Kader Progresif: Eksistensi Partai Organik

Menurut AS Hornby dalam kamusnya Oxford Advanced Learner’s Dictionary dikatakan, “Cadre is a small group of people who are specially chosen and trained for a particular purpose” atau “cadre is a member of this kind of group; they were to become the cadres of the new community party.” Artinya, sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar.

Hanura sebagai partai yang mampu eksis hingga hari ini, diharapkan mampu melahirkan kader yang  progresif dalam mentransformasikan gagasan dan aksi terhadap rumusan cita-cita yang  menjadi impian seluruh rakyat guna mencapai kemandirian bangsa dan kesejahteraan rakyat.

Dalam aktivitas keseharian, Hanura sebagai partai organik, platform misi partai dalam melahirkan pemimpin yang bertakwa, jujur, berani, tegas, dan berkemampuan, mendekatkan diri pada realitas masyarakat dan secara intens berusaha membangun proses dialektika secara objektif dalam pencapaian tujuan partai adalah salah satu agenda para kader dalam mengemban amanah yang mengedepankan hati nurani.

Daya sorot kader progresif terhadap suatu persoalan tergambar pada penyikapan kader yang memiliki keperpihakan terhadap penegakan hak dan kewajiban asasi manusia dan supremasi hukum yang berkeadilan secara konsisten, sehingga dapat menghadirkan kepastian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang merupakan bagian terintegrasi dalam masyarakat.

Kader progresif yaitu mereka yang tidak tinggal diam ketika melihat berbagai kondisi di masyarakat yang begitu meresahkan. Mereka adalah orang-orang yang mampu menginisiasi, mengorganisasi masyarakat atau kaum mustadafin yang termarjinalkan. Kader progresif adalah kader-kader yang dibesarkan dari partai organik yang bisa menginisiasi dan memiliki kemauan belajar langsung dari masyarakat. Belajar langsung dari masyarakat dengan cara memberdayakan masyarakat.

Transfer of knowledge adalah upaya kader progresif sebagai pemberdayaan dan akan berhasil apabila masyarakat mampu mengubah kondisi masa depan melalui tindakan dan pengambilan keputusan oleh masyarakat sendiri. Dengan kata lain, masyarakat tidak bergantung kepada pemerintah atau siapapun. Artinya, transfer of knowledge bisa diartikan sebagai upaya menginspirasi dan membangun power yang dimiliki oleh masyarakat dalam membentuk simpul sosial.

Membangun power di masyarakat yang dimaksudkan adalah membentuk kemandirian, bukan pemberdayaan program pemerintah yang lebih berorientasi pada logika ekonomi. Kita cukup melakukan community empowerment dengan berorientasi pada logika sosial. Artinya, kita sedang melakukan sebuah transfer of knowledge, bukan transfer of money yang harapannya ke depan sebagai bentuk penyadaran konstituen.

Sebagai kader progresif sekaligus seorang pemimpin muda haruslah melakukan pemberdayaan berbasis komunitas. Sebab hal itu bagian dari kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang merupakan tindakan sederhana yang sudah sewajarnya kita lakukan di lingkungan sekitar. Hal tersebut semata-mata diikhtiarkan sebagai sarana untuk melatih kepekaan sosial, demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Eksistensi Partai
Eksistensi partai adalah efek dari usaha kadernya dalam mereformasi karakter dirinya sebagai bentuk representasi perilaku para kadernya di mata konstituen dan berkehidupan di tengah masyarakat.  Usaha kader untuk mengidentifikasi apa saja kekurangan yang terdapat dalam perilaku dirinya dan menanamkan kemauan yang kuat (determinasi) untuk mengubahnya serta kedisiplinan untuk konsisten dengan perubahan diri yang dilakukan, merupakan formulasi yang harus selaras dengan etika agama, etika sosial, dan etika universal.

Eksistensi partai organik berlandas pada progresivitas kader, memegang prinsip learning by doing dan transfer of knowledge pada konstituen merupakan hal mendasar yang harus dilakukan para kader dan didasarkan pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki rasa ingin tahu. Eksistensi partai organik terletak pada sikap para kadernya yang memiliki kemauan belajar jika dalam situasi kehidupan nyata dengan orang lain. Ketika menyadari adanya masalah sudah seharusnya seorang kader mampu merumuskan dan mengajukan hipotesis pemecahannya, yang diharapkan eksistensi partai di tengah konstituen mampu memberi sebuah solusi. Dan biarkan konstituen berkesempatan menguji solusi yang diberikan.

Nah, yang harus dilakukan oleh seorang kader progresif adalah menjadi sosok ilmuwan, ulama (orang alim), dan sekaligus pemimpin yang menjadi panutan siapapun yang memiliki kejujuran dan hati nurani. Dengan pandangan demikian, dalam diri seorang akan sangat kaya pengalaman dunia nyata dan aktivitas yang berpusat pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Recommended For You

About the Author: Roseno Hendratmojo

Praktisi psikologi yang juga pencinta alam. Lekat dengan program kaderisasi dan pemberdayaan rakyat membawanya larut ke masalah-masalah kebanyakan. Mentor kaum muda yang tekun dan bersemangat.