Etika Humanis dan Kecelakaan Lalu Lintas

Prinsip memanusiakan manusia perlu kita terapkan di mana pun berada. Agar kita menjadi seorang yang humanis. Etika humanis perlu kita budayakan di ruang publik manapun. Termasuk ketika kita berlalu lintas di jalan raya.

Mengenai budaya humanis di jalan, kita bisa menengok perilaku warga Belanda. Masyarakat Negeri Kincir Angin ketika berlalu lintas memiliki prinsip, bahwa di jalan pengguna jalan yang paling lemah harus paling dihormati dan mendapat perlakuan utama. Mereka yang paling lemah di jalan, tentunya para pejalan kaki.

Semua mobil di negara finalis Piala Dunia 2010 ini akan berhenti ketika ada pejalan kaki yang akan menyeberang di lampu merah atau zebra cross. Setelah pejalan kaki, masyarakat Belanda sangat menghargai dan menghormati para pesepeda, pemakai sepeda motor, dan baru pengguna mobil. Sehingga, yang paling lemah menjadi kuat dan yang paling kuat menjadi pihak yang harus paling mengalah.

Yohane Widodo, redaktur Jong Indonesia (Majalah Perhimpunan Pelajar Indonesia-Belanda), punya pengalaman menarik. Minggu pertama di Belanda, ketika dia bersepeda onthel Batavus dan akan menyeberang jalan, sebuah sedan kinclong berhenti di depannya dan mempersilakan menyeberang. Kejadian ini membuatnya terharu. Dia tidak merasakan perlakuan dan penghormatan setinggi itu ketika di jalanan Indonesia (Jong Indonesia, No 5 Januari 2011).

Banyak kecelakaan lalu lintas di jalan raya menewaskan pelakunya. Tingginya angka kematian karena kecelakaan lalu lintas selama mudik lebaran tahun ini (sekitar 700-an orang) menjadi bukti bahwa sekarang ini jalan raya merupakan pembunuh yang tak kenal ampun. Jalan raya menjadi teror kematian baru.

Selain faktor fasilitas dan kapasitas jalan yang tidak memadai, faktor mental atau budaya pengguna jalan menjadi penyebab utamanya. Sebagus apapun fasilitas dan selebar berapa pun jalan yang ada, kalau mental pengguna jalan buruk, jalanan akan tetap menjadi pembunuh nomor satu.

Kita perlu memperbaiki mental dan budaya ketika berlalu lintas di jalan raya. Budaya berlalu-lintas yang humanis perlu kita terapkan di jalan. Demi menghargai dan menghormati sisi kemanusiaan kita. Agar manusia mendapatkan tempat yang layak di manapun, termasuk di jalan. Pertanyaannya, bagaimana menumbuhkan budaya berlalu lintas yang humanis?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada beberapa hal yang menjadi penyebab,  mengapa budaya berlalu lintas kita sangat tidak menghargai kemanusiaan. Pertama, tumbuhnya individualisme yang tinggi para pengguna jalan.

Hal itu menyebabkan seseorang tidak lagi memperhatikan kepentingan pengguna jalan lainnya. Baginya, yang penting cepat sampai tujuan dan merasa seolah-olah jalan yang dilaluinya adalah miliknya sendiri. Tidak peduli orang lain mau apa.

Kedua, disiplin dan budaya humanis berlalu-lintas rendah. Kita sering menyaksikan bagaimana perilaku pengguna jalan tidak disiplin dan egois. Ngebut, menyalip sembarangan dengan kecepatan tinggi, terus nyelonong saat lampu merah menyala. Yang memprihatinkan lagi yaitu sebagian besar budaya pengguna jalan kita kurang menghargai pengguna jalan lain yang berkendara dengan sarana di bawahnya.

Pemakai mobil pribadi kurang menghargai pesepeda motor. Pemakai motor kurang menghargai pesepeda onthel. Pemakai onthel kurang menghargai pejalan kaki. Semakin sederhana alat transportasi yang digunakan, semakin menurunkan kadar penghargaan dan penghormatan pengguna jalan lainnya.

Penyebab ketiga, berkaitan dengan prasarana atau infrastruktur jalan yang tidak memadai. Bertambahnya jumlah kendaraan setiap hari perlu diimbangi dengan peraturan pembatasan jumlah kendaraan yang berlalu lalang di jalan. Mengingat sulitnya memperlebar badan jalan seiring peningkatan jumlah kendaraan tiap hari.

Mengikuti teori ekonomi Adam Smith, jumlah penduduk bertambah sesuai deret ukur, sementara jumlah bahan pangan bertambah sesuai deret hitung. Dalam konteks lalu lintas, jumlah kendaraan meningkat sesuai deret ukur dan luas jalan bertambah sesuai deret hitung.

Namun, luas jalan belum tentu bertambah setiap tahun. Bahkan semakin menyempit setiap hari, karena ketidaksesuaian fungsi jalan. Hal itu diperparah dengan bertambahnya jalanan yang rusak setiap harinya. Entah aspal mengelupas, berlubang, atau “tumbuhnya pohon pisang” di tengah jalan.

Jalanan rusak dan budaya berlalu lintas yang tidak ramah pada manusia menggambarkan keadaan masyarakat saat ini. Betapa nilai-nilai kemanusiaan terus tergerus di berbagai tempat. Di rumah, pabrik, kantor, maupun di jalan.

Kita memerlukan perubahan pola pikir, sikap, dan perilaku untuk menempatkan sisi kemanusiaan kita pada tempatnya. Termasuk untuk memanusiakan manusia di manapun, termasuk di jalan.

Prinsip pengguna jalan di Belanda di atas, bisa kita terapkan di jalan untuk mengangkat dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan di jalan. Agar mentalitas, budaya, dan disiplin kita di jalan mencerminkan sisi humanis diri kita.

Prinsip ini akan memanusiakan manusia bagaimana pun kondisinya. Di jalan, prinsip ini menganjurkan untuk menghormati dan mengutamakan yang paling lemah (pejalan kaki, pesepeda). Budaya humanis berlalu lintas bisa menjadi solusi mengurangi pembunuhan di jalan karena kecelakaan.

Selain memperbaiki budaya pengguna jalan, pemerintah pun harus menyediakan dan membangun infrastruktur jalan yang ramah bagi warganya. Agar tidak ada yang mengatakan, “Negara membunuh rakyatnya di jalanan.” (*)

Recommended For You

About the Author: Bonnie Eko Bani

Mahasiswa yang mencurahkan tulisannya di beberapa media