Karakter Kader Pemimpin

Dekade terakhir setelah reformasi berjalan, pasca-kepemimpinan rezim Orde Lama dan Orde Baru, generasi pemuda belum pula meyemarakkan kepemimpinan nasional.

Elite Parpol yang menjalankan penerintahan di Era Reformasi sudah melalui empat kali Pemilu tapi belum pula menampakkan semangat kaderisasi kepemimpinan nasional kepada kalangan muda. Segera setelah reformasi berhasil, yang ditandai dengan akhir dari kepemimpinan Soeharto, pemuda kembali kepada komunitas mereka masing-masing.

Mahasiswa kembali ke kampus. Ormas dan organ-organ kepemudaan kembali ke internal organisasi. Hanya segelintir di antara pemuda penggerak reformasi yang turut berpartisipasi dalam pemerintahan, baik di legislatif maupun eksekutif. Itu pun melalui jalur Parpol.

Satu hal yang perlu kita tinjau kembali adalah adanya gejala pemanfaatan elite politik untuk berkuasa, menggantikan rezim sebelumnya, di atas kerja keras pemuda pada awal reformasi sepuluh tahun yang lalu.

Namun, hal lain yang perlu juga untuk dicermati, adalah masih kurangnya pemuda sebagai iron stock yang mampu mengemban tugas kenegaraan. Sering kali pemuda hanya cukup dibekali dengan idealisme dan ilmu yang mungkin tak seberapa, sementara sangat kurang dalam pengalaman dan jaringan.

Sudah empat kali kepemimpinan presiden, dan empat periode parlemen disuksesi oleh sebagian elite politik lama, dan sebagiannya lagi elite politik baru. Pada Pemilu terakhir, tampaknya elite politik hanya berpindah dari satu Parpol ke Parpol lain.

Kaderisasi Negarawan

Kondisi seperti ini tidak akan dapat menyelesaikan krisis kepemimpinan di Indonesia. Kaderisasi kepemimpinan hari ini belum dapat dikatakan berhasil, karena karakter pemimpin masih dirasa sangat lemah dan tidak mampu mengapresiasi jiwa bangsa.

Pemimpin yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara Indonesia adalah pemimpin dengan spirit negarawan, dan berhati nurani; bukan sekadar pemimpin politik yang berorientasi kekuasaan dan kepentingan pragmatis.

Pemimpin negarawan diharapkan mampu visioner, bersikap tegas dalam melawan dominasi-dominasi asing sehingga mampu membebaskan rakyat Indonesia dari krisis multidimensi. Kenyataannya, pasca-reformasi, belum ada bukti mengenai hadirnya pemimpin negarawan yang berkarakter di negeri ini.

Sulitnya mengharapkan hadirnya kader-kader yang berkarakter negarawan seperti Era Revolusi Kemerdekaan seolah menjadikan patologi kebangsaan dan kenegaraan. Golongan tua yang sekarang ada sudah telanjur terlibat dalam sistem negara yang telanjur korup dan pragmatis. Meski demikian, bukan berarti kondisi hari ini sepenuhnya dapat terjawab oleh golongan muda yang sebagian besar belum berkarakter altruistis.

Meneropong lagi peran pemuda pada tahun 1928 dan 1945, di mana pemuda dapat membuktikan kepemimpinan negarawan. Ke depan, bangsa ini pun masih membutuhkan peran pemuda sebagai pemimpin negarawan.

Dengan idealisme, semangat, dan ilmu yang menjadi karakter pemuda, maka tidak mustahil misi kepemimpinan negawaran justru diemban oleh pemuda waktu itu. Walaupun ketiga hal tersebut masih harus dilengkapi oleh aspek lainnya, seperti pengalaman dan jaringan.

Oleh karenanya, dibutuhkan dukungan dari kalangan tua berupa kesempatan beraktualisasi diri sebagai kaderisasi kepemimpinan nasional.

Pendidikan Kader

Menanti pemuda sebagai pemimpin negarawan di Indonesia tentu saja membutuhkan persiapan matang yang melibatkan beberapa aspek mendasar. Pertama, pendidikan kepemimpinan formal maupun informal, melalui kampus-kampus, serta organ pergerakan mahasiswa seperti HMI, PMII, GMNI, IMM, KAMMI.

Tempat-tempat tersebut menjadi kawah candradimuka bagi kaderisasi kepemimpinan nasional negeri ini, yang perlu mendapat perhatian kaum tua. Pendidikan kepemimpinan yang ada dalam organisasi pergerakan dan kepemudaan diharapkan dapat membekali pemuda dengan konsep, teori, dan pengetahuan kepemimpinan.

Kedua, pendidikan politik, kaderisasi, dan jejaring. Parpol memiliki kapasitas dalam ketiga hal tersebut, oleh karenanya seharusnya Parpol berperan aktif dalam melakukan diskursus-diskursus politik dan rekrutmen kader bagi pemuda dalam upaya melahirkan pemimpin negarawan dari kalangan muda.

Ketiga, merevitalisasi pergerakan pemuda melalui kampus, ormas, maupun organisasi kemasyarakatan pemuda yang berbasis kultural. Seharusnya pergerakan pemuda bukan hanya marak pada masa-masa darurat kenegaraan, dan terombang ambing oleh pragmatisme politik.

Dinamika pergerakan pemuda dalam menjawab tantangan negeri ini harus konsisten dan kontinu berlandas pada nurani rakyat. Sehingga gerakan pemuda tidak sekadar menjadi gerakan bersifat reaktif, namun proaktif terhadap kondisi rakyat dan negara.

Karakter kader pergerakan pemuda bukan hanya tenggelam dalam romantika politik praktis dan terkesan elite yang jauh dari konstituen, namun membutuhkan prakarsa pemuda berpandangan visioner dan berani bersikap.

Sudah saatnya kepemimpinan negarawan diisi oleh pemuda. Elemen yang sudah mengantarkan rakyat Indonesia dalam berbagai perubahan kabangsaan dan kenegaraan. Dalam praktiknya ke depan, khususnya pada periode pemerintahan yang akan dimulai pada tahun 2014, diharapkan Parlemen dipenuhi wajah-wajah baru, sehingga pemuda lebih berperan aktif dalam misi kenegaraan.

Tentu saja peran ini bukan untuk sekadar kekuasaan, melainkan misi kepemimpinan negarawan menuju demokrasi yang berhati nurani.

Recommended For You

About the Author: Roseno Hendratmojo

Praktisi psikologi yang juga pencinta alam. Lekat dengan program kaderisasi dan pemberdayaan rakyat membawanya larut ke masalah-masalah kebanyakan. Mentor kaum muda yang tekun dan bersemangat.