Feminisme Profetik

‘Hai kaum perempuan bakarlah semua pakaian kecil yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhmu, lalu hentikan membeli pakaian-pakaian itu dari pasar-pasar kapitalisme, niscaya engkau akan bebas’

Feminisme adalah bidang teori dan politik yang plural, dengan berbagai perspektif dan rumusan aksi yang saling bersaing. Feminisme melihat seks/kelamin sebagai sebuah sumbu organisasi sosial yang fundamental dan tak bisa direduksi yang sampai saat ini telah menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Feminisme diartikan mempunyai ‘gerak’ yang selalu dinamis, sehingga feminisme yang ditempelkan pada perempuan merupakan gerakan untuk menperjuangkan hak-haknya (perempuan, red). Gerakan feminisme adalah gerakan membangun stratsgi politik untuk mencampuri kehidupan sosial demi kepentingan perempuan.

 

Gerakan Modernisme Menjerat Feminisme

            Modernitas melabrak gerakan-gerakan yang mengangkat kesetaraan perempuan. Keberadaan rezim modernitas yang didukung oleh globalisasi ini sadar atau tidak sadar mereduksi posisi tawar feminis atas peferensi yang kaum perempuan harapkan. Menghancurkan kekuatan rezim ini adalah yang selalu ingin dilakukan para feminis, namun selalu gagal karena konstruksi kekuatan rezim yang kian menguat. Modernistas justru semakin memperkecil ruang gerak feminis dalam mengorganisir kekuatan dan penyadaran perempuan, banyak perempuan yang justru terjebak dalam lingkaran permainan modernitas yang lahir dari rahim globalisasi. Praktik yang sering muncul adalah eksploitasi besar-besaran tubuh perempuan untuk penyokong kapital segolongan penguasa.

 

Hegemoni Kapitalisme

Gerakan perempuan di dunia Barat sangat heroik mengutuk “fasisme sosial kapitalisme” tetapi tidak mencoba untuk melihat lebih jauh apa penyebab yang mendorong kapitalisme bisa berbuat jahat atas perempuan. Sesungguhnya, ada problem epistemologis yang menyangkut reproduksi pengetahuan berulang-ulang yang menempatkan perempuan sebagai komoditas kapitalisme. Reproduksi tersebut akhirnya memunculkan keyakinan bahwa memang demikianlah seharusnya memandang perempuan.

Tidak ada usaha serius untuk mencari pengetahuan baru sebagai jalan keluar dari keterkungkungan dan hegemoni kapitalisme tersebut. Dengan buku ini, penulis berusaha memberi jalan bagi perempuan untuk keluar dari sistim sosial yang menindas dengan tetap pada suatu komitmen perjuangan. Perjuangan untuk membebaskan diri dari hegemoni sistim, budaya dan pengetahuan yang menjelma menjadi mesin kolonialisme yang menyejarah. Harapannya, tidak ada lagi kekerasan atas diri perempuan, tidak ada lagi penindasan dan eksploitasi tubuh, baik melalui media massa maupun melalui pertunjukan-pertunjukan yang mengobral tubuh perempuan.

 

Menggagas Feminisme Profetik

            Agama Islam sesungguhnya mengapresiasikan feminisme, baik sebagai teori sosial maupun sebagai ideologi perlawanan kaum perempuan. Istilah ‘profetik’ yang digagas Kuntowijoyo ini mampu mengimbangi teori-teori barat yang cenderung sekular. Dalam hal ini bagaimana Al-Qur’an secara terus-menerus membicarakan manusia, memperbincangkan agar manusia menjalani kehidupan bukan hanya sekedar hubungan ritual dengan Allah swt, tetapi bagaimana manusia menjalani aktivitas sosialnya yang selalu membebaskan belenggu-belenggu material. Nabi Muhammad saw adalah feminis sejati yang menghilangkan jerat atas kesewenang-wenangan perempuan di Arab waktu itu, yakni praktik penguburan anak perempuan dan praktik perbudakan perempuan. Begitu jahatnya tradisi jahiliyah yang menyejarah itu. Perempuan saat itu dinilai menjadi beban berat untuk dibiarkan hidup. Maka, dengan feminisme profetik ini, perempuan dapat befikir menggunakan logika sejarah Al-Qur’an yang dapat dijadikan jawaban atas tantangan zaman dan humanisasi. Perempuan bergeraklah!!!. (*)

Recommended For You

About the Author: Wulan Rahayu

Gadis mungil yang kesengsem dengan pemandangan alam ini adalah redaktur pelaksana Gema-nurani.com dan hobi menuangkan isi ide kepalanya dalam sebuah tulisan.