Kuba, Che, dan Kesehatan Murah

Kuba, sebuah negara miskin Dunia Ketiga, sejak lama dikenal dengan sistem layanan kesehatan terbaik dan termurah di dunia. Negeri Halaman Belakang AS itu dikenal aktif ‘mengekspor’ dokter ke berbagai belahan dunia dalam rangka misi kemanusiaan dan solidaritas.

Beberapa tahun lalu, masyarakat korban gempa di Klaten sempat mengadakan doa bersama demi kesehatan Presiden Kuba, Fidel Castro. Acara tersebut dilangsungkan sebagai acara perpisahan masyarakat setempat dengan paramedis Kuba yang telah bertugas menolong ribuan korban gempa selama lebih dari 3 bulan di sana. Ada apa dengan Kuba?

Seperti diketahui, mungkin saja citra tersebut tidak terbangun jika seorang dokter tidak ikut memimpin revolusi di Kuba pada 1959 silam. Ia adalah Ernesto ‘Che’ Guevara. Selama ini ia lebih terkenal sebagai geriliawan atau pejuang bersenjata. Namun, perlu diingat bahwa ia juga seorang dokter, yang kontribusinya perlu mendapat perhatian lebih, dalam meletakkan dasar sistem pelayanan kesehatan di Kuba. On Revolutionary Medicine, salah satu pidato Che dianggap menjadi dasar filosofis sistem kesehatan sosialis Kuba.

Berdasarkan prinsip-prinsip itu, Pemerintah Kuba membangun sistem layanan kesehatannya. Dalam konteks saat ini, menurut George Junus Aditjondro, ada tiga prinsip yang masih relevan. Pertama, masyarakat yang demokratis memerlukan masyarakat yang sehat dan terdidik. Dengan demikian, urusan kesehatan bukan hanya urusan praktisi kesehatan seperti dokter, paramedis, laboran, dan apoteker; tapi juga urusan semua penentu alokasi anggaran maupun tunjangan kesehatan.

Kedua, sejak diratifikasi melalui UU No. 11/2005, pemerintah dan rakyat Indonesia wajib mengusahakan segala cara agar hak-hak Ekososob yang digariskan dalam Kovenan Internasional 1966 dapat diwujudkan. Keempat, makin demokratis sebuah negara, makin besar kemungkinan negara itu memperhatikan kesehatan warganya.

Dokter Keluarga

Pada masa sebelum revolusi, hanya ada seorang dokter untuk 1051 orang penduduk di Kuba. Maka ketika Kuba menjalankan program Medicina General Integral (Kesehatan Umum Menyeluruh), sebuah tim yang terdiri dari seorang dokter dan seorang perawat melayani 120-150 keluarga di setiap kelurahan. Tim medis kecil inilah yang secara teratur mengunjungi semua keluarga, dengan memadukan pengobatan, pengumpulan statistik kesehatan, pengobatan alternatif, dan pendidikan kesehatan bagi semua warga.

Kerja tim-tim kesehatan keluarga ini juga didukung dengan pembangunan poliklinik, yang dilengkapi spesialis medis dan laboratorium. Setiap poliklinik dibangun untuk melayani 20-40 ribu orang warga. Pelayanan kesehatan jasmani itu kemudian dibarengi dengan pelayanan kesehatan mental. Pun hingga saat ini Kuba telah memiliki seribu orang psikiater yang 200 orang di antaranya ialah ahli psikiatri anak-anak. Mereka memadukan terapi emosional dan sosial.

Sejalan dengan pikiran di atas, di Indonesia konsep mengenai Dokter Keluarga yang bekerja dalam sistem kesehatan sekunder demi menciptakan kesehatan murah pernah diungkap beberapa waktu lalu oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Dokter keluarga ialah dokter yang bertugas mengelola kesehatan suatu wilayah tertentu, dengan sistem pembiayaan yang sudah disepakati. Ia diberi wewenang untuk memelihara kesehatan suatu wilayah dengan ditopang sistem pembiayaan yang dibuat agar tidak membebani warga.

Menurut IDI, dokter itu dibayar di depan untuk memelihara kesehatan masyarakat di wilayahnya masing-masing. Maka kalau di wilayahnya itu banyak warga yang sakit, praktis anggaran itu akan habis dan secara finansial dokter itu akan rugi. Sebab, anggaran yang diberikan padanya digunakan untuk pengobatan pasien. Lain halnya ketika para dokter keluarga ini melakukan sistem preventif yang baik sebagai prioritas program kesehatannya. Meraka terus bekerja keras agar masyarakat mau menjaga kesehatan sehingga jumlah orang sakit bisa ditekan.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Bicara program kesehatan bukan hanya pada pengobatan, akan tetapi yang lebih penting adalah soal pencegahan. Mengubah kesehatan menjadi tidak mahal bisa dimulai dengan mengubah paradigma masyarakat akan pentingnya pencegahan sedini mungkin terhadap gangguan kesehatan. Jika selama ini masyarakat mendatangi dokter ketika sakit, maka cara pandang ini perlu diubah. Sebelum sakit pun masyarakat tetap bisa mendatangi bahkan didatangi oleh dokter yang bertugas di wilayahnya.

Layanan dokter keluarga yang amat berperan dalam menunjang peningkatan taraf kesehatan masyarakat Kuba tersedia di setiap pemukiman kampung atau rumah susun dengan didukung oleh dokter dan perawat yang bertugas melakukan penyuluhan kesehatan, pencegahan penyakit serta pemeliharaan lingkungan. Penyediaan air bersih dan listrik amat membantu penyehatan lingkungan. Dokter keluarga bahkan berkunjung ke rumah atau kamar rumah susun untuk menyaksikan kebersihan lingkungan. Meski rumah susun di Kuba hampir serupa dengan rumah susun di Jakarta, tapi kebersihannya terjaga baik. Layanan kesehatan keluarga ini dapat dinikmati masyarakat secara gratis. Selain memang benar taraf pendidikan masyarakat Kuba yang tinggi amat mendukung kebiasaan hidup sehat.

Pengalaman Kuba ini menunjukkan perlunya sebuah sistem ‘baru’ untuk mengikis sistem kesehatan dan kedokteran Indonesia yang sudah sedemikian kapitalistis dan komersil. Ialah sistem demokrasi ‘lain’ yang lebih memberikan perhatian pada hak-hak Ekosob para warga miskin, khususnya hak atas kesehatan, ketimbang sistem demokrasi liberal. Kiranya, partai politik di Indonesia perlu berguru sistem pelayanan kesehatan dan kedokteran yang baik dan murah kepada Kuba.

Recommended For You

About the Author: Budi Gunawan Sutomo

1 Comment

Comments are closed.