Teori Darwin dalam Pendidikan

Dalam buku The Origin of Species terbitan 1859, Charles Darwin, seorang ilmuwan Australia, mengemukakan teori The Survival of the Fittest. Teori ini menyatakan, makhluk hidup yang mampu bertahan hidup adalah makhluk yang mampu menyesuaikan diri dengan alam di mana dia hidup. Sehingga, hanya makhluk yang terkuat saja yang bisa bertahan. Darwin juga menyatakan, seluruh makhluk hidup di dunia ini berasal dari nenek moyang yang sama. Mereka mengalami perubahan sedikit demi sedikit dalam proses evolusi. Sehingga, menjadi spesies seperti yang kita lihat sekarang ini.

Darwin dan Tokoh-tokoh Dunia

Teori ini menjadi inspirasi beberapa pemikir dunia dalam menelurkan karyanya. Seperti Karl Marx, Marx Engels, Adolf Hitler, dan Stalin. Dalam pengantar buku Das Capital karyanya, Karl Marx menuliskan ”Dari seorang pengagum setia kepada Charles Darwin”. Namun, teori Darwin sangat bertentangan dengan teori penciptaan dari perspektif agama. Menurut agama-agama di dunia, Tuhanlah yang menciptakan semua makhluh hidup yang ada di dunia ini. Manusia, hewan, dan tumbuhan adalah maha karya Tuhan sebagai wujud eksistensi-Nya.

 

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, teori Darwin menemukan tempatnya di pelbagai lembaga pendidikan, baik itu di sekolah maupun perguruan tinggi negeri atau pun swasta. Kritik Eko Prasetyo melalui buku Orang Miskin di Larang Sekolah menemukan kenyataannya. Peserta didik baru di seleksi berdasarkan kemampuan finansialnya. Bukan kemampuan akademisnya.

 

Hak Warga Negara

Bagi orang-orang miskin,  sedikit tempat untuk kaum tak berada di sekolah. Tentu fenomena ini menjadi ironis. Mengingat pendidikan adalah hak semua warga negara tanpa kecuali. Bahkan, dalam Pembukaan UUD 1945 ditegaskan satu dari empat tujuan bangsa adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan ini diperkuat dalam pasal 31 tentang pendidikan. Artinya, negara wajib memberikan pendidikan yang terjangkau bagi seluruh rakyat Indonesia. Terutama bagi mereka yang tidak mampu secara ekonomi maupun finansial, agar pendidikan tidak menjadi monopoli kaum ber-duit saja.

 

Bagi rakyat kecil, pendidikan masih menjadi sarana mobilitas vertikal demi mengubah nasib dan status sosialnya. Pendidikan masih menjadi sarana menaiki tangga sosial menuju puncak kehidupan yang lebih baik. Bagi mereka, dengan berpendidikan, kemiskinan atau kekuatan ekonominya yang lemah bisa diperkuat. Pendidikan menjadi sarana melepaskan diri maupun keluarga dari jeratan kemiskinan yang melilit generasi keturunan sesudah maupun sebelumnya. Negara perlu hadir untuk mewujudkan harapan sederhana rakyatnya. Sehingga negara tak boleh absen memberikan akses yang seluas-luasnya kepada setiap warga negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang terjangkau bagi semua.

 

Dalam konteks ini, negara jangan menjadi makmum setia dari teori The Survival of the Fittest di atas. Kiranya teori ini tidak relevan bagi rakyat untuk mengakses pendidikan. Teori Darwin dalam pendidikan kita perlu dibuang jauh-jauh oleh negara demi terwujudnya keadilan sosial (dalam hal ini bidang pendidikan) bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan pendidikan yang terjangkau, negara sedang menyiapkan generasi penerus bangsa untuk melanjutkan proses kehidupan menjadi bangsa yang maju dan beradab demi terwujudnya Indonesia yang maju, adil, sejahtera, dan membanggakan. Tentunya bagi rakyat Indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya (*).

Recommended For You

About the Author: Bonnie Eko Bani

Mahasiswa yang mencurahkan tulisannya di beberapa media