutan tropis terbesar ketiga di dunia, yang secara ekologis mengalami degradasi, dari tahun ke tahun.

Dengan mencermati ancaman yang tinggi (high risk), kerentanan tinggi (high vulnerability), beriring kemampuan rendah (low capacity) antisipasi, tak salah apabila republik mendapat julukan ‘Hypermarket Bencana’. Berdasarkan data kejadian bencana, rata-rata Indonesia mengalami bencana 1-3 kali sehari. Pada rentang tahun 2006-2007, terjadi 205 peristiwa, dengan 15 jenis bencana yang menimpa 28 provinsi di Indonesia.

Melihat kondisi seperti ini dibutuhkan kesiapsiagaan, yang bukan lagi menggantungkan pemerintah. Karena, bencana alam adalah tanggung jawab kita bersama sebagai warga negara, dalam bentuk kepedulian terhadap sesama maupun menjaga tatanan keseimbangan lingkungan hidup. Penduduk negara ini, hampir sebagian besar masih hidup dalam kemiskinan. Kemampuan mereka rendah dan memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana alam.

Sebagai generasi muda yang memiliki social responsibilty, berdasarkan hati nurani, sewajarnya bagi kita untuk mengambil peran ini dan menghimpun diri dalam wadah organisasi search and rescue, yang senantiasa mengabdikan diri secara siaga dalam penanggulangan bencana alam. Maka lahirlah Gema Hanura Siaga Bencana (GEGANA) dari rahim Gema Hanura.

Untuk mengawali semuanya, bersama BASARNAS, GEGANA menyelenggarakan DIKLAT SAR perdana pada 5 Juni 2010 di Danau Cibubur. Generasi perintis dilantik langsung oleh Ketua Umum Partai Hanura. GEGANA berjumlah 30 personel anggota inti, dari total anggota generasi perintis.

Sejak itu, GEGANA memiliki tanggung jawab penuh dalam bidang kemanusiaan, khususnya penanggulangan bencana di bawah koordinasi BASARNAS yang ditempatkan dalam masing-masing wilayah dari daerah yang mendelegasikan dan siap siaga dikirimkan ke seluruh penjuru tanah air.

Berdirinya GEGANA menjadi salah satu wadah bagi generasi muda yang memiliki rasa kemanusiaan, sebagai panggilan hati nurani, untuk mengabdi pada nusa dan bangsa, sekaligus sebagai wadah aktualisasi, membentuk karakter generasi muda, guna menumbuhkan kepedulian sosial. Minimnya jumlah relawan dan kurangnya antisipasi pemerintah dengan menyiapkan SDM profesional sebagai tenaga penanggulangan bencana masih menjadi permasalahan klasik. Keberadaan GEGANA menjadi solusi.

Semboyan GEGANA SIAGA, ‘Menjadi yang pertama di Lokasi Bencana’ bukan sekadar slogan, melainkan perwujudan tekad bersama untuk membangun tim solid, juga perkaderan anggota secara masif di seluruh pelosok Nusantara. Keberadaan GEGANA SIAGA akhirnya mampu dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Dengan jumlah anggota yang belum begitu banyak, GEGANA SIAGA bertekad menjadi profesional, mampu melakukan perkaderan anggota di setiap daerah, dan berperan aktif dalam permasalahan sosial di tengah masyarakat. Semoga harapan ini bukan sekadar impian, tapi sebuah tanggung jawab bersama, dalam menyuarakan hati nurani rakyat. (Roseno Hendratmodjo, Anggota Gegana Solo Raya, [email protected])

Recommended For You

About the Author: Roseno Hendratmojo

Praktisi psikologi yang juga pencinta alam. Lekat dengan program kaderisasi dan pemberdayaan rakyat membawanya larut ke masalah-masalah kebanyakan. Mentor kaum muda yang tekun dan bersemangat.

1 Comment

Comments are closed.