Publikasi Pintar Ala WikiLeaks

WikiLeaks punya 3.059 dokumen rahasia Amerika Serikat yang terkait Indonesia. Semacam laporan diplomatik yang dikirim Kedubes AS di Jakarta dan Konjen AS di Surabaya. Pintar dan mengkhawatirkan.

WikiLeaks bermarkas di Swedia. Situs salah satu organisasi internasional yang paling banyak dibicarakan belakangan itu menerbitkan dokumen rahasia seraya menjaga kerahasiaan sumber-sumbernya. Diluncurkan tahun 2006, situs WikiLeaks bahkan memaksa Pentagon kebakaran jenggot.

Organisasi ini didirikan disiden politik Cina, juga jurnalis, matematikawan, dan teknolog dari Amerika Serikat, Taiwan, Eropa, Australia, dan Afrika Selatan. Artikel koran dan majalah The New Yorker mendeskripsikan Julian Assange, seorang jurnalis dan aktivis internet Australia, sebagai direktur WikiLeaks.

Situs Wikileaks menggunakan mesin MediaWiki. Mereka menggabungkan high-end security technologies dengan journalism dan ethical principles. Tidak seperti media lain yang conducting investigative journalism, WikiLeaks menerima anonymous sources of information.

WikiLeaks menyediakan sebuah drop box dengan keamanan tinggi melalui teknologi cryptographic information technologies. Hal ini memungkinkannya untuk menyediakan proteksi yang maksimum pada sumber-sumbernya.

WikiLeaks juga berkomunitas dengan hacker yang menyuplai hasil retasan dari berbagai tempat, yang kemudian diumumkan di situs WikiLeaks.

Selain itu, banyak juga veteran perang AS yang kecewa dengan kebijakan perang AS, terutama kebijakan perang pada zaman George W Bush. Mereka membangkang dan mengirimkan dokumen-dokumen operasi militer di Irak dan Afghanistan.

Mereka saling kenal secara virtual; tak bertemu secara fisik. Karena mengkalim kelompok nirlaba, sepertinya mereka akan terus mengeluarkan dokumen penting, baik operasi intelijen maupun lobi bisnis AS di negara-negara lain.

Dokumen tentang Indonesia

Halaman ‘peniup-peluit’ WikiLeaks yang membocorkan ratusan ribu dokumen rahasia pemerintah AS tentang banyak negara di dunia, ternyata juga menghimpun ribuan dokumen penting AS tentang Indonesia. Yang dibocorkan pun bukan makalah berlembar-lembar, melainkan telegram-telegram singkat dan berstatus rahasia dari para diplomat. Oleh karena itu, WikiLeaks menyebutnya cablegate alias skandal telegram atau kawat.

Dokumen yang bakal dibocorkan dari Jakarta mencakup 10 bidang utama. Sepuluh bidang ini ditandai dengan kode khusus yang hanya dipahami para diplomat AS. Kode-kode ini adalah PHUM, KTIP, KCRM, KWMN, SNIG, KFRD, ASEC, PREF, ELAB, dan KMCA. Belum semua kode-kode ini bisa diterjemahkan. Namun beberapa di antaranya telah diketahui artinya.

PHUM adalah tema Hak Asasi Manusia. Artinya, akan ada kasus-kasus pelanggaran HAM yang akan dibongkar WikiLeaks. Ada juga ELAB, terkait isu-isu buruh dan tenaga kerja.

Sedangkan PREF adalah soal pengungsi. Hal ini diduga terkait dengan kasus manusia-manusia perahu yang singgah ke Indonesia dalam perjalanan ke Australia. Australia sedang merayu Indonesia agar membantu mereka mengatasi manusia-manusia perahu ini.

Yang tentunya akan menarik adalah dokumen Kedubes AS di Jakarta bertema ASEC. Ini adalah isu pertahanan. WikiLeaks akan membongkar memo-memo Kedubes AS yang menyoroti pertahanan di Indonesia. Tentu akan menarik bila nanti dibongkar kawat-kawat yang mengomentari Kopassus yang akan kembali bekerja sama dengan militer AS. Sedangkan sisanya, belum dapat diketahui definisinya.

Yang absen adalah PTER atau pemberantasan terorisme. Padahal, kasus terorisme sangat marak di Tanah Air, bahkan hotel Amerika seperti JW Marriott menjadi sasaran bom. Namun entah mengapa, tidak ada tema terorisme dari dokumen Kedubes AS di Jakarta yang akan dibocorkan WikiLeaks.

Dokumen Strategis

Tiga buah dokumen mengenai Indonesia telah dirilis. Dokumen itu dibuat dalam bentuk Congressional Research Service (CSR), lembaga think tank Kongres AS. Dokumen CRS ini biasanya menjadi dasar bagi Senat dan DPR AS dalam mengambil kebijakan. Berikut isi dokumen tersebut.

Pertama, masalah Timor Timur CRS Report RS20332 East Timor Crisis: US Policy and Options, 5 November 1999. Kedua, Pemerintahan Bill Clinton menekan RI agar menerima kehadiran pasukan perdamaian internasional di Timor Timur usai jajak pendapat 1999.

Ketiga, menghentikan kerja sama militer AS dan Indonesia serta mengancam sanksi lebih keras bila tak mau bekerja sama, mengendalikan milisi, dan memulangkan 200 ribu pengungsi Timor Timur.

Keempat, mendukung keputusan IMF dan Bank Dunia untuk menghentikan bantuan mereka pada Indonesia. Kelima, bantuan yang dihapus untuk tahun 2000 antara lain bantuan ekonomi 75 juta dolar AS, Economic Support Funds 5 juta dolar AS, dan IMET 400 ribu dolar.

Kelima, tentang Pemilu 2004 CRS Report RS21874 Analyst in Southeast and South Asian Affairs, 20 Mei 2005.

Keenam, SBY disebut The Thinking General. Ketujuh, bila Wiranto jadi presiden, hubungan RI dan AS akan sangat rumit karena Kongres AS menaruh perhatian besar pada isu pelanggaran HAM di Timor Timur. Ketujuh, suksesnya Pemilu 2004 meneguhkan dominasi partai sekuler, yaitu Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat.

Ketujuh, Pelatihan Kopassus Dokumen Joint Combined Exchange Training (JCET) and Human Rights Background and Issues for Congress, 26 Januari 1999. Kedelapan, sejak 1992, Kongres AS memutus program Pelatihan dan Pendidikan Militer Internasional (IMET) untuk Indonesia, setelah tragedi Santa Cruz.

Kesembilan, namun, di bawah program JCET Dephan yang di setujui oleh Deplu, pasukan Baret Hijau AS melatih 60 anggota pasukan khusus TNI di Indonesia yang sebagian besar Kopassus. JCET berdalih pelatihan murni militer meskipun kurikulum latihan perang kota berjudul crowd control.

Kesepuluh, April 1998, anggota Kongres AS menyurati Menteri Pertahanan Cohen Evans yang menyebut program JCET mengakali larangan Kongres. JCET dihentikan 8 Mei 1998.

Masih ada ribuan dokumen rahasia milik Indonesia yang akan diungkap WikiLeaks selama periode tahun 2010-2014. Dokumen-dokumen itu memuat operasi-operasi militer dan intelijen Indonesia di beberapa daerah konflik seperti Papua, Aceh dan Maluku yang melibatkan agen-agen AS di Indonesia.

Recommended For You

About the Author: Yogi Andriyanto