Anak Dan Masa Depan Bangsa

We worry about what a child will become tomorrow, yet we forget that he is someone today.

Stacia Tauscher

Anak-anak kita adalah masa depan kita, begitulah orang biasa berujar dan khawatir tentang pentingnya memperhatikan anak-anak kita. Tak heran orang tua kita pun rela mengeluarkan koceknya untuk memanjakan buah hatinya, memperhatikan pendidikannya, dan dengan susah payah memberikan yang terbaik untuknya.

Arif Syaifuddin Yudistira

Perhatian ini diwujudkan dengan berbagai cara salah satunya dengan menyekolahkan mereka ke sekolah terbaik, bahkan sejak usia dini. Orang tua kita begitu rela melakukan segala sesuatunya demi meruwat masa depan mereka. Dengan harapan, mereka akan melihat generasinya lebih baik dari generasi yang pernah mereka alami sewaktu mereka kecil. Perasaan harapan berpadu dengan kecemasan, seiring berkembangnya zaman. Kemajuan teknologi membawa anak-anak kita cepat tanggap terhadap hal baru tapi terkadang lupa terhadap hal yang substantive. Alhasil, orangtua pun cenderung gagap dan tidak mampu menemukan solusi terbaik bagi anaknya. Kecenderungan ini membawa mereka(orangtua) kita menitipkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah full-dayyang menjauhkan mereka dari dunia orang tua, dunia ayah dan ibu.

Sementara itu, waktu di sekolah jelas tak bisa mengimbangi waktu anak-anaknya bermain di lingkungan sekitar. Tanpa sadar, orangtua kita adalah orang yang menjerumuskan kita sendiri menjadi orang asing di lingkungan kita. Efeknya tidak main-main dunia anak berubah menjadi dunia yang akrab dengan dunia imajinasi mereka, tapi lupa dengan latar cultural mereka dengan lingkungannya. Sehingga banyak kemudian anak-anak kita berhasil tapi lupa dengan ideology cultural mereka di lingkungannya.

Logika Yang salah
Tugas kita adalah mendidik anak-anak kita, bukan menjadikan mereka menjadi seperti diri kita. Harapan yang berlebihan terkadang membawa sesuatu yang salah dengan dunia anak kita. Kita mempunyai harapan anak-anak kita seperti yang kita inginkan, tapi lupa bahwa mereka adalah anak-anak yang berhak memiliki mimpi dan cita-citanya sendiri. Logika yang salah ini membawa kita pada satu pemaksaan keinginan kita, sehingga anak-anak kita menjadi anak yang melawan, atau menjadi anak yang terlalu penurut dan kurang kreatifitas.

Berbagai film menunjukkan betapa hebatnya anak jika dibiarkan mengejar imajinasi dan mimpi-mimpi mereka. I’m not stupid, 3 Idiots, Laskar Pelangi, Denias, dan lain-lain memberikan penuturan bahwa bakat anak perlu diberi tempat dan dikembangkan. Ketika bakat anak tidak diberi tempat dan dikembangkan, maka anak justru akan mati di tangan orangtuanya sendiri dalam arti mati tidak berkembang.

Sentuhan Ibu
Masa depan anak-anak kita tergantung dari sentuhan ibu-ibu kita. Ibu adalah sosok yang tanpa sadar telah membentuk biografi kita dengan berbagai kisah, dongeng, cerita dan petuah-petuahnya. Dalam bukunya Sarinah & Biografinya–Sukarno, penyambung lidah rakyat, yang ditulis Cindy Adams, Sukarno menjelaskan betapa besar peran sosok seorang ibu yang dengan kasih sayangnya membentuk pribadinya dan semangatnya.

Maka tak heran, para sastrawan, filosof, dan para nabi pun memberikan tempat tertinggi untuk menyampaikan penghargaan terhadap sosok ibu. Ibu menghadirkan imajinasi, ibu menghadirkan inspirasi, dan ibu adalah yang mencipta kita. Akan tetapi yang terjadi di negeri ini nasib para ibu tak seindah kata-kata puitis kita, tak sehebat anugerah yang berkalung di lehernya. Ibu –ibu di negeri ini adalah sejarah nestapa yang tak kunjung reda. Angka kematian ibu di negeri ini Women’s Research Center dalam penelitiannya menyebutkan: Menurunkan angka kematian ibu sesuai target MDGs 2015 sulit dicapai. Jakarta Post (5/3/10) memberitakan, pemerintah gagal memperbaiki kondisi kesehatan ibu. Terbukti angka kematian ibu (AKI) masih 228 per 100.000 kelahiran hidup. Lebih lanjut almarhum Prof dr Soedradji, ahli kebidanan, ”Dengan kemajuan teknologi kedokteran di Indonesia, ibu meninggal karena komplikasi melahirkan seharusnya tidak terjadi.

Ketika nasib ibu tidak bisa kita perhatikan secara serius, maka mustahil kita akan berharap ibu-ibu kita akan memberikan sentuhan yang baik kepada anak-anak kita, sebab nasib mereka dan masalah mereka belum bisa terselesaikan dengan baik. Memperhatikan masa depan anak dan bangsa kita harus diawali dengan memperhatikan dan melindungi para ibu-ibu kita. Hal ini perlu dilakukan dengan berbagai cara antara lain pertama, mensejahterakan mereka dan membebaskan mereka dari kemiskinan yang menjeratnya.

Kemiskinan adalah faktor mutlak para ibu-ibu kita tidak mampu mengurusi dan mencukupi kebutuhan dasar anak-anaknya, sehingga anak-anak mereka kurang gizi dan kelaparan. Keduamemperhatikan pendidikan mereka. Dengan memperhatikan pendidikan mereka, kita akan melahirkan generasi yang cerdas karena faktor keturunan atau gen juga berpengaruh dengan bagaimana generasi kita ke depan. Ketiga, memperhatikan kecukupan gizi dan juga faktor kesehatan para ibu.  Dengan demikian, menghadirkan generasi yang cerdas dan menciptakan anak sebagai harapan dan masa depan bangsa bukan hal yang mustahil kita ciptakan. Semoga!.

Recommended For You

About the Author: Arif Saifuddin Yudistira

ARIF SAIFUDIN YUDITIRA . Lahir 30 juni 1988, bermukim di Klaten, masih studi di universitas muhammadiyah surakarta mengambil jurusan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan bahasa inggris, selain menulis puisi, penulis juga aktif menulis esai, esai dan puisinya tersebar di beberapa media massa seperti Radar surabaya, Suara merdeka, Harian joglosemar, Solo pos, Media Indonesia, Lampung post, Majalah bhinneka, Majalah papyrus, Bulletin sastra pawon, Koran opini.com, gema nurani-com dan lain-lain. Aktif di kegiatan sastra komunitas sastra pawon solo, pengajian jum’at petang, Disanalah penulis belajar tentang sastra dan dunia kepenulisan. Dalam dunia kemahasiswaan sempat menduduki ketua di beberapa lembaga IMM bidang SOSMI, LITBANG PERS FIGUR UMS, Dan KETUA DPM UMS. Selain di bangku kuliah, penulis aktif sebagai presidium kawah institute Indonesia dan bilik literasi Solo Cp : 085642255900