Proklamasi dan Semangat Berdikari Anti Imperialis

Zaman imperialisme modern mendatangkan ‘kesopanan’, mendatangkan jalan-jalan, tapi apakah itu setimbang dengan bencana yang disebabkan oleh usaha-usaha partikulir itu?

Demikian ujar Bung Karno, dalam Indonesia menggugat. Ya, semenjak Proklamasi Kemerdekaan, kita tidak tahu, apakah rakyat benar-benar merdeka. Seluruh rakyat yang benar-benar sepenuhnya memiliki negaranya, turut menikmati kekayaan alam tanah airnya, serta mendapat jaminan atas kehidupan yang adil dan makmur.

Mungkin hari ini kita tidak sudah mengangkat senjata untuk mempertahankan negara ini. Namun apakah berarti negara sudah dapat dikatakan merdeka, apabila rakyat merasa bangga bekerja sebagai buruh-buruh perusahaan asing, yang dijadikan investasi, sebagai tempat penanaman modal bagi kapital surplus?

Jika ini terus berlangsung, maka seterusnya kita akan tergantung kepada negara lain.

Pada tahun 2000, sekitar 68% penduduk Indonesia hidup dari sektor pertanian. Sudah seharusnya kita mampu mencukupi kebutuhan pangan kita sendiri. Akan tetapi, sejak pertengahan tahun 1997 hingga sekarang, untuk menutupi kebutuhan beras dalam negeri, Pemerintah Indonesia harus mendatangkan beras impor, walaupun variabel jumlahnya tidak menentu.

Hal ini membuktikan ketergantungan kita pada kebutuhan pokok dari negara lain.

Belum lagi adanya gula impor dan yang lain. Secara tidak sadar, Negara Adidaya telah memperdayai kita dengan cara yang sangat halus. Dan hubungan yang diciptakan oleh negara adidaya bukanlah manifestasi dari hubungan produktif, melainkan hubungan yang ekploitatif. Akhirnya, Indonesia yang kaya raya akan ‘dimiskinkan’ dengan berbagai cara oleh negara lain.

Berdikari

Bagi generasi muda hari ini, perlunya menyadari arti pentingnya kemerdekaan yang mampu memiliki semangat berdikari. Betapa tidak, masa depan bangsa dan negara ini ada di pundak para generasi muda. Generasi muda jangan hanya bergantung pada orang tua, tetapi harus mampu mandiri untuk ‘menghidupi diri’.

Ketika lulus sekolah atau kuliah, janganlah bercita-cita mencari kerja alias kerja pada orang lain. Berusahalah mendirikan usaha sendiri. Tiap orang tua memang mendoktrin pikiran anaknya dengan doktrin ‘sekolah untuk kerja’. Hal tersebut menjadi wajar, karena doktrin ini warisan penjajah.

Jika para generasi muda tidak mampu ‘berdiri dengan kaki sendiri’ maka bisa dilihat ketika mereka menjadi pemimpin. Di mana pun mereka berada, tidak akan pernah bisa maju dan akan selalu bergantung pada orang lain. Mentalitas generasi muda hari ini pun menjadi inferior.

Inferioritas negara ini terbentuk dari pola pikir sejak zaman kerajaan dan zaman penjajahan. Mengenai nilai-nilai yang kita anut, atau motif yang turun-temurun secara menggeneral, sehingga berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan, dan termanifestasikan dalam berbagai hal, baik pikiran, perasaan, ucapan, sikap, keputusan, dan tindakan.

Kondisi psikis rakyat dan para tokoh negeri kita saat ini cenderung punya reaksi berlebihan terhadap kritik. Mereka menjadi reaktif terhadap bujukan, iming-iming yang tidak rasional, pujian atau sanjungan yang sifatnya menjilat atau mencari muka, kebaikan yang didasari kelemahan. Selain itu, juga cenderung menjelek-jelekkan atau mengkritik (kritik destruktif) orang lain.

Berbagai bentuk keminderan secara mental dan kultural yang dialami oleh bangsa ini dibanding dengan bangsa lain tampak pada peringkat ketegasan pemuda (sarjana baru) untuk menjadi pengusaha negara kita yang lebih rendah dari Filipina dan Vietnam. Sebagai bangsa, kita belum banyak berhasil mengalahkan keminderan untuk dapat berdikari.

Penjajahan Jiwa

Imperialisme hari ini tidak hanya penguasaan terhadap kebijakan politik dan ekonomi yang dicengkeram melalui utang negara dan kapital asing. Imperialisme saat ini hendak menguasai jiwa (de geest, the mind) rakyat negeri ini.

Dalam kebudayaan, terletak jiwa suatu bangsa. Jika kebudayaannya dapat diubah, berubahlah jiwa bangsa itu. Tanpa kita sadari, kebudayaan bangsa ini luntur dan tergantikan dengan kebudayaan imperialis, hingga jiwa bangsa jajahan itu menjadi sama atau menjadi satu dengan jiwa si penjajah.

Menguasai jiwa suatu bangsa berarti mengusai segala-galanya dari bangsa itu. Imperialisme kebudayaan yang kita hadapi negeri ini adalah imperialisme yang sangat berbahaya. Karena, masuknya gampang, tidak kita rasakan, dan jika berhasil akan menjadi perjuangan keras untuk membebaskan diri kembali, bahkan mungkin tidak sanggup lagi membebaskan diri.

Sebagai rakyat indonesia, sekaligus kader partai yang memperjuangkan hati nurani rakyat, maka perlu kita renungkan sejenak, makna sesungguhnya kemerdekaan bangsa kita. Sesungguhnya, tidak perlu ada kata ‘takut dan bersedih’ melihat realitas negeri ini.

Kondisi negeri hari ini memang harus diterima, agar bisa berkaca pada diri sendiri, sehingga kita benar-benar sadar terhadap apa yang seharusnya dilakukan. Selain itu, sadar akan sebuah tanggung jawab penting, mempertahankan kemerdekaan dan membangun jiwa generasi bangsa mendatang.

Recommended For You

About the Author: Roseno Hendratmojo

Praktisi psikologi yang juga pencinta alam. Lekat dengan program kaderisasi dan pemberdayaan rakyat membawanya larut ke masalah-masalah kebanyakan. Mentor kaum muda yang tekun dan bersemangat.