Generasi Muda dan Mitos Warna Kulit

Kulit Putih

Pada masa kolonialisme, politik apartheid secara historis dapat membuat kolonialisme mampu menciptakan jejaring kultural hingga melahirkan konsensus sosial yang begitu masif atas warna kulit di belahan dunia manapun. Konsensus sosial mengenai warna kulit mampu menguasai kesadaran masyarakat dunia hingga kini

dan lebih khusus lagi masyarakat Indonesia.

Sentimen mengenai warna kulit selalu dihembuskan melalui iklan, film, norma-norma sosial, komoditas industri, hingga tradisi dari generasi ke generasi yang telah memadati ruang-ruang kebudayaan dan diskursus masyarakat bumi putra.

Baik pria maupun wanita Indonesia dan terutama generasi mudanya disibukkan dengan memutihkan kulit coklatnya atau kulit gelap mereka dengan menggunakan atau mengonsumsi produk-produk pemutih demi mengejar norma-norma global yang berlaku sekarang. Karena asumsi yang dihujamkan oleh budaya global yang telah diupayakan sejak masa kolonial adalah yang dikatakan cantik atau tampan apabila seseorang memiliki kulit putih.

Pesona Barat

Secara garis besar masyarakat Indonesia terutama bagi para generasi muda, pesona Barat mampu menghipnotis hingga menciptakan imperioritas. Merasa rendah diri dalam segala hal apabila tidak mampu berjalan bersama budaya global yang merupakan kontruksi Barat.

Pesona kulit putih ‘ala Barat’ diperkuat dan dipertajam oleh iklan produk pemutih kulit yang divisualisasikan oleh bintang film yang memiliki kulit putih, body menarik, dan tentunya rupawan. Hingga paket iklan yang dihadirkan akan melahirkan rasa percaya diri, cerdas dan berbudaya dan secara otomatis bagi kita orang Indonesia yang mayoritas berkulit coklat akan merasa imperior.

Hingga pada akhirnya pesona Barat telah menciptakan masyarakat kita secara umum akan mengupayakan dirinya untuk ‘ke Barat-baratan’, baik dari makanan, pola pikir, fashion, warna kulit, design rumah, titel, pasangan, dan segala hal yang berbau Barat. Virus pesona Barat sudah tidak memandang jenis kelamin, usia, kelas, dan desa maupun kota.

Bagaimana Bersikap?

Seperti yang diungkapkan oleh Hassan Hanafi , sikap pertama adalah perlunya merekonstruksi secara kritis tradisi awal sebagai identifikasi diri. Identifikasi diri  ini akan menjadi makin tegas apabila pengetahuan tentang tradisi Barat sebagai tradisi yang datang kemudian  bisa digali dan direlokasi ke dalam habitatnya sendiri (dilakukan pemisahan terlebih dahulu).

Pemilihan secara antagonistis ini kelihatanya merupakan sikap yang dianggap tepat oleh Hanafi. Agenda kedua selanjutnya, memahami tradisi Barat dan mendudukkanya sebagai the other. Bagi Hanafi ini merupakan pekerjaan yang mendesak, dan untuk kepentingan ini sebuah kajian terhadap barat dalam perspektif Timur sangat diperlukan. Kajian ini dalam kajian sosiologi budaya  dinamakan oksidentalisme. (*)

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.