Zaken Kabinet dan Bagi-bagi Kursi Menteri

presidenri.go.id

Serahkanlah semua urusan pada ahlinya. Ungkapan ini bisa saja benar. Jika seorang ayah ingin anaknya pintar bermain bola maka dilatihlah pada pelatih sepakbola ternama. Atau jika usahanya ingin lancar maka serahkanlah pada orang yang tahu ilmu bisnis. Begitu pun juga ketika kita membahas soal politik dan pemerintahan. Segala ihwal tentangnya harus dipegang oleh orang yang benar-benar kompeten.

Zaken kabinet adalah jawabannya. Bahwa orang-orang terpilih di jajaran pembantu presiden merupakan orang yang memiliki kompetensi yang bagus di bidangnya. Misalnya, menteri pertanian, siapa yang menjabat, ia adalah ahli di sektor pertanian. Ia juga jago dan berlatar belakang dunia pertanian. Menteri pendidikan, ia adalah orang yang mengerti persoalan pendidikan.

Hal ini bisa menjadi wacana yang solutif di tengah isu reshuffle yang akan dilakukan oleh presiden. Sebuah langkah yang mesti dicoba oleh bangsa ini jika ingin mengharapkan stabilitas politik membaik.

Namun sayang, proses penggantian dan jatah kursi panas menteri masih berdasarkan kuota partai politik. Malah bisa dikatakan hanya “bagi-bagi” kursi tanpa memperhatikan kualitas dan kompetensi si calon menteri atau pejabat.

Pimpinan atau presiden seperti tak mau ambil risiko atau main aman saja, sebab tak ingin terjadi konflik. Padahal kalau motivasinya memang demi kepentingan negara, presiden harus mampu ambil sikap tegas dan proporsional, bukan hanya mencakup kepentingan politik maupun partai saja. Zaken kabinet jadi semacam tantangan, apakah nyali pemimpin itu tinggi. Ataukah setengah-setengah atau bahkan ciut dan masih takut. Fobia pada rongrongan oportunis partai politik. Semestinya, presiden punya tekad dan harapan besar demi kemajuan republik ini termasuk ranah politik.

Nurani Bersih
Dan memang nurani ibarat pelita dalam kegelapan. Suara hati yang jernih tak cuma menuntun jalan dan bisa menjadi hakim dalam setiap tindakan. Dengan jiwa yang bersih, segala keputusan bisa diperhitungkan kemanfaatannya. Jadi tak sekadar untuk kepentingan sesaat, urusan publik dan stabilitas negara di berbagai bidang juga tercukupi. Tak terkecuali saat mengganti para pembantunya, presiden perlu menyimak seperti apa nurani berbisik dan memerintah untuk memilih yang terbaik dari yang terbaik. Jalan keluar dengan menetapkan pola zaken kabinet adalah jalan suci dari kontemplasi dengan nurani yang bersih. Dan memang seharusnya seorang pimpinan memiliki sikap dan hati yang lurus.

Kredibilitas dan kompetensi adalah dua sisi mata uang. Suatu pekerjaan akan memberikan hasil yang mumpuni dan berjalan baik jika dikelola oleh pakar/ahli di bidangnya. Demikian juga soal menteri kabinet, sepantasnya pula dijabat oleh para ahli di sektor-sektor vital sebagai badan pembantu presiden. Jadi, zaken kabinet adalah solusi terbaik untuk reshuffle. (*)

Recommended For You

About the Author: Doni Uji Widyatmoko

Mahasiswa Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta ini adalah copy editor di Harian Joglosemar