Berpacu dalam Politik

Dalam pandangan Sigmund Freud, manusia pada dasarnya antisosial. Hubungan manusia dengan manusia lain menurut Freud bersifat ekonomis dan memegang prinsip kepentingan diri sendiri. Apa yang dikerjakan setiap orang pada dasarnya untuk dirinya sendiri, dengan segala risiko yang ditanggung sendiri. Kendati antisosial manusia memerlukan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Menurutnya, kebutuhan manusia bersumber dari dorongan naluri dasar seksual dan agresif. Dorongan tersebut dalam aktualisasinya membentuk keinginan untuk menjadi terkenal (populer), menjadi orang penting, besar, dan berkuasa. Di mana tingkat popularitas, kebesaran, dan kepentingan sangat tergantung dengan suatu jabatan yang dimiliki.

Semakin tinggi jabatan dan kedudukan seseorang maka kebesaran, popularitas, dan kepentingannya semakin besar pula. Sebab menjadi penguasa berarti memiliki segala hal, dari mulai mendapat perlakuan yang khusus, fasilitas yang super lux, hak-hak istimewa, dan tentu saja membesarnya pundi-pundi keuangan. Karena itu kemudian orang berlomba-lomba untuk berpacu dalam politik (baca: kekuasaan).

Untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan manusia tersebut pasar merupakan jawabannya. Pasar merupakan tempat pertukaran untuk memenuhi dan pemuasan segala kebutuhan manusia. Dalam politik, pemilu merupakan “pasar” yang diperebutkan oleh kekuatan-kekuatan politik untuk menarik dan meraih suara rakyat. Oleh karena itu agar perputarannya tidak dimonopoli oleh kekuatan tertentu, maka diciptakan periode pasaran politik seperti Pilkada, Pilgub, Pilpres, dan Pildes. Di hari pasaran tersebut suara rakyat merupakan hal yang dicari oleh partai politik maupun calon. Akan tetapi bukan sebagai tujuan itu sendiri, melainkan dianggap sebagai barang komoditas yang “diperdagangkan” dan siap dibeli oleh calon maupun parpol dengan cara terang-terangan maupun lewat “pasar gelap”.

Merebut Suara
Untuk memperebutkan suara “di pasar politik” dalam era demokrasi liberal, hal yang jamak dilakukan oleh parpol maupun calon legislatif (caleg) dalam menghadapi momentum pemilu selalu menggunakan media massa seperti televisi, radio, surat kabar, dan majalah untuk mempromosikan partai maupun caleg yang bersangkutan. Mereka mencitrakan diri sebagai pribadi maupun pemimpin yang penuh dengan kearifan, sangat empati dan peduli, cerdas, bijak dan tahu selera rakyat, hingga sampai menggunakan istilah-istilah keagamaan untuk merebut suara rakyat. Iklannya tak jauh-jauh beda dalam mengiklankan sebuah produk kecap bahwa semua kecap pasti “nomor satu” yang tahu selera pembeli, yang berbeda hanyalah akibatnya yakni dalam perolehan suara atau dalam penjualan.

Dalam konteks ini partai-partai politik nyaris tak ada bedanya dengan perusahaan-perusahaan, dan politisi merupakan “barang jualan” dan sekaligus sebagai sales untuk menjual “barang-barang” mereka kepada masyarakat. Cara kerja mereka semakin hari semakin mirip dengan iklan yang terus menerus ditayangkan. Jika seorang politisi atau parpol (terutama yang baru) tidak memiliki “capacity dan capability” yang bisa ditawarkan ke publik, maka iklan bisa membantu memopulerkan. Lewat iklan, khususnya media televisi dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama akan mampu menarik perhatian publik.

Pengulangan yang dilakukan secara terus menerus dan besar-besaran oleh iklan di media massa akan membuat masyarakat pemilih “terkondisikan” oleh mesin-mesin pengondisian yang dikerjakan oleh kecanggihan dan kecerdasan para pembuat iklan. Dan hal tersebut akan mampu mempengaruhi khalayak luas secara serentak serta menghindari adanya sikap kritis masyarakat (Fromm, 1997). Sehingga iklan memang dirasa sangat efektif, sebab dalam tempo yang relatif singkat sang politisi mampu dikenal secara luas oleh masyarakat.

Pentingnya Popularitas
Pada saat urusan politik telah menjadi bagian dari iklan, maka masyarakat akan sukar untuk mengenalinya secara utuh para caleg maupun tokoh politik yang bersangkutan, sebab dunia iklan merupakan dunia yang penuh dengan artifisial. Dalam kondisi yang demikian maka pemilu merupakan “jimat” bagi mereka yang ingin meraih popularitas sekaligus mendayung kekuasaan. Karena itu seorang politisi harus pandai berakting dan bergaya di depan kamera untuk difoto layaknya foto model maupun berakting layaknya aktris atau aktor. Menjadi artis dan politisi pada “hakikatnya sama” yakni sama-sama populer, selalu disorot oleh publik, terkadang “membikin sensasi”, hingga tertimpa gosip yang tidak sedap.

Karena kedua profesi tersebut banyak kesamaan maka tak salah kalau terkadang mereka “saling hijrah”, yang artis menjadi politisi yang politisi menjadi artis. Maka jangan heran kalau syarat tak tertulis menjadi presiden salah satu yang dikompromikan sebagai “konsensus” yakni bisa berakting dan bernyanyi, kalau keduanya tidak dikuasai akan sulit untuk meraih suara khususnya dari kaum muda. Berakting dan bernyanyi telah menjadi bagian dari keberhasilan atau “capaian politik” dari sang politisi, tidak hanya di tingkat pusat akan tetapi gejala ini telah menembus ke daerah-daerah.

Karena itu manuver politik, retorika politik, bermain pernyataan, mengeluarkan statement politik merupakan suatu hal sangat digemari oleh politisi dan setiap politisi tengah berlomba-lomba menuju ke sana. Siapa yang cepat dan tetap memanfaatkan situasi akan menjadi “pemenang” karena hal tersebut merupakan bagian dari “berakting” untuk meningkatkan popularitas maupun daya tawar, baik kepada pemerintah yang berkuasa, lawan politik, maupun untuk menarik simpatik dan perhatian publik.

Penutup
Dengan merujuk pendapat Freud tersebut maka politisi yang hanya mengejar popularitas, kekuasaan, dan tentu saja kekayaan merupakan sindrom dari seseorang yang tengah menderita neurosa. Masalah kehangatan hubungan dengan pemilih tak perlu dipikirkan, komitmen terhadap doktrin-doktrin demokrasi hanyalah sebuah kamuflase belaka. Sebab seperti kata Frued, setiap orang bekerja untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain, pemilih (voters), rakyat maupun bangsanya. Sedangkan demokrasi hanyalah “jubah” untuk memberi harapan pada rakyat yang setiap menjelang pemilu selalu dimunculkan dan dipompa.

Recommended For You

About the Author: Djoko Respati

Aktif di ISKRA (Institute Sosial Kerakyatan)