Nasionalisme Ala Kang Parjo

Benarkah bangsa ini kini sedang dirundung masalah soal semangat nasionalisme di tengah multi dimensi yang melanda akhir-akhir ini? Kata sebagian orang dan pengamat dijawab benar. Buktinya, banyaknya “pertengkaran” elite politik gara-gara kursi dan lunturnya berbagai budaya dan etika kesantunan bermain politik yang sehat sesuai adat ketimuran. Tidak hanya itu, pengamat tadi juga bilang, tak hanya anak-anak muda yang tidak hafal dengan lagu kebangsaan berikut penciptanya, tapi juga para pejabat negeri ini.

Sebagian lainnya menilai begitu krisisnya nasionalisme menyebabkan sejumlah persoalan bangsa tergagap-gagap untuk diselesaikan. Persoalan bangsa ini kian hari juga kian rumit. Kata beberapa akademisi, penyebabnya adalah karena tatanan konsep kebangsaan yang mulai goyah dan lemahnya konsep wawasan kebangsaan di tengah derasnya arus modernisasi yang menghujam.

Cerita lain ditunjukkan Kang Parjo, pengayuh becak, yang juga tidak paham definisi nasionalisme. Ia hanya tahu, nasionalisme itu ya rukun dan bersatu. Itu saja. Ada lagi pemikir yang mengatakan, nasionalisme adalah sebuah ideologi yang meletakkan dasar-dasar nilai-nilai kebangsaan. Menariknya lagi, nasioalisme dapat membuat kita melangkah lebih jauh ke depan untuk mempertinggi derajat bangsa. Sasaran nasionalisme berupaya meningkatkan otonomi nasional, kesatuan nasional, dan identitas nasional.

Berbeda juga nasionalisme yang ditunjukkan para pemain Timnas Garuda saat berlaga di Piala AFF Suzuki 2010. Meski belum menjadi juara, tapi semangat tempur mereka di lapangan hijau patut diacungi jempol. Masih teringat jelas di Gelora Bung Karno, Jakarta, bagaimana seluruh eleman bangsa, baik tokoh, dosen, pejabat, artis, abang becak, tumplek blek di stadion itu. Tak kalah menariknya, jutaan mata pemirsa memelototi TV hanya satu untuk menyemangati Timnas Indonesia. Demam sepakbola akhirnya bergema di mana-mana, garuda di dadaku juga kian menggelora. Kaos-kaos kebesaran Timnas ada di mana-mana, di pinggir jalan pelosok desa dan kota di tanah air. Menariknya, warga Indonesia yang berada nun jauh di sana seperti Belanda, Jerman, Inggris, dan di Timur Tengah juga tak kalah menyuarakan semangat untuk Timnas Indonesia.

Pada penyelenggaran Piala Asia tahun 2007, kita juga bersatu sebagai bangsa mendukung Timnas berlaga. Memori kita juga diingatkan oleh tim nasional Piala Thomas dan Uber, yang meski kalah tapi semangatnya tidak diragukan.

File pertama kita buka kembali, ketika terjadi konflik perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia, masyarakat Indonesia memprotes, tentu dengan cara dan sikap yang berbeda. Kedua, saat budaya bangsa kita diklaim sebagai budaya bangsa lain, masyarakat Indonesia protes. Ketiga, ketika warga negara kita berada di negara asing mendapat perlakuan kurang baik, seperti kasus TKI, masyarakat Indonesia juga memprotes sebagai bagian kepedulian anak bangsa. Keempat, rasa kepedulian selalu di tunjukkan saat di berbagai daerah tertimpa bencana, baik tsunami di Aceh, gempa di Jogja dan lain-lain. Dan banyak file-file dari momen-momen dramatis yang paling hebat mempersatukan bangsa ini. Sayangnya, kita kadang lupa atau sering lupa sendiri seperti syair lagu Lupa-lupa Ingat milik band Kuburan.

Sementara dalam buku karya Parangtopo, nasionalisme wawasan kebangsaan yaitu suatu wawasan yang mementingkan kesepakatan, kesejahteraan, kelemahan, dan keamanan bangsa sebagai titik tolak dalam berfalsafah berencana dan bertindak. (Parangtopo, 1993) . Parangtopo menyebutkan, wawasan kebangsaan itu sebagai suatu cara pandang untuk menentukan cara suatu bangsa dalam mendayagunakan kondisi untuk mencapai cita-cita dan menjamin kepentingan nasional. Nasionalisme kebangsaan menempatkan dirinya dalam berinteraksi di tengah pergaulan dunia.

Dalam kutipan lain di sumber Nation and Character Building, Melalui Pemahaman Wawasan Kebangsaan, dari hasil diskusi reguler Direktorat Politik, Komunikasi, dan Informasi Bappenas, Otho H Hadi MA, Staf Direktorat Politik, Komunikasi, dan Informasi Bappenas mengatakan, “Kesadaran berbangsa merupakan rasa yang lahir secara alamiah karena adanya kebersamaan sosial yang tumbuh dari kebudayaan, sejarah, dan aspirasi perjuangan masa lampau, serta kebersamaan dalam menghadapi tantangan sejarah masa kini. Dinamisasi kebangsaan ini dalam mencapai cita-cita bangsa berkembang menjadi wawasan kebangsaan, yakni pikiran-pikiran yang bersifat nasional di mana suatu bangsa memiliki cita-cita kehidupan dan tujuan nasional yang jelas. Berdasarkan rasa dan paham kebangsaan itu, timbul semangat kebangsaan atau semangat patriotisme.”

Rukun untuk Indonesia
Terlepas apakah menguat atau tidak rasa nasionalisme kebangsaan sekarang ini tak perlu dirisaukan. Harapan itu selalu ada untuk yang lebih baik. Memang sih, nasionalisme tidak semata-mata sekadar apa yang diceritakan di atas. Tapi semangat nasionalisme untuk Indonesia tetap harus ada di tengah pergaulan bangsa-bangsa di dunia. Inilah yang menjadi hal mendasar untuk kita jadikan pondasi. Kebangkitan era baru di tengah modernisasi dunia.

Memang tak perlu pusing memikirkan nasionalisme yang terlalu njlimet, karena saking banyaknya definisi-definisi nasionalisme dengan beragam versi.

Alangkah bijaknya apa yang dikatakan Kang Parjo, pengayuh becak, yang mengatakan nasionalisme ya rukun dan bersatu untuk Indonesia. ”Nasionalisme iku ya rukun kanggo Indonesia…” katanya polos. Cukup sederhana dan tidak berbelit-belit. Mungkin kalau di terjemahkan jauh ke depan, Kang Parjo ingin bilang bahwa nasionalisme untuk Indonesia adalah yang terbaik. Berkarya untuk Indonesia bisa dilakukan dari beraneka ragam budaya, suku, agama yang berbeda, di tengah interaksi bangsa-bangsa di dunia ini. Oh begitu ya Kang Parjo?

Recommended For You

About the Author: Taufiq Zuliawan