Gerakan Mahasiswa dan Generasi Lurus

Gerakan mahasiswa (germa) mengalami disorientasi gerakan. Perkembangan zaman membuatnya gagap dan salah memosisikan diri dalam proses perubahan.

Perkembangan informasi-teknologi membuat mereka terlena dalam syahwat gemerlap dunia maya. Seharusnya hal itu memudahkan untuk berkomunikasi dan konsolidasi demi perubahan sosial. Ironi yang memprihatinkan.

Aktivis lupa dengan Nestor Paz, Ahmad Dahlan, Che Guevara, dan Tan Malaka yang mewakafkan diri sepenuhnya untuk mewujudkan perubahan yang lebih baik. Dahlan menjual satu-satunya dipan miliknya untuk menggaji guru di sekolahnya. Che meninggalkan istri dan status dokternya untuk merevolusi Kuba, dan banyak teladan lain dari aktivis gerakan masa lalu.

Mereka memiliki karakter kuat dan konsisten dalam menjalani hidup. Hal itu bukan karena faktor intelektualnya, tetapi energi kemauan yang tidak pernah habis, demi perubahan sosial yang lebih baik.

Germa mengalami disorientasi karena kesadaran kritis –yang menjadi trade mark gerakan– berubah menjadi kesadaran kritis palsu (naif) (Freire dalam Nugroho, 2010). Germa tidak konsisten lagi dengan suara nurani perubahan. Bahkan, sekarang ini aktivis germa lebih brengsek dari kaum elitnya, semakin naik level kepemimpinan, semakin elitis dan diperbudak “proyek perubahan” demi isi kantong dan perut.

Kesadaran kritis telah menjadi mitos dan hanya menjadi slogan gerakan, untuk menarik anak baru. Saatnya germa melahirkan generasi lurus yang cenderung pada kebenaran keesaan Tuhan. Generasi yang memahamkan dan mencerahkan rakyat kecil akan hak-haknya yang terampas. Generasi yang merevolusi cara berpikirnya tentang ide perubahan demi keadilan sosial.

Generasi lurus adalah seseorang yang cenderung pada kebenaran. Hadrat Mirza Nasir (2002), mereka adalah orang yang meninggalkan/menjauhi kesalahan menuju petunjuk, mengikuti kepercayaan yang benar, dan menata sekaligus meneguhkan perilaku. Mereka hanya cenderung dan lurus menuju Tuhannya.

Sikap ini melahirkan konsekuensi,  pertama, hanya menyembah dan menghamba pada Tuhan. Kedua, memusatkan harapan, penyembahan, memohon ampun, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Refleksinya, tidak memakan riba/kelebihan, menyantuni fakir miskin, berbuat kebaikan, dan mencegah kemunkaran dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menuju Tuhan harus melalui proses berpikir. Dengan cara mengobservasi, menanyakan dan menyimpulkan secara dialektis, menuju pemahaman hakiki Tuhan. Kemudian memperjuangkan dan menyebarluaskan pemahamannya.

Sehingga, generasi lurus akan berpikir dan bekerja keras memahami substansi masalah sosial yang terjadi, menyebarluaskan dan memperjuangkan pemahaman dengan sepenuh hati dan jiwanya, tanpa memedulikan rintangan dan tantangan yang dihadapi, di mana pun dan kapan pun.

Dari Nestor Paz, Ahmad Dahlan, Che, Tan Malaka, dan aktivis gerakan masa lalu, setidaknya kita mendapati dua hal. Pertama, kepekaan, sensitivitas, dan empati yang luar biasa pada permasalahan sosial di sekitarnya. Dengan kesadaran kritis, nurani mereka tergerak berjuang mengubah ketidakadilan yang terjadi. Mereka independen dan bersikap sewajarnya terhadap harta, takhta, dan wanita. Semua itu tidak membuat mereka berhenti berjuang.

Kedua, sensitivitas dan empati yang mewujud dalam kesadaran kritisnya membuat mereka selalu memiliki energi juang yang tak pernah lekang oleh zaman. Mereka selalu konsisten dalam berjuang, sekonsisten matahari yang selalu menyinari kehidupan bumi tanpa henti.

Sosial Profetis

Sehingga germa perlu melahirkan generasi lurus yang tidak cengeng, sentimentil, dan pragmatis. Agar mereka tidak asyik masyuk dengan isu elit dan meninggalkan rakyat kecil yang hanya menjadi objek dan penonton “sinetron kekuasaan”. Germa dan rakyat kecil adalah penggerak dan pendorong perubahan. Germa harus menyatu dan mengolaborasikan ide-ide perubahan bersama rakyat kecil. Germa harus menyuarakan nurani mbok-mbok jamu, pedagang kecil, buruh, tani, dan kaum miskin kota, yang dijajah negaranya sendiri.

Saatnya germa melepaskan diri dari kungkungan eksistensialisme gerakan. Saatnya berkarya bagi kemanusiaan dan melakukan perubahan realitas sosial yang ada. Karena manusia dan realitas adalah dialektika yang menghasilkan sistem dan struktur kehidupan. Germa harus memahami sistem dan struktur yang menindas, kemudian melakukan perubahan. Caranya dengan “membaca” teks kitab suci dan relasi sosial secara kritis, serta melakukan perubahan sosial menjadi lebih baik.

Hal ini sesuai dengan ajaran sosial profetis yang berupa menentang penindasan, ketidakadilan, dan eksploitasi kaum miskin atau buruh dalam berbagai bentuk; mengartikulasikan teori masyarakat yang benar dan berpartisipasi dalam aksi sosial untuk perubahan yang lebih baik.

Sehingga, pemahaman teks dan realitas sosial yang kritis akan membuat kita berani melakukan apapun, kepada siapapun, dengan cara yang benar. Demi kemanusiaan, kebenaran dan kelurusan kita kepada Tuhan. Menjelang rapat raksasa, Tan Malaka mengatakan, “Suatu saat kita akan berkumpul di Ikada, bukan karena Sayuti Melik keluar masuk desa menghimpun masyarakat atau karena Soekarno berada di sana. Akan tetapi, nurani dan kesadaran kita memanggil jiwa untuk berjalan dan merapatkan barisan di sana.” (*)

 

Recommended For You

About the Author: Bonnie Eko Bani

Mahasiswa yang mencurahkan tulisannya di beberapa media