Ramadhan dan Kepribadian Bangsa

Jika memang benar akhlak menjadi kunci utama, maka akhlak berperan penting menyehatkan bangsa. Ramadhan adalah momentum yang tepat membenahi akhlak.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). (Al-Baqarah: 185)

Bulan Ramadhan merupakan momentum penting dalam kehidupan keberagamaan umat Islam. Betapa tidak. Pada bulan tersebut, pintu ampunan dibuka, kemudian pintu surga yang menjadi idaman setiap individu sebagai jaza’ (balasan) bagi mereka yang bertakwa telah terbentang.

Oleh karenanya, bagaimana seorang Muslim dapat bersikap tentu saja berdampak kepada hasil yang sepantasnya diterima. Karena hal itulah, perlu diketahui pula bahwa Ramadhan bukanlah sekadar agenda rutin yang biasa datang dalam setiap tahunnya.

Melalui momentum Ramadhan, dapat dikatakan sebagai pintu awal menempa pribadi menjadi lebih baik. Pasalnya, telah ditetapkan di dalamnya suatu bentuk amaliah yang dikhususkan, berupa puasa Ramadhan.

Bentuk pengkhususan tersebut dimaksudkan untuk mengembalikan fitrah setiap individu guna menyadari, betapa sebenarnya dia adalah seorang hamba, yang tidak lain, tugasnya sekadar mengabdi kepada Rabb-nya.

Perubahan dan Ramadhan

Sering kita jumpai, betapa perubahan selalu saja terjadi di bulan ini. Seorang penjahat kelas kakap secara tiba-tiba menjadi saleh. Atau mereka yang biasa melakukan perbuatan kotor, kemudian mendadak menjadi salihah.

Bulan Ramadhan selalu saja dihiasi berbagai bentuk amal saleh dengan kemasan beraneka ragam. Sungguh dahsyat momentum Ramadhan. Ia mampu mengembalikan keadaan yang mungkin bertolak belakang. Meskipun juga dapat dilihat, sebagian manusian yang lain masih asyik berteman dengan keburukan.

Aktivitas puasa sendiri bukanlah aktivitas menahan diri dari sebab yang dapat membatalkannya. Akan tetapi juga merupakan pengondisian terhadap setiap pribadi untuk senantiasa melakukan aktivitas, baik hati, lisan, jawarih (perbuatan) yang dapat merusaknya.

Sehingga dapat dimengerti, bahwa puasa sendiri merupakan langkah penertiban pribadi untuk tidak melakukan hal yang buruk, menurut tinjauan syariat. Pemahaman itulah yang dimungkinkan dapat menunjang sebuah upaya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).

Ramadhan dan Akhlak

Persoalan besar yang telah menimpa bangsa Indonesia tentu saja berawal dari kepribadian individu yang kurang baik. Atau lebih tepatnya, jawaban dari pernyataan tersebut adalah mengenai akhlak masyarakat Indonesia.

Maka tidak berlebihan jika hampir seluruh manusia di seluruh belahan negara ini menyerukan, “Mulailah semuanya dari diri sendiri.” Kemudian semua yang mendengarnya ikut menganggukkan kepala, sembari bertepuk tangan riuh.

Jika memang benar akhlak yang menjadi kunci utama, maka akhlak berperan penting dalam pengembalian kondisi bangsa yang memburuk. Dijelaskan oleh Ibnu Maskawih, akhlak merupakan sifat yang tertanam di dalam jiwa. Darinya, timbul perbuatan-perbuatan yang mudah dan tidak memerlukan pertimbangan-pertimbangan pikiran terlebih dahulu (Ihya’ Ulumudin: 3/5).

Akhlak, sebagai indikasi kepribadian seseorang, yang dapat dinilai melalui spontanitas bersikap, kemudian melahirkan kebiasaan. Dari hal itulah maka tingkat urgensitas momentum puasa berdampak langsung terhadap kualitas setiap pribadi Muslim. Dengannya, seorang Muslim dapat membiasakan diri bertindak dan beraktivitas menurut ukuran kebaikan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, kebiasaan berkelakuan baik akan membuahkan akhlak yang baik pula.

Kehidupan seorang Muslim, sudah pasti tidak terlepas dari acuan terpenting dalam menapaki keseharian. Benar, Al-Quran dan Sunnah merupakan Nidhamul Hayyah (pedoman hidup). Keduanya  merupakan ukuran jelas bagi setiap Muslim apakah ia telah beriman atau tidak, kemudian beristiqamah. Di dalamnya termuat beberapa hal yang menjadikan ukuran seorang Muslim menjadi insane kaffah.

Jika demikian keadaannya, jangan sia-siakan momentum Ramadhan. Berawal dari aktivitas berpuasa, menahan diri dari segala macam perbuatan tercela, kemudian secara tidak langsung menjadi agenda besar penyelamatan kondisi bangsa Indonesia.

Sudah sepantasnya semua perlu dicoba. Sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang tidak dapat melakukan kebaikan di bulan Ramadhan, maka sungguh dia telah terhalang untuk mendapatkan kebaikan.”

Recommended For You

About the Author: Hanif Assabib Rosyid