Yang Muda yang Begundal

Sejarah panjang negeri ini tidak bisa dilepaskan dari peran kaum muda. Sejak era kemerdekaan melalui Budi Utomo dengan menyibak celah-celah penjajahan. Tergulungnya Orde Lama pada tahun 1965, hingga reformasi 1998 yang menggulingkan Orde Baru. Begitu banyak gelar yang disandangkan pada kaum muda, dari agen perubahan, intelektual muda, hingga aktor peradaban.

Sejarah selalu berulang bila berbicara kaum muda dan lingkaran kekuasaan. Dari pra kemerdekaan kaum muda selalu mengisi ruang hiruk-pikuk politik di negeri ini, walaupun pada pertengan Orde Baru sempat sepi. Namun fenomena kepemimpinan kaum muda sejak beberapa tahun terakhir, budaya keterbukaan dalam wadah demokratisasi telah memberi ruang bagi kaum muda dalam segala dimensi termasuk ruang politik.

Sosok-sosok yang notabene berusia muda tampil percaya diri menjadi ikon dan tokoh di level nasional. Kepemimpinan kaum muda setapak demi setapak “mengapung” ke permukaan. Namun tampilnya kaum muda terutama dalam kancah politik nasional memunculkan harapan besar melihat carut-marutnya kondisi bangsa dalam segala dimensi. Sepinya investasi moral pada sistem pendidikan apalagi partai politik dicurigai menjadi biang kerok persoalan.

Pragmatisme
Modernitas telah menggulung bangsa ini termasuk pemudanya bak tsunami. Panorama kebudayaan yang telah beralih pada homogenitas telah memunculkan alienasi yang kuat. Ada perasaan yang mencekam bahwa Indonesia dikepung oleh benda-benda asing yang bernyawa serta nilai-nilai yang berdialog secara tidak sehat pada tingkat produksi makna dan tingkah laku masyarakat Indonesia.

Pilihan diri yang telah mengalami “naturalisasi paksaan” yang saya maksud adalah pilihan diri yang telah mengalami dekonstruksi makna, dari makna sakral menuju desakralisasi; dari makna belas kasih menuju makna untung rugi; dari kata malu menjadi tak perlu malu; dan segala makna-makna sosiokultural baru yang telah tercipta.

Semua ini terjadi pada hampir tiap dari kita dan termasuk generasi muda yang menjadi harapan bangsa. Paradigma ini akhirnya akan mengakar dalam ruang diri yang ramai akan idealisme kemudian menjadi bising akan hasrat mengumpulkan harta dan keinginan berkuasa. Ujung dari ini adalah penghalalan segala cara untuk pemenuhannya termasuk korupsi.

Menjadi Begundal
Paradigma pragmatisme yang menghinggapi kaum muda bangsa ini yang berakar dari modernitas akhirnya menciptakan praktik suap di kalangan kaum muda kita. Hal ini terjadi pada mereka yang sejak masih aktif menjadi aktivis pada tiap tingkatan gerakannya masing-masing. Budaya beli suara ketika muktamar atau kongres hingga membayar tiket pesawat pada peserta telah menjadi budaya. Perilaku semacam ini tentunya menjadi catatan hitam bagi kaum muda ketika mereka akan menjadi pemimpin bangsa.

Mulai hilangnya penguatan pada nilai-nilai moral pada tiap gerakan mahasiswa akhirnya memunculkan disorientasi visi kepemudaan sebagai agen perubahan dan pelopor idealisme menjadi absurt ketika berkuasa. Bisa diambil beberapa kasus dari persoalan kepemudaan yang telah kehilangan orientasi idealisme, misalnya baru-baru ini kita dihadapkan pada kasus yang menimpa Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat. Pada awal kemunculannya dianggap sebagai perwakilan kaum muda pada wilayah kekuasaan dan sebagai simbol kualitas kaum muda yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun terlepas dari apakah Anas benar-benar terlibat atau tidak, ia telah mengurangi dan bahkan menghilangkan kebanggaan sebagian besar masyarakat terhadap masa depan kepemimpinan kaum muda.

Dari persoalan ini dapat dilihat bahwa kurangnya investasi moral pada sistem pendidikan, organisasi gerakan, dan partai politik mengakibatkan budaya politik dan praktik bernegara kita menjadi chaos. Kesadaran akan pentingnya investasi moral secara mendalam seharusnya menjadi loncatan awal bagi pihak-pihak yang merasa memiliki kepentingan untuk mulai berbenah. Karena kalau tidak, maka bangsa yang telah mencapai titik nadir ini akan hilang ditelan “peradaban korup”.

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.