Sejarah Malang dan Eksistensi Museum Mpu Purwa

Negara kita lahir dari sejarah panjang. Sejarah bumi pertiwi yang penuh intrik perebutan kekuasaan, dendam, dan politik. Keberadaan museum akan membawa kita ke zaman yang telah berlalu itu. Bagaimanakah nasib museum-museum itu, kini?

Bila pergi ke museum, Anda akan merasa, sungguh mengagumkannya benda-benda peninggalan masa lalu tersebut. Bahkan yang mungkin tidak terpikir oleh orang-orang zaman sekarang untuk membuatnya.

Candi-candi yang berdiri kokoh dengan relief sangat indah dan memesona memiliki sebuah alur cerita tersendiri. Biasanya, menceritakan kehidupan sosial masyarakat pada zaman tertentu dan legenda yang mengandung pesan moral atau cerita pewayangan. Ukiran patung yang cantik dan sangat detail serta prasasti menunjukkan keeksistensian kehidupan masyarakat pada masanya.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya menyatakan, cagar budaya berupa benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan merupakan kekayaan budaya bangsa yang perlu dikelola oleh pemerintah dan Pemerintah Daerah, dengan meningkatkan peran serta masyarakat untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan cagar budaya karena merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Museum Mpu Purwa

Tetapi tidak demikian halnya dengan sebuah museum kecil di Kota Malang, bernama Museum Mpu Purwa. Kelihatannya, museum ini sangat kurang mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kota. Karena memang tempatnya yang sudah beberapa tahun ini berdiri, masih tidak layak untuk dikatakan sebagai obyek wisata pendidikan atau pun museum.

Memiliki gedung ala kadarnya, seperti rumah biasa, bekas sebuah SD. Tempat itulah yang dipercaya melindungi peninggalan-peninggalan bersejarah bernilai tinggi dari semua kerajaan yang pernah berdiri di wilayah Malang Raya.

Haruskah Mpu Purwa hidup kembali dan menghaturkan sembah, hingga menitikkan air mata, agar dapat menyentuh hati Pemerintah Kota Malang, sehingga tergerak untuk memperhatikan museum tersebut?

Atau malah memperlihatkan kemurkaan untuk kedua kalinya, setelah kemurkaan pertamanya, karena ulah Tunggul Ametung yang menculik Ken Dedes, sang putri, untuk diperistri?

Pelokasian yang kurang tampak dari jalan raya, promosi yang kurang, dan gedung yang kurang layak membuat tempat ini kurang menarik untuk dikunjungi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Meskipun sebenarnya, tempat ini sangat strategis. Karena, hanya beberapa meter saja dari Jalan Soekarno-Hatta dan gratis, bila Anda ingin berkunjung dan menikmati tempat ini.

Terlebih lagi, saat ini, gedung RSUB yang berdiri tinggi dan kokoh, seperti layaknya sebuah benteng itu, berdiri tidak begitu jauh dari Museum Mpu Purwa. Meskipun gedung itu belum sepenuhnya jadi, tetapi semakin membuat museum tersebut hilang dari pandangan masyarakat umum, bahkan yang setiap hari melewati Jalan Soekarno-Hatta.

Sejarah Malang

Dilihat dari sejarah kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di Kota Malang dan juga wilayah Jawa Timur lainnya. Mataram Kuno pada abad VIII-IX, Kanjuruhan pada abad VIII-IX, Kediri pada abad X-XI, dan pada Majapahit abad XIV-XV.

Keadaan di wilayah Malang dan sekitarnya selalu makmur serta aman. Seperti halnya pada zaman Kerajaan Kanjuruhan yang terkenal dengan rajanya, bernama Liswa. Setelah memerintah, menggantikan ayahnya (Dewa Sinta), ia bergelar Gajayana dan berpusat di Dinaya.

Kerajaan Singasari yang didirikan oleh Ken Arok, setelah membunuh Tunggul Ametung, dan menjadikan Ken Dedes sebagai Sang Permaisuri ini melahirkan keturunan raja-raja besar, dan tangguh. Kedigdayaan mereka menggetarkan Marcapada di Jawa Dwipa (Jawa).

Semisal Kartanegara yang pada pemerintahannya membawa Singasari ke masa keemasannya. Keberaniannya terkenal karena melecehkan utusan Kaisar Kubilai Khan, bernama Meng Ki, dengan memotong telinganya. Ketika itu, Kartanegara menolak kebijakan Sang Putra Langit yang menyuruh Singasari untuk tunduk kepada Kekaisaran Mongol. Kartanegara lebih memilih perang.

Raden Wijaya kemudian meneruskan kedigdayaan Singasari dengan mendirikan Kerajaan Majapahit bersama Arya wiraraja. Ia meruntuhkan Kediri serta mengusir tentara Mongol dari Jawa. Hayam Wuruk, salah seorang Raja Majapahit, bersama patihnya, Gajah Mada, pada masa pemerintahannya mampu menguasai hampir seluruh wilayah nusantara, dan membawa Majapahit ke masa kejayaannya.

Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak adalah putra Raja Brawijaya, penguasa terakhir Kerajaan Majapahit.

Masih deras mengalir darah Singasari di dalam tubuh raja-raja besar tersebut. Dan tidak bisa dipungkiri, Singasari berada di wilayah Kota Malang. Sungguh sangat mengagumkan sejarah Kota Malang ini sebenarnya, jika kita menilik ke zaman itu.

Peninggalan Sejarah di Museum Mpu Purwa

Museum Mpu Purwa menyimpan peninggalan penting, mulai dari zaman prasejarah, Kerajaan Singasari dan Majapahit yang berarti zaman Hindu, Budha, dan Hindu-Budha. Sejumlah 136 arca menjadi koleksi di tempat ini, antara lain, arca Dewa Siwa, Ganesya, Resi Guru, dan masih banyak lagi, termasuk Arca Ganesya Tikus yang konon, hanya ada di India, dan tidak ada di museum-museum Indonesia.

Dari wacana di atas, sudah tidak mungkin ada alasan lagi bagi Pemerintah Kota Malang untuk menelantarkan museum itu. Sudah tidak diragukan lagi jika pemerintah, seharusnya melindungi, merawat, mengembangkan, dan menjaga keutuhan cagar budaya yang mempunyai nilai sejarah tinggi itu, agar bisa menjadi sebuah obyek wisata pendidikan yang menarik, menyenangkan, dan bisa memberikan paradigma positif bagi pengunjung tempat itu.

Dan jangan sampai juga, karena kelalaian pemerintah memperhatikan cagar budaya seperti Museum Mpu Purwa atau pula cagar budaya di seluruh wilayah Malang Raya, menjadikan peninggalan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang kedigdayaan sebuah zaman, sebuah cerita omong kosong belaka bagi bibit-bibit penerus bangsa ini, khusunya di Bumi Arema sendiri.

Recommended For You

About the Author: Vegi Apriyansyah