Civil Society sebagai Oase Moralitas

Dalam rentangan lembaran sejarah perjalanan Indonesia dengan berbagai perubahan sosio-kultural dan politik merupakan ladang pijakan unik dalam mendefinisikan kembali civil society. Sebuah praktik yang dalam pengalamannya terbukti memiliki beragam bentuk dan artikulasi.

Pada asasnya civil society adalah bagaimana terwujudnya peradaban yang berkeadaban. Dalam dirinya memiliki arti kemandirian, keberdayaan, dan kesejahteraan dalam diri sebuah kelompok tanpa harus menggunakan jalur politik praktis. Tujuan demokrasi dan sukses tidaknya praktik-praktik demokrasi pun pada dasarnya terletak sejauh mana peran-peran civil society benar-benar nyata di tengah umat.

Antara demokrasi dan civil society memiliki korelasi erat dan tidak bisa dipisahkan. Tercapainya tujuan demokrasi tidak bisa tidak harus melewati capaian sendi-sendi civil society yang terbangun secara kokoh.

Politik Praktis
Realitas sosial politik saat ini tengah menapaki jalan yang berliku dan berkelok tanpa ujung bak labirin yang menyesatkan. Klaim-klaim konstitusional, keberpihakan, dan atas nama umat tak ubahnya justifikasi semu tanpa kenyataan.

Realitas politik kekuasaan kental dengan aroma transaksional, koruptif, dan pembiaran-pembiaran tanpa pertanggungjawaban moral-politik. Gambaran kondisi politik yang menyenandungkan lagu demokratisasi dan transparansi serta berkomitmen mendongkrak harkat martabat bangsa sulit untuk dicarikan pembenaran.

Di sinilah fungsi civil society sebagai produsen manusia yang bermoral dan moral itu sendiri berperan. Karena civil society memiliki sistemnya sendiri dalam pembangunan manusia yang beradab dan tidak “terdistorsi” oleh budaya politik praktis “memuakkan” yang selama ini menjadi penyakit bangsa.

Investasi Moral
Dengan sistem mandiri yang dibangun dalam kerangka moralitas yang kokoh, civil society menjadi harapan bangsa dalam mengartikulasikan diri di bidang moral. Sikap mandiri yang menjadi keniscayaan dalam bangunan sistem civil society menjadi modal yang sangat kuat untuk menghindarkan agen yang ada dan terbentuk di dalamnya,  menjadi perisai terhadap “pesona” budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Namun, berkaca dari realitas sosial-politik saat ini di mana agen-agen dari civil society bergumul di kancah politik praktis menyajikan pergulatan yang menyedihkan. Seharusnya para agen yang menjadi inisiator moralitas justru menjadi otak dari budaya yang menjijikkan, yang biasa kita namakan KKN.

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.