Kaderisasi oleh Parpol

Sosok kaum muda yang dinamis, kritis, reformis, dan idealis merupakan modal dasar penerus estafet kepemimpinan bangsa. Karenanya, kadar visi dan idealisme kaum muda turut menentukan masa depan bangsa. Apabila kaum muda bervisi, beridealisme, dan bermoral, peluang akan terwujudnya masa depan bangsa yang lebih progresif akan ada.

Kondisi republik hari ini boleh dikatakan tidak terlalu baik. Bagi generasi muda, tugas masa depan menjadi kewajiban. Tidak saatnya lagi generasi muda berharap banyak kepada pemerintah. Karena, harapan besar itu sebenarnya ada dalam diri kaum muda; sebagai generasi bangsa yang senantiasa sadar kondisi negeri maupun peran dirinya yang mengemban amanah, serta menempatkan dirinya menjadi bagian atas solusi kondisi negara.

Melihat realitas kepemudaan saat ini, dalam diskursus perkaderan partai, paling tidak ada dua hal yang perlu dicermati. Pertama, selama ini, keberadaan kaum muda dalam organisasi kepemudaan yang berafiliasi pada partai politik, tidak banyak mendapatkan pemberdayaan dan pembinaan secara terstruktur dan sistematis. Sebab, keseriusan dalam menggarap anggotanya bersifat musiman dan cenderung pragmatis. Arus hiruk pikuk politik praktis partai induk menjadi gelombang yang kuat.

Pragmatisme politik yang dianut partai induk juga sangat mendominasi langgam gerakan organisasi. Maka kaum muda yang berada dalam organisasi itu tidak lebih sekadar mesiu yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk kepentingan partai induk. Sementara elite organisasi disibukkan dengan kasak-kusuk untuk meningkatkan bargaining position.

Kedua, terakomodasinya kaum muda dalam posisi-posisi penting partai atau Parlemen, tidak sekaligus juga berarti terakomodasinya semangat dan ciri kepemudaan mereka. Bahkan mereka pada akhirnya larut terbawa arus pragmatisme politik.

Oportunistis

Melihat dua paparan di atas, keberadaan kaum muda dalam partai politik sebenarnya menyimpang dalam koridor proses kaderisasi, melainkan lebih sebagai proses kooptasi. Partai dan para elitenya melihat kaum muda hanya sebagai instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan praktis jangka pendek. Partai maupun elite partai, dengan kekuatan senioritas maupun pendanaan mereka, akan sangat berpengaruh dalam memberikan tekanan, bila kaum muda mengambil sikap berseberangan.

Dalam situasi seperti itu, semangat kemudaan tidak berkembang dan tidak terekspresikan secara bebas. Yang berkembang justru sikap oportunis. Situasi kooptasi di tengah pragmatisme politik yang ditempuh partai, akan semakin menjauhkan kaum muda dari citra idealnya.

Pada konteks lebih luas, berkaitan dengan kepentingan demokratisasi bangsa, kondisi seperti itu sangat merugikan partai dan membawa dampak inefisien. Karena, partai politik justru menjadi tempat perkaderan pialang atau broker politik. Bahkan karena tingkat pendidikan yang lebih baik, ditambah pengalaman yang diasah sejak dini di partai politik, kaum muda tersebut lebih berkemungkinan menjadi pialang politik yang lebih licin dan licik dibanding para pendahulunya.

Kaum Muda Bernurani

Setiap pemuda harus merasakan dirinya sebagai bagian dari kader bangsa Indonesia. Jiwa dan semangat demikian itulah yang mesti menjadi kesadaran kolektif seluruh pemuda dalam melihat kondisi negara saat ini. Kesadaran inilah yang dapat membuat nilai plus bagi diri kader partai. Sebab, partai juga tidak pernah memaksakan anggotanya untuk berproses.

Kesadaran dan panggilan nurani atas kondisi bangsa yang karut-marut membuat seorang kader harus berproses dalam menggeluti realitas sosial di tengah masyarakat. Dengan begitu, perkaderan dimulai dari dalam diri sendiri. Sebab, siapa pun tidak dapat mengubah diri pribadi tanpa ada kemauan dan kesadaran pribadi yang bersangkutan.

Inilah yang tetap menjadi fondasi, dan harus dipahami ketika seseorang tertarik untuk bergabung dalam gerbong panjang peretas sejarah yang memperjuangkan suara hati nurani rakyat. Tanpa kesadaran seperti ini, partai tidak akan banyak memberikan apa pun untuk menjadikan karakter pemuda bangsa yang senantiasa rela bekerja untuk keunggulan bangsa.

Kadang kala, arus politik yang kuat melupakan esensi demokrasi dan fungsi partai dalam sistem demokrasi sebagai sarana pendidikan politik bagi anggotanya dan masyarakat luas dalam fungsi rekrutmen politik bagi kader bangsa. Sehingga kondisi bangsa hari ini adalah dampak kerancuan arah partai politik yang telanjur menjadi patologi sosial di masyarakat.

Hilangnya rasa saling percaya antara masyarakat dengan berbagai kelompok kekuasaan sosial politik, dan kecenderungan menggunakan kekuatan massa untuk memenangkan bargain politik bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah. Munculnya otoritarianisme populis dalam percaturan politik dan relasi-relasi kekuasaan semakin mempersulit proses pembangunan politik sebagai sistem.

Berkaitan dengan demokrasi sebagai nilai, terlihat para aktor politik ibarat hanya memenuhi sebuah undangan dalam suatu resepsi yang segala sesuatunya telah dipersiapkan, dan di sana ia hanya duduk patuh tanpa kritik. Potret patologi sosial ini tampak juga dalam kehidupan partai politik dan menjadi akar permasalahan hari ini.

Diskursus kaderisasi partai politik tampaknya belum mampu menjadi solusi. Boleh jadi, salah satu faktor penyebab terjadinya patologi sosial ini terjadi karena diskursus kaderisasi parpol tidak berjalan sesuai arah dan tujuannya, melainkan menyimpang dari suara hati nurani rakyat.

Recommended For You

About the Author: Roseno Hendratmojo

Praktisi psikologi yang juga pencinta alam. Lekat dengan program kaderisasi dan pemberdayaan rakyat membawanya larut ke masalah-masalah kebanyakan. Mentor kaum muda yang tekun dan bersemangat.