Puasa, Memerdekakan Diri dan Bangsa

Beberapa hari lagi umat Islam di seluruh dunia akan menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Di mana dalam bulan suci tersebut umat Islam (orang-orang yang beriman) diperintahkan untuk menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Kata “puasa” merupakan istilah keseharian sebagai terjemahan dari kata shawm atau shiyam yang memiliki makna menahan diri. Ini berarti ibadah puasa merupakan ibadah untuk melatih menahan diri, sebab kelemahan utama manusia ialah ketidaksanggupannya untuk menahan diri. Hal ini digambarkan dalam kitab suci mengenai kisah Adam dan istrinya yang tinggal di surga bebas memakan apa saja, kecuali hanya satu pohon (kuldi) yang tidak boleh didekati (QS Al Baqarah/ 2:35). Namun karena tidak menaati perjanjian tersebut (tidak ada kemauan yang kuat), maka Adam dan istrinya lupa (QS 20:115), sehingga turun dari surga (QS 20:123). Kisah Adam dan hawa tersebut memperlihatkan dengan jelas kelemahan manusia akan ketidakmampuannya menahan diri sehingga muncul dorongan keserakahan.

Demikian pula apa yang menimpa pada sebagian politisi atau pemimpin kita, sudah mendapat gaji besar, menikmati berbagai fasilitas yang super lux, berbagai tunjangan diperoleh, namun masih tetap merasa kurang. Akhirnya yang terjadi mereka tidak sanggup untuk menahan diri dari dorongan untuk korupsi, menerima suap, sogok, dan berbagai bentuk korupsi lainnya, sehingga jatuh dengan tidak hormat. Ketidakmampuan menahan diri atau kebebasan yang semaunya tersebut justru telah menganiaya diri sendiri (zalim). Sehingga jika itu dilakukan oleh para pemimpin tentunya tidak hanya dirinya saja yang dianiaya, akan tetapi berefek domino bagi seluruh rakyat dan bangsanya.

Kalau kita mengkaji sejarah hampir semua malapetaka di bumi ini lantaran ketidakmampuan manusia untuk menahan diri sehingga timbul dorongan untuk serakah. Sejarah kolonialisme dan imperialisme, perang dunia I dan II, lahirnya para penguasa diktator, banjir, tanah longsor, dan berbagai bentuk bencana alam lainnya terjadi lantaran adanya sekelompok manusia yang serakah terhadap harta benda dan kekuasaan. Dalam kitab suci hal ini selalu diperingatkan, misalnya dalam kisah Firaun, kisah Abu Lahab, dan berbagai kisah lainnya. Namun sayang kitab suci tersebut jarang dibaca padahal diperintahkan untuk senantiasa dibaca, kalau dibaca paling banter hanya dijadikan “mantra-mantra” tanpa mau mengerti makna atau pesan yang disampaikan, sehingga manusia sering kali masuk lubang yang sama dan berulang-ulang.

Oleh karena itu agar manusia mampu menahan dirinya, kitab suci memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berpuasa (QS Al Baqarah/ 2:183). Agar kesanggupan untuk menahan diri hadir dalam kehidupan maka perlu dilatih, dan pada bulan Ramadan hal tersebut dijadikan momentum untuk melatih diri. Orang yang mampu menahan diri pada dasarnya telah melakukan “jihad besar”, yakni “perang” dalam diri untuk melawan egoisme, mengendalikan naluri-naluri dan hawa nafsu, dan menyediakan tempat bagi rahmat dan kehendak Ilahi. Jihad untuk melawan diri sendiri dari kecenderungan diri untuk mengikuti hawa nafsu yang menarik manusia jauh dari pusat kemanusiaannya, mendorong manusia untuk menciptakan berhala-berhala baru baik yang berupa kekuasaan, kekayaan, pemikiran, maupun ambisi pribadi lainnya.

Dalam sebuah hadis Abu Hurairah dikatakan, “Tiap-tiap amalan anak Adam ialah untuknya kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan memberi pahalanya.” (HR Bukhari & Muslim). Hadis tersebut memberikan informasi bahwa ibadah puasa hanyalah untuk Tuhan semata. Hal ini berbeda dengan ibadah infak atau sedekah, maka orang yang melakukan akan disebut sebagai dermawan, hal yang sama apabila melakukan ibadah haji, orang yang melakukan ibadah haji akan dipanggil dengan istilah “Pak Haji” atau “Bu Hajah”, akan tetapi tidak demikian dengan puasa tak ada sebutan untuknya.

Dalam puasa orang yang mengetahui hanyalah dirinya dan Allah saja, bisa saja di luar kelihatan puasa setelah masuk kamar makan. Namun karena keimanan meskipun tidak ada yang melihatnya tetap melakukan ibadah puasa lantaran Allah senantiasa melihat, menyertai, dan mengawasinya, sehingga sekecil apapun tak mau melanggar perintah-Nya (taat asas dan hukum). Hal ini akan memberikan dorongan bahwa di manapun dan kapan pun Allah akan senantiasa hadir dalam hidup dan kehidupan ini. Kesadaran adanya Allah inilah yang akan memotivasi seluruh gerak langkah yang dilakukan dalam hidup ini. Sebaliknya karena Allah pulalah kita berani untuk berkata tidak, menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak melakukan hubungan seks dari terbit fajar sampai tenggelamnya sang surya.

Kesadaran diri untuk menahan dari keinginan dan kesenangan yang dikehendaki oleh nafsu kendati mampu melakukannya merupakan bentuk kekuatan iradah. Sehingga orang berpuasa bebas dari pengabdian terhadap makan minum, seks, maupun kebiasaan hidup yang tak bermanfaat. Hal inilah yang merupakan kemerdekaan yang sebenarnya, tidak diperbudak oleh kekayaan (harta benda) sehingga melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tidak diperbudak oleh kekuasaan sehingga melakukan money politic, sewenang-wenang, dan antikritik (oposisi), tidak diperbudak oleh ambisi-ambisi pribadi sehingga harus mengorbankan sesama.

Implikasi
Dengan demikian bulan Ramadan merupakan instrumen untuk melatih dan membiasakan diri menahan diri, mengalahkan kehendak nafsunya. Sehingga ketika terjun menjalankan peran kemasyarakatan, berbangsa, dan bernegara yang sudah tentu akan memberi peluang yang cukup besar dan mudah bagi dirinya untuk memenuhi keinginan-keinginannya namun tidak dilakukannya. Tidak silau dengan kekayaan, tidak silau dengan kesinaran sang tokoh, tidak mudah terkena bujuk rayu kekuasaan, karena mampu menahan diri mengalahkan nafsunya dan hanya memusatkan pada kehendak Ilahi.

Para pejuang kemerdekaan, pimpinan pergerakan, dan para pendiri bangsa merupakan pemimpin yang telah mampu memerdekakan dirinya dari keinginan menang sendiri (egois), tergiur harta benda yang ditawarkan VOC (pihak asing), iming-iming kekuasaan dari pemerintah kolonial, dan sebagainya. Bisa dibayangkan kalau para pemimpin pada waktu itu tidak bisa menahan diri saling berebut untuk menandatangani teks proklamasi dan berebut ingin jadi presiden? Sudah dapat dipastikan kemerdekaan bangsa Indonesia tak akan terjadi, namun mereka semua mampu menahan diri, tujuan luhur bagi semua haruslah dikedepankan daripada tujuan pribadi maupun kelompok.

Hal ini berarti para pemimpin tempo dulu telah memiliki kesadaran ketuhanan tinggi sehingga melahirkan keindonesiaan yang dirahmati oleh-Nya. Sehingga kesadaran ketuhanan itu dijadikan sila pertama yang menjiwai seluruh sila-sila berikutnya. Sebab hanya dengan kemerdekaanlah kita akan dapat melaksanakan kehendak Tuhan, dan hanya melaksanakan kehendak Tuhan kemerdekaan itu akan diraih.

Namun sayang setelah merdeka para pemimpin kita belum mampu menahan diri dan memerdekakan dirinya. Sudah mendapat gaji yang besar dan berbagai fasilitas masih juga merasa kurang sehingga tidak mampu menahan diri untuk korupsi, menerima suap, sogok, dan bentuk-bentuk korupsi lainnya.

Hal inilah yang kemudian menjadikan bangsa ini masih dalam kemiskinan dan ketertinggalan, sehingga wajar kalau negeri ini “masih dijajah” kendati diperhalus dengan istilah “ketergantungan”. Dengan demikian wajar kalau dalam usia ke-66 tahun bangsa ini belum merdeka dalam hal ekonomi, budaya, dan sebagainya karena para pemimpin bangsa ini belum mampu memerdekakan dirinya.

Oleh karena momentum Ramadan hendaknya jadikan introspeksi bagi semuanya untuk benar-benar serius memerdekakan diri dan membangun mental “puasa”, yang pada gilirannya akan mampu memerdekakan bangsa dari segala bentuk penjajahan. Apalagi bulan Ramadan saat ini bertepatan dengan bulan Agustus, dan peristiwa 17 Agustus 66 tahun yang lalu juga terjadi pada tanggal 17 Ramadan, sehingga hal ini menjadi momen spesial bagi para pemimpin untuk berintrospeksi diri.

Recommended For You

About the Author: Djoko Respati

Aktif di ISKRA (Institute Sosial Kerakyatan)