Ramadhan, Agama, dan Kesejahteraan

Ramadhan memiliki arti penting membangun kesadaran rahmat, kasih, cinta, dan keadilan terhadap bangsa. Dalam konteks pergulatan kebangsaan, keindonesiaan, dan keberagamaan, Ramadhan merupakan aktualisasi pesan-pesan keadilan agama.

Agama-agama sejatinya memang, dengan firman dan ayat-ayatnya, mampu menggerakkan dan mematerialisasi gagasan-gagasan agama untuk membidani kebangkitan Indonesia dalam bingkai kemajemukan agama, suku, etnis, bahasa, dan budaya. Terjadi semacam perjumpaan dan kerukunan agama-agama untuk mendiami rumah bersama, yakni Indonesia. Perbedaan label, simbol, jubah, atau apa pun namanya, bukanlah penghalang tersemainya kebersamaan.

Harapan besar kemajuan Indonesia pada agama-agama dimisalkan seperti roda sepeda. Indonesia adalah roda yang memuat unsur-unsur, seperti pusat roda dan jari-jari roda. Jari-jari roda adalah agama-agama. Sementara pusat roda menjadi titik temu jari-jari. Tanpa jari-jari dan pusat roda, Indonesia tidak akan berjalan. Artinya, jari-jarilah yang memberi pengaruh penting bagi roda, lewat perjumpaan itu. Amat tepat dikatakan bila perjalanan dan masa depan Indonesia terletak pada sejauh mana hubungan kerja sama agama-agama.

Dalam menciptakan rumah bersama, memang kerap berbenturan dengan tafsir prasangka dan kebenaran subyektif, bahkan sepihak. Makanya upaya demikian harus berangkat dari ikhtiar meluruskan cara pandang dalam melihat dan menilai pesan terdalam masing-masing agama. Qabul al-akhar (sikap menerima yang lain), tepa-selira, simpati dan empati, serta kesederajatan menjadi kunci terbangunnya rumah bersama agar tidak menghalangi pencapaian tujuan substansial dari problem bangsa ini.

Agama-agama musti memancarkan pesona toleran, berkeadilan, rasional, menjunjung kebebasan dan keberpihakan, keharmonisan, bahkan visi politik moral progresif, transformatif, dan liberatif.

Menilik esensi Islam, Islam adalah agama yang diwariskan oleh Ibrahim, Ishak, dan Yakub. Islam pun bahkan telah merupakan karakteristik seluruh alam semesta. Ibrahim mengajarkan ketertundukan dan kepasrahan total. Semua agama adalah Islam. Seperti dikatakan Mahmud Ayoub, Al-Quran telah memberi penegasan yang positif terhadap berbagai tradisi keagamaan yang berbeda. Dari Mahmud Ayoub juga muncul tesis bahwa semua agama adalah sama. Ada jalan keselamatan di luar Islam.

Berbeda dengan Mahmud Ayyoub, menurut Fazlurrahman dalam bukunya berjudul Islam, agama-agama di luar Islam, tak terkecuali Kristen, kendati tidak mengakui Muhammad sebagai rasul, adalah Islam juga, tapi menggunakan islam huruf i kecil atau Islam anonim. Masih menurut Rahman, Muslim musti mengajak dan berseru pada mereka (umat non-Muslim) untuk masuk Islam dan bersaksi Muhammad adalah rasul Allah.

Akar teologis inilah yang hingga saat ini menjadi perdebatan teoretis-teologis yang tak pernah ada juntrungannya. Kendati demikian, biarlah Tuhan kelak penentu kebenaran sejatinya.

Tidak bertemunya persamaan teologis bukan berarti dalam aspek yang lain tidak dimungkinkan untuk melakukan perjumpaan. Perlu kiranya mencari kesamaan akar sosiologis agar dalam praktik dan implementasi tujuan-tujuan mulia agama-agama dapat disandingkan. Akar sosiologis itu bersarang dalam diri bangsa ini dalam berbagai bentuk dan wajah.

Peran Negara

Dengan menempatkan agama, negara, dan society (baca: pasar) dalam posisi sederajat, maka kedamaian, keharmonisan, kesejahteraan, kemakmuran, penegakan HAM, kebebasan dan lain-lain harus diperjuangkan oleh agama-agama sebagai alternatif kegagalan negara yang luput mengejawantahkan peran dan fungsinya.

Ketiganya berkolaborasi bukan dalam bentuk yang formal, skriptural, struktural, tapi substansial-fungsional. Dengan demikian, fungsi agama, selain turut memupuk nasionalisme bangsa Indonesia sebagai negara modern (nation state), saatnya untuk bergeser memperkuat negara sejahtera (welfare state) yang pada akhirnya mewujud menjadi masyarakat sejahtera (welfare society).

Kontribusi agama dalam konteks penguatan nasionalisme bangsa telah teruji dalam sejarah Indonesia saat menantang kolonialisme. Sementara di era pascakolonialisme, relevansi agama seharusnya mampu menemukan jawaban dari tantangan yang ada dalam diri bangsa ini, di mana negara didorong untuk menyejahterakan rakyat dengan paradigma welfare state dan welfare society.

Di tengah era transisi demokrasi dalam balutan jubah liberalisme dan zaman globalisasi dengan baju neo-liebralisme kini, juga menuntut agama-agama menemukan paradigma yang lebih membumi. Melampui negara bangsa dan negara sejahtera, kontekstualisasi fungsi agama-agama adalah pada penguatan masyarakat sejahtera; pemberdayaan untuk kemandirian melalui penguatan civil society (masyarakat sipil). Paradigma demikian meniscayakan agama-agama untuk tidak menjadi bagian dari negara.

Manifestasi agama-agama dalam bentuk civil society adalah terlibat aktif dalam melakukan kontrol publik, advokasi, kampanye, sosialisasi, dan penguatan wacana publik lewat selebaran dan media lainnya.

Konsistensi agama berparadigma civil society adalah melepas kemasan ideologis, membuka kemungkinan-kemungkinan pergeseran cara pandang (paradigma) terhadap pemahaman agama. Dan pada saatnya nanti, ketegangan-ketegangan akar teoretis-teologis akan berubah menjadi kompromis-teologis. Maka perjumpaan agama-agama secara mantap menemukan momentum.

Sedikit meminjam Thomas Kuhn dengan The Scientic Revolution dalam buku Greg Soetomo, sains—seperti halnya ilmu dan paradigma agama—hanyalah social process, concensus of scientific communities. Jadi, dalam paradigma Kuhn, kebenaran sains itu relatif dan sangat tergantung para faktor sosial.

Oleh karenanya, dalam konteks rumah bersama agama-agama di Indonesia, social process dari agama-agama akan memunculkan teologi paralel di mana agama-agama bersama-sama menyembulkan nilai, semangat, dan karya demi kesejahteraan agama (welfare religion) dan sekaligus kesejahteraan masyarakat (welfare society).

Recommended For You

About the Author: Agung Suseno