Ideologi Kapitalisme Rasuki Para Kepala Daerah

Menunggu bola, menjemput bola, atau menciptakan bola? Silakan pilih mana strategi yang ingin dipakai jika Anda diibaratkan sebagai seorang pedagang yang memiliki modal besar, punya jiwa dagang yang ulet dan kreatif, sedangkan bola tersebut diibaratkan sebagai konsumen?

Nah, jika Anda memilih opsi strategi yang terakhir yaitu “menciptakan bola” maka selamat Anda secara tak sadar telah masuk ke ranah prinsip dagang ideologi kapitalisme.

Ya, ini memang strategi dagang baru yang diciptakan oleh para produsen pasar yang bermadzab kapitalisme. Mereka tak perlu menunggu atau menjemput para konsumen untuk datang ke produsen, tetapi para produsen kapitalis ini dengan sangat kreatif menciptakan konsumennya sendiri. Nilai esensi kebutuhan atau nilai prestise (gengsi) akan kepemilikan suatu barang dikaburkan, gairah konsumerisme masyarakat dikaburkan, sehingga tercipta istilah “shopping till die” (belanja sampai mati) yang merupakan gol utama dari ideologi kapitalisme.

Siapa yang tidak kenal BlackBerry? Dulu sebelum teknologi seluler canggih ini tercipta, apakah ada yang menginginkan atau membutuhkannya? Sekarang siapa yang tidak ingin dimanjakan oleh berbagai fasilitas dan fitur-fitur canggih di dalamnya. Nah, ini merupakan salah satu contoh bahwa pelaku dagang (kapitalis) telah sukses menciptakan konsumennya. Apakah Anda juga termasuk korbannya?

Menurut Louis Tyson, ideologi yang sukses dan membumi ialah yang bukan disebut ideologi, melainkan proses berpikir secara natural. Jadi secara natural pula, Anda telah terasuki ideologi kapitalisme dalam cara berpikir dan bertindak seperti simulasi di atas. Tapi, jangan terlalu khawatir yang menderita sindrom kapitalisme secara tak sadar atau tak langsung pun tidak hanya Anda yang mungkin hanya pedagang kecil, tukang sayur, mahasiswa, atau bahkan tukang becak. Para pemimpin-pemimpin lokal di sekitar Anda pun yang bertitel Letnan Jenderal atau bahkan insinyur sekalipun bisa terjangkit ideologi ini. Ya, sebut saja Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah, yang belakangan menggegerkan Kota Solo karena rencana proyek pembangunan mal di lokasi bekas Pabrik Es Saripetojo yang direkomendasikan sebagai cagar budaya Solo.

Kemudian ada Peni Suparto, Walikota Malang yang terkenal murah senyum ini, juga menggegerkan warga Malang dengan kebijakan pembukaan besar-besaran ruko di Malang yang jumlahnya ratusan. Dan yang paling fenomenal di antaranya adalah “Ruko Serbu” (Ruko Serba Lima Ribu) yang otomatis menggeser peran dan mempersempit ruang gerak PKL di Kota Apel itu.

Dengan memanfaatkan simbol-simbol kendaraan seperti modernitas, globalisasi, kemutakhiran teknologi, serta percepatan di berbagai segmen kehidupan, maka sah-sah saja ideologi kapitalisme membutakan dan menyetir kebijakan para elite pimpinan ini. Dengan enteng dan secara natural, bahkan mereka akan mengatakan, “Ini untuk pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing global.” Dengan alibi yang nakal itu, pemimpin yang sudah tercemari ideologi ini akan dengan mudah mengorbankan kepentingan-kepentingan rakyatnya. Dengan terusirnya para pedagang kecil sekelas PKL di fenomena Ruko Serbu, penggusuran tempat tinggal masyarakat, dan yang terbaru adalah perobohan tempat yang digadang-gadang memiliki nilai historis yang tinggi dan sangat layak untuk dijadikan cagar budaya Kota Solo yaitu bangunan bekas Pabrik Es Saripetojo.

Indikasi ideologi kapitalisme untuk mempengaruhi pemikiran bawah sadar para elite pimpinan di tataran birokrasi sangatlah mendukung. Sistem ekonomi, pendidikan, dan budaya konsumerisme masyarakat Indonesia merupakan modal utama untuk menanamkan ideologi kapitalisme dalam proses berpikir natural rakyat Indonesia, terutama para pemimpinnya secara tidak langsung. Peni Suparto dengan kebijakannya melegalkan pembangunan puluhan mal, ratusan ruko, dan yang paling fenomenal adalah “Ruko Serbu” di Kota Malang membuktikan secara tersirat bahwa beliau yang terhormat telah mengidap sindrom ideologi kapitalisme dalam konstruksi berpikirnya, sehingga mengaplikasikannya dalam kebijakan-kebijakan tersebut.

Lantas dengan dibangunnya Ruko Serbu yang tepat berlokasi di pusat keramaian dan dekat dengan hunian masyarakat adalah ciri dari komoditas kapitalis yang membangun komoditi pasarnya tepat di pusat keramaian sehingga akan sangat mempengaruhi proses kehidupan masyarakat, dan lama kelamaan akan membentuk belief system (sistem kepercayaan) dan cultural conditioning (pembentukan budaya) di lokasi sekitar pendirian ruko tersebut (Louis Tyson).

Modal Pendukung

Perencanaan kontroversial pembangunan mal di area bekas pabrik es yang direkomendasikan sebagai cagar budaya Saripetojo Solo oleh Gubernur Jawa Tengah agaknya tidak jauh berbeda motifnya dengan pembukaan Ruko Serbu, meskipun dengan skala komoditi pasar yang agak berbeda, tetapi jika ditilik dari segi letak geografisnya, yang sama-sama berlokasi di pusat keramaian, padat hunian, maka kita bisa menyimpulkan motif ideologi di balik agenda besar pendirian pusat-pusat perbelanjaan tersebut.

Menurut Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, M Andhy Nurmansyah, selain efek samping yang ditimbulkan dari dibangunnya pusat-pusat perbelanjaan di tempat-tempat padat hunian tersebut, yaitu adanya faktor atau modal pendukung yang lain dalam menyemarakkan tumbuh suburnya praktik ideologi kapitalisme. Di antaranya adalah modal sosial (berupa interaksi sosial dan homogenisasi nilai rasa), modal budaya atau kultural (modernitas dan percepatan kebaruan), modal simbolik (dapat berupa nilai prestise/gengsi), dan tentu tidak ketinggalan pula modal ekonomi yang berupa glorifikasi harga serba Rp 5.000 dalam kasus Ruko Serbu di Kota Malang. Dari elemen- elemen modal itu maka akan bermuara pada satu habitus (kebiasaan) yaitu kegairahan untuk bertindak konsumtif.

Dalam dua kasus ini “Ruko Serbu dan Saripetojo”, kita dapat dengan mudah dan sah-sah saja berargumen dan menyimpulkan bahwa dua tokoh sentral di Jawa Tengah dan Jawa Timur ini memiliki konstruksi gaya berpikir kapitalisme dalam model kepemimpinan mereka. (*)

Recommended For You

About the Author: Kurnia Widi Tetuko