Sinetron, Ramadhan, dan Karakter Bangsa

Amanat yang disematkan rakyat Indonesia kepada para pelaku media penyiaran tanah air, yang diatur dalam UU Penyiaran No. 32, tampaknya telah tercederai. Namun, Ramadhan sedikit memberi warna berbeda.

Tengok saja, ketika undang-undang mengamanatkan agar pelaksanaan siaran tidak Bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan, dan/atau berbohong, maka yang terjadi ialah maraknya ‘bigos-bigos infotainmen’ dan plot-plot sinetron yang berlomba-lomba menyuguhkan semua perilaku buruk tersebut.

Undang-undang menyematkan pelaksanaan siaran yang tidak menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkotika, dan obat terlarang. Apa yang disuguhkan televisi justru sebaliknya. Khususnya yg ditampilkan dalam sinetron, malah mendukung unsur-unsur tersebut.

Dan yang paling parah, adalah telah tercederai atau rusaknya nilai-nilai religius, moral, dan budaya bangsa akibat kualitas tayangan-tayangan yang hanya mementingkan profit materi, tanpa mengindahkan pesan dan kualitas yang disampaikan kepada pemirsa.

“Kalau tidak pamer aurat, ya tidak laku.”

Barangkali, itulah yang ada di mayoritas ‘otak kotor’ para pelaku bisnis media Tanah Air. Tentu tidak semuanya pastinya. Namun, Anda tahu sendirilah, tayangan yang mengedepankan kualitas dengan isi penyiaran yang dijiwai nilai-nilai budaya bangsa, agama, dan moral. Sekelas drama teaternya Garin Nugroho pun, malahan tak laris di pasaran. Entah kualitas karyanya yang ketinggian, atau memang pemirsanya yang tak punya kualitas.

Tontonan Ramadhan

Terlepas dari beragam polemik tersebut, momentum Ramadhan menyimpan kekuatan magis tersendiri, untuk setidaknya mampu mengubah atau memengaruhi kualitas tayangan-tayangan sinetron di Tanah Air. Karena, karakter keagamaan dikedepankan guna memuliakan Ramadhan.

Konversi-konversi tayangan ke arah religiusitas pun semarak. Adanya ceramah-ceramah agama yang dihadirkan dalam ‘tablig akbar’, kultum sebelum berbuka, dan yang paling menarik, adalah hadirnya Sinetron Ramadhan.

Fenomena ini memberi kesan adanya konversi dadakan, dari sinetron konvensional menjadi sinetron religius, sehingga kesan yang muncul adalah ‘mendadak taubat’. Artis yang dulu pamer aurat dan suka memfitnah, di bulan Ramadhan ini berubah menjadi perempuan salihah berjilbab dan melisankan kalimat thayibah di skrip dialog aktingnya. Subhanallah.

Peran Pemerintah

Komisi Penyiaran Indonesia yang juga diamanatkan UU untuk mengomandoi segala jenis bentuk tayangan beserta kualitasnya, pun kelihatan belum berfungsi secara maksimal, laksana ‘Macan Ompong’ dalam megeksekusi amanat mulia tersebut.

Masih menjamurnya tayangan-tayangan sinetron yang tidak berkualitas membuktikan ‘keompongan’ tersebut. Ke mana pula Kemenkominfo, yang dalam hal ini memiliki tanggung jawab paling besar dalam menyikapi fenomena memprihatinkan ini?

Peranan sinetron dalam menanamkan pengaruhnya kepada pemirsa, perlu mendapatkan perhatian serius. Bagaimana pesan yang disampaikan dari sinetron kepada masyarakat? Efek apa yang kemudian muncul apabila pesan tersebut meresap ke dalam benak masyarakat, yang kemudian memengaruhi cara berpikir mereka, sehingga membentuk Ideologi tertentu?

Sigmund Freud, seorang psikoanalisis, menamai pengaruh pesan ini sebagai unconscious mind (pengaruh alam bawah sadar). Ketika Ideologi masyarakat telah berubah, maka tentu budaya, moral, dan klimaksnya, karakter bangsa pun juga ikut berubah.

Hal ini perlu mendapat perhatian serius, di mana maraknya kapitalisme berupa konsumerisme marak disebarkan oleh para pelaku bisnis media ditanah air, yang mengincar profit semata. Kalau ratusan juta masyarakat di Indonesia mengonsumsi tayangan media yang memiliki basic ideology seperti demikian, maka apa jadinya?

Pemerintah, melalui Kemenkominfo dan KPI; masyarakat, sebagai obyek penyiaran yang juga berhak melakukan pengontrolan; dan para pelaku bisnis media, tentunya yang harus memiliki kesadaran dalam penyampaian kualitas tayangan. Ketiganya harus bersatu padu mengatasi fenomena agresif ini.

Tontonan Berkualitas

Menurut saya, mengapa kita tidak memperbaiki kualitas sinetron Indonesia melalui penayangan novel-novel best seller tanah air di ranah sinetron? Mengapa hanya di Layar Lebar? Bukankah layar televisi tidak kalah pamor?

Atau dengan FTV (Film Televisi) mungkin bisa juga menjadi solusi, dengan mengangkat karya-karya Cerpen inspiratif pembangun jiwa, yang tentunya jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat, karena mampu memotivasi dan menginspirasi. Tentunya dengan mempertimbangkan nilai-nilai budaya, moral, dan agama yang akan menjadi fondasinya.

Dari segi historis-nasionalis, kita punya alternatif untuk mengangkat biografi-biografi pejuang bangsa ke ranah sinetron, untuk memberikan pendidikan sejarah dan memupuk rasa nasionalisme.

Banyak hal yang sesungguhnya bisa kita lakukan untuk perbaikan media pada umumnya, dan sinetron pada khususnya. Dimulai dari mengencangkan niat, kemauan, serta kebersamaan pemerintah, masyarakat, dan pelaku bisinis media untuk melakukan revolusi kecil, penyelamat budaya, moral, dan karakter bangsa ini ke depan.

Recommended For You

About the Author: Kurnia Widi Tetuko