Konsistensi

Pada mulanya, publik tak banyak yang tahu, apa itu Partai Hanura. Situasi perpolitikan yang tak jelas ujung-pangkalnya meniriskan harap rakyat banyak tentang tidak signifikannya gerakan Parpol. Mereka mulai apatis dan menempatkan Parpol sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang haus kekuasaan.

Setelah sekian lama, persepsi tentang Parpol yang tidak bisa dipercaya, sedikit demi sedikit mulai dientaskan. Meski belum maksimal, Partai Hanura lumayan banyak berkontribusi pada perubahan kultur perpolitikan Indonesia. Isu kemiskinan diembuskan secara sistematis. Kritisme dibangun simultan. Dan perkaderan partai yang dekat dengan rakyat didesain serius. Hasilnya, sedikit banyak publik pun menjadi lebih tahu, apa itu Partai Hanura.

Pada mulanya, banyak kader Partai Hanura berbondong-bondong mencalonkan dirinya menjadi calon wakil rakyat. Mereka memang berhak dipilih dan memilih. Ketika itu, mereka berusaha keras mendapatkan dukungan rakyat, agar dapat menjadi penyampai aspirasi yang tepercaya. Berbagai cara pun ditempuh untuk meyakinkan calon pemilih, untuk turut pada kapal besar perubahan berbendera Partai Hanura.

Walhasil, tidak semua kader Partai Hanura berhasil duduk sebagai wakil rakyat. Sebagian karena tidak mendapatkan cukup dukungan. Sebagian yang lain bahkan hanya meramaikan Pemilu. Sebagian sisanya cukup berbahagia lantaran beberapa kader partai telah berhasil menjadi wakil rakyat. Sebuah realitas alamiah tentang dukung-mendukung yang selalu berujung pada hasil bervariasi.

Pada mulanya, skala prioritas Partai ada pada pembesaran konstituen di masa Pemilu mendatang. Bermacam cara dikreasi untuk mendekat pada basis dukungan. Secara internal, evaluasi intensif digelar. Maksudnya, mengurai benang kusut ketidaksinergisan beberapa titik yang harus segera dibenahi. Secara eksternal, Partai mulai menjalin hubungan, sedikit demi sedikit dengan konstituen. Pesan kuat tentang keseriusan Partai untuk membawa rakyat pada kehidupan yang lebih sejahtera, adil, dan makmur haruslah sampai ke publik.

Siapa sangka, bila ternyata, mengerti aspirasi rakyat bukanlah pekerjaan mudah. Selain mekanisme dialog yang belum dapat mewadahi dinamika hidup, publik mulai disibukkan lagi dengan aktivitas harian mereka, yang seperti tidak terhubung dengan politik. Hasilnya, secara perlahan, tampak bahwa batu ujian pembangunan relasi ada pada siap atau tidak siapnya sistem internal partai dalam mengover semua dinamika yang ada.

Sampai di sini, kebutuhan untuk berpikir radikal menjadi penting. Tanpa terobosan mendasar, eksistensi Partai ini akan mengkhawatirkan. Daya dukungnya akan melemah, seiring dinamika masyarakat yang meninggi, dan kompetitor yang jauh lebih siap. Kemampuan mendiagnosis kebutuhan masyarakat telah seharusnya dipertajam. Bukan hal bijak bila kemudian kebijakan Partai tidak lagi relevan, hanya karena koordinasi di tingkat internal yang tidak baik.

Bertahan jelas bukan pilihan tepat. Partai modern bukan partai yang hanya bergerak bila ada keadaan mendesak, atau bahkan bila diinstruksi semata. Hanura tentu bukan partai instan yang dihuni kalangan berpikiran pendek, dengan obsesi kepentingan sesaat. Kebutuhan Partai akan kader progresif telah saatnya dipikirkan masak-masak; tidak hanya hadir pada forum-forum resmi atau seminar-seminar yang mengupas persoalan di tataran permukaan. Partai ini berpeluang besar menjadi lebih baik, bila keinginan untuk maju lahir dari sanubari kadernya; bukan suruhan atau bahkan, provokasi yang tak perlu.

Kepercayaan
Sebenarnya, apa sih yang dimaui publik? Bila ditelisik lebih dalam, publik hanya menginginkan konsistensi. Bila dahulu, semasa kampanye calon wakil rakyat dari Partai Hanura telah berjanji untuk menyejahterakan rakyat, maka saat duduk di parlemen, kewajiban tersebut harus segera dipenuhi. Bukan soal rakyat yang mulai materialistis, tapi soal konsistensi bersikap.

Sementara itu, kontribusi nyata ini tentu juga akan mendongkrak reputasi Partai pada tingkat yang tak tanggung-tanggung. Publik pun menjadi percaya. Publik bahkan akan mengkreasi banyak hal untuk bekerjasama dengan Partai Hanura dan merenda harap, menyambut masa depan yang akan lebih baik.

Kebersamaan lantas mengemuka menjadi proyeksi penting Partai agar tetap eksis. Partai Hanura dan konstituennya seharusnya saling beri untuk membangun konsolidasi di tingkat pemilih. Kesalingmengertian ini akan berbuah tandem luar biasa, sampai kapan pun. Aset yang tidak terukur nilainya, lantaran berspirit universal.

Sebaliknya, jalan terjal menuju tujuan Partai tiba-tiba tampak bila kebersamaan ini tidak ada. Publik bisa jadi kembali pada persepsi lama, tentang partai yang hanya mendekat pada konstituen, menjelang Pemilu. Sebuah tradisi usang yang tak perlu lagi dipertahankan. Sebab, dunia telah sangat berubah. Dunia telah membangun mekanisme baru tentang kepercayaan yang harus dibangun pada konteks apa pun. Kepercayaan ini dirangkai dengan rekam jejak Partai Hanura yang sebaiknya, berusaha mengerti aspirasi rakyat.

Kini masyarakat bukan lagi pihak yang suka diingkari. Mereka, secara alamiah, membutuhkan komitmen Partai dalam bentuk integritas personal dan institusional. Maka melupakan konstituen, dengan tidak menjaring upaya saling dukung, akan berbuah hubungan sementara; bisa jadi malahan pragmatis. Simalakama adanya bila demikian. Melanjutkan hubungan tidak sehat hanya akan berujung pada inefisiensi. Sementara itu, bila tidak membina hubungan, Partai Hanura akan ditinggal pergi konstituennya.

Mari berpikir jernih, untuk bersinergi dengan rakyat. Sebab, eksistensi partai ditentukan oleh dukungan dan aspirasi. Jangan sekali-sekali beranggapan, tugas pelayanan selesai pasca-Pemilu, setelah kursi wakil rakyat dapat diraih. Partai Hanura ada karena dukungan rakyat. Partai Hanura memilih untuk didukung rakyat, karena banyak pekerjaan rumah republik yang membutuhkan konsentrasi ekstra.

Ketahuilah, pada mulanya, Partai Hanura lahir tidak untuk gagah-gagahan. Partai Hanura muncul untuk menjadi problem solver bagi negeri ini. Pada mulanya, Partai bertekad membangun keunggulan bangsa dengan kemandirian. Pada mulanya, Partai Hanura mengandalkan kekuatan hati nurani untuk mengerti aspirasi rakyat.
Pada mulanya… Partai Hanura adalah milik rakyat. Telah semestinya bila Partai didesain sepenuhnya untuk kebahagiaan rakyat.

Recommended For You

About the Author: Arif Giyanto

Menulis freelance di berbagai media, cetak dan online. Concern pada isu kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pegiat agribisnis dan ekonomi sektor informal. Bertempat tinggal di Yogyakarta.

1 Comment

  1. Hanya orang2 yg rendah hati dan gemar membela rakyatlah, yg tetap konsisten dlm perjuangan partai hanura. Seiring berjalannya wkt, terjadilah seleksi alam mengikis para “Benalu-benalu” di partai tercinta. YAKINLAH, Rakyat pasti menang!

Comments are closed.