Dahsyatnya Kekuasaan Politik

Menurut ahli filsafat abad pertengahan manusia itu diselimuti oleh keserakahan, yang secara sederhana dirumuskan sebagai tingkah laku di mana kepentingan diri sendiri secara berlebihan diutamakan.

St Augustistine misalnya, menyatakan tiga bentuk keserakahan manusia yakni keserakahan akan kekuasaan, seksual, dan keserahan harta benda. Selain itu juga ada keserakahan untuk mendapatkan nama baik (lihat Hirschmnan, 1978 dalam Arif Budiman, 1990).

Selain ahli filsafat, beberapa ahli psikologi pun mengemukakan pendapatnya yang tidak jauh beda, di mana satu sifat dasar manusia menurut Sigmund Freud, tokoh gerakan psikoanalisis ialah segala tingkah laku manusia timbul dari salah satu dari dua dorongan yaitu dorongan seks dan dorongan untuk menjadi besar. Dalam kacamata yang tidak jauh berbeda Alfred Adler menggambarkan manusia sebagai makhluk yang ingin selalu menonjol. Sedangkan John Dewey mengatakan, dorongan paling dalam di antara semua sifat manusia adalah keinginannya untuk menjadi besar.

Dengan demikian menurut beberapa ahli psikologi maupun filsafat, maka keinginan untuk menjadi besar selalu menonjol, merupakan suatu kebutuhan mendasar manusia sehingga apabila individu berhasrat untuk memenuhinya merupakan sesuatu yang manusiawi dan wajar.

Untuk memenuhi keinginan tersebut individu satu dengan yang lainnya sangat berbeda, tergantung daripada sumber daya yang dimiliki. Setidaknya ada lima sumber daya yang dapat dijadikan instrumen untuk memenuhi keinginan tersebut. Kelimanya yakni sumber daya fisik, ekonomi, normatif, personal, dan keahlian.

Pertama, sumber daya fisik. Seorang yang bertubuh besar dan kekar akan dapat dengan mudah menundukkan seseorang bertubuh kecil. Akan tetapi sumber daya fisik bisa pula berubah senjata tradisional seperti kapak, pedang, maupun sampai yang modern, bom dan nukril. Sehingga negara yang memproduksi nuklir akan menonjol dan tumbuh menjadi besar, sebab akan dengan mudah dapat menundukkan negara lain. Kekuatan fisik ini pernah menjadi landasan Mao Tse Tung sehingga muncul istilah kekuasaan muncul dari laras senjata.

Kedua, kekuatan ekonomi, yang bisa berupa kekayaan, pendapatan, maupun kontrol terhadap barang dan jasa. Dalam pasar bebas yang mengglobal, maka kekuatan ekonomi merupakan sarana yang cukup ampuh untuk menekan pihak lain untuk tunduk dan patuh. Sehingga akan memperbesar sepak terjangnya. Para pemiliki kekuatan ini mengendalikan atas sumber daya material tertentu, sarana reproduksi serta kendali atas pasar. Untuk menaikkan bargainning atau menekan pihak lain untuk tunduk termasuk pemerintah para pemilik kekuatan ini, memainkan kendali atas sektor barang dan jasa, misalnya menaikkan harga, melangkakan barang-barang dan sebagainya. Jadi kalau harga membumbung tinggi maupun adanya kelangkaan barang itu bisa jadi karena permainan para pemegang dan pemilik kekuasaan ekonomi.

Ketiga, kekuatan normatif, kekuatan jenis ini biasanya bersumber dari kebijakan religius, kebenaran moral, dan wewenang yang sah. Pemegang kekuasaan jenis ini memiliki hak moral untuk menjalankan kekuasaannya. Para pemimpin agama biasanya bertumpu pada sumber daya normatif. Jadi kalau ada ribut-ribut antar kelompok agama, sebenarnya lebih banyak disebabkan karena persoalan perebutan sumber daya yang bersifat normatif. Pendeknya mereka berebut siapa yang paling sah sebagai “wakil” Tuhan di muka bumi.

Keempat, kekuatan personal, kekuatan di sini diperoleh melalui pemilikan kualitas-kualitas personal tertentu (kharisma) yang menyebabkan pihak lain tunduk dan patuh. Misalnya saja, Fidel Castro karena daya tarik pribadinyalah sehingga mampu meruntuhkan rezim Batista di Cuba, demikian juga Jenderal de Gaulle yang mampu mendayagunakan kualitas pribadinya untuk mengakhiri perang Aljazair. Sedangkan di Indonesia, Soekarno dan Soeharto juga memiliki kualitas personal yang menarik sehingga orang dibuat tunduk dan patuh padanya. Secara teologis-tradisionil kharisma ini biasanya merupakan anugerah dari Tuhan, sehingga raja-raja sering menjadikan dirinya sebagai personifikasi dari kekuasaan/wakil Tuhan di bumi. Oleh karena itu seorang calon penguasa politik biasanya menghubungkan dirinya dengan keturunan raja agar diakui kualitas pribadinya.

Kelima, kekuatan skill atau keahlian, kekuatan ini diperoleh dengan menggunakan sumber daya keahlian yang dimilikinya untuk menundukkan seseorang. Keahlian tersebut bisa penguasaan informasi dan ilmu pengetahuan, keahlian teknis, dan intelegensi. Seorang sopir bus pada dasarnya memiliki kendali atas bus dan penumpangnya. Seorang dokter memiliki kendali atas pasien dan masyarakat luas dalam bidang kesehatan.

Kekuasaan Politik

Kelima kekuatan tersebut pada dasarnya bisa dirangkum menjadi satu jenis ke dalam kekuasaan politik. Dengan demikian kekuasaan politik merupakan suatu usaha mendayagunakan berbagai sumber-sumber kekuatan/kekuasaan yang ada untuk suatu tujuan politik tertentu, dalam hal ini kekuasaan baik untuk merebut atau mempertahankan. Seorang penguasa politik bisa mengendalikan kelima pemiliki kekuatan/pemegang kekuasaan di atas, dia bisa menyuruh seorang dokter untuk mereproduksi sejumlah “virus yang mematikan” agar rakyat patuh dan tunduk, atau paling tidak dibuat sibuk saja. Dia juga bisa mengendalikan para pemegang kekuasaan ekonomi untuk menaikkan harga atau melangkakan barang untuk kemudian diadakan suatu operasi pasar guna merebut simpatik rakyat. Kalau tidak hal tersebut bisa dijadikan justifikasi untuk melakukan impor terhadap barang tersebut.

Seorang penguasa politik juga bisa mengendalikan para pemilik kekuasaan normatif baik ulama maupun intelektual untuk mereproduksi sejumlah teori maupun ayat yang bisa memberikan justifikasi atas kebijakan politik yang dibuatnya. Penguasa politik juga bisa mengendalikan para pemilik kekuasaan fisik (senjata) untuk dimainkan (diadu) agar mereka senantiasa merindukan kehadiran penguasa politik tersebut. Para pemilik kekuasaan personal pun bisa didayagunakan untuk mengendalikan dan merendam gejolak rakyat. Sehingga jangan heran kalau penguasa politik acapkali memanfaatkan ketokohan seseorang untuk membenarkan tindakannya.

Pendeknya penguasa politik merupakan seorang manusia super, ful power. Sebab dia bisa mengendalikan seluruh pemilik kekuatan dan pemegang kekuasaan. Untuk meraih kekuasaan politik seseorang bisa menggunakan dua cara yakni cara paksaan dan cara konsensus. Kedua cara tersebut dalam masyarakat modern seperti sekarang ini masih bisa kita temukan. Kudeta, pemberontakan, maupun embargo pada dasarnya merupakan cara untuk meraih, merebut kekuasaan politik dengan cara paksaan. Sedangkan cara konsensus bisa dilakukan dengan referendum maupun pemilu. Di mana dalam pemilu tersebut hanya partai-partai politik saja yang bisa mengikuti kompetisi untuk meraih kekuasaan politik.

Dengan demikian kelahiran partai-partai politik yang cukup marak sejak era reformasi tak lepas dalam kerangka meraih dan merebut kekuasaan. Apapun alasannya entah itu dilatarbelakangi pendirian maupun tujuan partai didirikan hanya menjadi performa luar saja, sedangkan prinsipnya ialah meraih kekuasaan politik, sebab menjadi penguasa politik berarti menjadi manusia super ampuh, pengendali atas segala kekuasaan yang ada, dan bisa digunakan untuk tujuan kemaslahatan umat atau sebaliknya yakni untuk memenuhi keserakahan sebagaimana yang disebut di atas. (*)

Recommended For You

About the Author: Djoko Respati

Aktif di ISKRA (Institute Sosial Kerakyatan)