Modernitas dan Perempuan dalam Dunia Politik

Seluruh ruang dan waktu terserap menjadi sumber daya yang dibentuk untuk dieksploitasi. Pada akhirnya, orang akan mencari kepuasan melalui perilaku konsumsi. Orang bekerja untuk berbelanja dan berbelanja untuk bekerja. Tidak heran, seorang mahasiswa atau pegawai lebih tidak bersemangat di ruang kuliah atau di kantor, tapi mereka bergairah di lantai diskotek atau pusat perbelanjaan.

Citra-citra modernitas yang dijadikan sebagai pembungkus nilai-nilai sosial dalam segala bidang kehidupan diberikan ruang begitu dominan. Hal yang terjadi kemudian adalah terasingnya masyarakat dari substansi nilai yang ingin disampaikan, karena telah tertutupi oleh dominasi citra modernitas. Munculnya praktik pengajian di hotel, di pasar, di televisi, radio, dan majalah pada satu sisi adalah perwujudan dari citra-citra modernitas.

Perempuan; Gaya Hidup
Diskursus tentang perempuan selalu berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban dalam perputaran dunia yang semakin menua. Perempuan dalam proses dialektika per­adaban, baik sebagai objek maupun subjek dari proses tersebut, memiliki sensualitas tersendiri yang mampu menggiring arah diskursus pada satu titik imajiner, spekulatif, dan heterogenisasi makna, di mana sengaja diciptakan untuk perempuan.

Masyarakat pada umumnya dan terutama perempuan akan terdekonstruksi secara sosial untuk mengelilingi diri mereka dengan barang-barang mewah untuk memenuhi segala bentuk hasrat mereka. Dengan dikelilingi oleh belantara benda-benda maka mereka cenderung mengisolasi dirinya dari orang lain.

Sikap yang kemudian berkembang adalah sikap hedonisme dan pragmatisme, yaitu sikap yang memprioritaskan kesenangan dan kenyamanan diri sendiri tanpa perlu pemahaman mengenai tujuan sosial dan tujuan hidup bersama dengan orang lain secara sosial.

Partisipasi Politik
Sepanjang tahun 2000 sampai dengan 2001, diskursus mengenai perempuan, hukum dan politik menjadi isu yang santer dibicarakan, terutama karena munculnya kecenderungan kuat dari kalangan poros tengah, yang notabene merupakan “perwakilan umat Islam” untuk mengangkat perempuan sebagai presiden RI kelima dan juga sebagai respons dari hangatnya ramalan suksesi yang kian memanas pada saat itu.

Namun persoalan menarik tentang perempuan bukan hanya dimunculkan oleh umat Islam, tetapi lebih pada persoalan sejauh mana perempuan mampu mengartikulasikan dirinya dalam partai politik secara maksimal? Pertanyaan ini tentu saja menjadi penting mengingat ruang-ruang bagi perempuan di dunia politik telah terbuka secara bebas, namun partisipasi para perempuan masih kalah dibandingkan dominasi laki-laki.

Salah satu diskursus yang dapat disaksikan kenapa perempuan masih “sepi” dalam kancah politik disebabkan karena arus besar dari gaya hidup pragmatis didiami perempuan. Gaya hidup pragmatis “perempuan modern” yang dilahirkan modernitas yang mengakibatkan apa yang dikatakan Paulo Freire mengakibatkan berkembangnya kesadaran magis (mati rasa akan realitas sosial) pada diri manusia, termasuk kesadaran akan partisipasi politik yang proaktif, fungsional, dan kritis.

Tidak bisa dipungkiri kalau ada beberapa gelintir perempuan yang cukup cemerlang dalam dunia politik, tapi keberadaan mereka justru hanya menjadi pemanis (para artis dari kalangan perempuan) dan ikut arus dalam budaya korup, kita bisa lihat kasus yang sedang membelit Andi Nurpati.

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.