Hijrah dan Perubahan Sosial Politik

Tanpa terasa kita memasuki tahun baru Hijrah yang jatuh bertepatan pada tanggal 27 Nopember 2011 dimana pada tanggal tersebut jatuh 1 Muharram 1433 Hijriyah. Berbeda dengan perhitungan kalender masehi yang berpatokan pada peredaran matahari. Kalender hijrah berpatokan pada peredaran bulan, yang merupakan tahun baru Islam. Dinamakan tahun hijrah sebab penetapan atau diperlakukanya tahun ini diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Yastrib atau Madinah al al-Munawwarah, Kota Cahaya. Penetapan tahun baru Hijrah tersebut terjadi pada waktu khalifah kedua yakni pada kepemimpinan Umar Bin Khatab. Pada waktu itu banyak usulan yang disampaikan sahabat kepada khalifah Umar mengenai dari mana awal kalender Islam itu hendak dimulai, ada yang mengusulkan hari kelahiran nabi sebagai patokan awal dimulainya kalender Islam adapula dari peritiwa diterimanya wahyu pertama dan sebagainya.

Dari semua usulan yang masuk, Khalifah Umar mengambil peristiwa hijrah sebagai awal dimulainya pemakaian kalander Islam. Pemilihan ini tentu bukan tanpa alasan dalam pandangan Umar pemilihan peristiwa kelahiran nabi bisa menjurus pada khultus individu karena itu ditolaknya dan lebih memilih peristiwa hijrah. Selain berdimensi spiritual/rohani karena datangnya dari perintah Allah, hijrah mengandung dimensi sosial-politik bagi dakwah Islamiayah, bagi perjuangan nabi/umat islam,  bagi kemajuan umat di segala bidang, karena itu khalifah Umar memilih perisiwa hijrah.

Konsepsi Hijrah

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam bentuk nominal hijrah diartikan dengan perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama sebagian pengikutnya dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy, Makkah. Sedang dalam bentuk verbal, berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya). Sementara itu dalam kamus Al-Munawir Arab Indonesia, kata hijrah diartikan pindah ke negeri lain. Menurut bahasa kata hijrah berasal dari hajara-yahjuru yang berarti memutuskan dan meninggalkan.

Dari pengertian hijrah di atas, maka ada dua makna yang dapat diambil, yaitu hijrah makani (perpindahan tempat), yakni dalam konteks fisik dan hijrah ma’nawi, yakni pada konteks non fisik.

Karena itu dalam konsepsi hijrah secara tidak langsung berarti berkorban meninggalkan rumah dan kampung halaman, keluarga tanah dan bangsanya serta seluruh harta benda dan benda-benda bergerak lainnya yang didambakan manusia, demi tujuan yang lebih mulia. Suatu transformasi untuk mencapai tujuan yang luhur, titik kulmuniasi, atau puncak jihad ketika orang-orang yang berjuang untuk mencapai sebuah tatanan baru yang berdasarkan pada kebenaran dan kesetaraan antar manusia menolak tatanan lama yang berdasarkan pada diskriminasi dan korupsi guna mempercepat tujuan perjuangan melawan kekuatan-kekuatan kejahatan tatanan yang sudah using.

Titik hijrah di antara batas-batas dan garis-garis tatanan lama dengan tatanan yang baru terletak tidak hanya pada tataran fisik-geografis, psikologis, cultural, intelektual dan tataran peradaban karena titik ini memaklumatkan matinya dunia yang diskriminatif, terpecah-pecah, korup, dan tua Bangka, dan mempromosikan lahirnya sebuah dunia baru yang penuh semangat keadilan dan kesamaan.

Hijrah adalah suatu perpindahan dari imoralitas kepada moralitas dari kepalsuan kepada kebenaran, dari kegelapan kepada terang-benderang. Dengan demikian, seorang muhajir adalah seorang yang setia kepada kebenaran dan keadilan. Dia adalah orang yang berprinsip dan revolusioner, tegas dan berani serta tidak mengenal kompromi dengan kekuatan-kekuatan yang korup, tidak mengendorkan usaha-usahanya. Muhajir sangat mencintai revolusi dan hanya untuk alasan inilah dia memberontak terhadap korupsi dan penindasan tatanan sosial yang lama.

Dia membaktikan dirinya semata-mata hanya untuk jalan kebenaran, keadilan, kesetaraan dan kemerdekaan kasih sayang dan persaudaraan. Hijrah adalah garis pemisah antara kontras-kontras dan kontradiksi-kontradiksi antara hidup dan mati, antara perbudakan dan kemerdekaan antara diskriminais dan kesetaraan.

Hijrah Muhammad

Semua nabi mengajarkan untuk melakukan hijrah guna meninggalkan nilai-nilai lama menuju terbangunnya tatanan sosial baru. Nabi Ibrahim hijrah meninggalkan ayahnya, kaumnya dan rumahnya serta negerinya di Ur Khaldea Mesopotamia dan pindah ke Syiria dan  tinggal di daerah pantai Kanaan Palestina. Ibrahm hijrah untuk meninggalkan tataan politik yang diktator-fasis, serta berjuang untuk menghargai kesetaraan manusia, kebenaran, dan persaudaraan.  Musa meninggalkan Mesir dan hijrah ke negeri orang-orang Midianit di Semenanjung Sinia. Musa hijrah untuk melepaskan diri dari tatanan sosial-politik yang korup, diskriminatif, represif nan tiran dan mempersiapkan dirnya untuk membentuk sebuah tatanan baru. Demikian pula Nabi Muhammad SAW meninggalkan Mekah menuju Yasrib ..

Muhammad hijrah ke Madinah tak kala kota Mekah bangun sistim sosial-politik oligarkhi yang  terdiri dari para pedagang, kaum feodal/bangsawan, para pemilik budak, lintah darat dan para rohaniawan-ulama yang berkomplot untuk mempertahankan status quonya yang korup mencapai puncak kejayaaannya. Hijrah Muhammad dari Mekkah ke Yastrib tidak dilakukan begitu saja, akan tetapi penuh perhitungan dan strategis hal ini setidaknya terlukis dalam perjalanan nabi. Dimana nabi menyuruh Ali untuk menggantikan beliau tidur di ranjang, serta menugaskan Abdullah bin Abu Bakar untuk mengintai pergerakan lawan, serta berjalan dikegelapan malam menjemput Abu Bakar untuk kemudian menuju ke gua di bukit Tsaur tidak langsung menuju Yastrib. Kemudian bermalam selama tiga hari tiga malam di gua. Ketika menuju Yatrib beliau pun tidak melewati jalan utama/jalan raya akan tetapi jalan tikus dan dipandu seorang guide yang bernama ‘Abdullah bin Arqats.

Setibanya di Yastrib Nabi Muhammad mulai mempelajari karakter sosial-keagamaan dan  komposisi demografis dari penduduk Madinah dengan melakukan sensus penduduk. Dari sensus tersebut diketahui bahwa penduduk Madinah sebanyak 10.000 orang dimana 1500 orang merupakan pemeluk Islam (muslim), 4000 orang Yahudi dan 4500 orang musyrik Arab (Ali Bulac, 2001). Setelah mengetahui karakteristik dan komposisi penduduk Madinah baru kemudian Muhammad mulai menyodorkan suatu bentuk perjanjian yang sering disebut sebagai Piagam Madinah. Kedua hal tersebut merupakan hal yang baru dan asing dalam kehidupan umat manusia, sebuah pekerjaan modern yang lahir pada zaman pra-modern. Piagama Madinah tersebut dalam bahasanya John Locke, Rousseau maupun Thomas Hobbes merupakan bentuk dari terori kontrak sosial (social contract).   

Menurut ahli sejarah Piagam Madinah tersebut bisa diterima oleh berbagai suku bangsa lantaran dibangun atas dasar kesamaan kemanusiaan, bukan atas dominasi militer banyaknya pengikut, maupun kekayaan-uang. Dengan demikian keanekaragaman bentuk kepercayaan mampu menjadi bagian dan membentuk suatu kesatuan politik. Hanya dalam waktu kurang lebih 10 tahun semenjak Nabi Hijrah tatanan politik baru yang lebih adil, setara telah diwujudkan, bandingkan dengan reformsi kita yang hingga kini belum menemukan bentuknya.

Hijrah Nabi

Hijrah para nabi tersebut dilakukan hanya semata-mata untuk menciptakan suatu tatanan sosial yang menjunjung nilai-nilai keadilan, kebenaran, kemerdekaan, kesetaraan kasih sayang dan persaudaraan. Sehingga mereka merelakan untuk melepaskan segala ikatan kekerabatan, persaudaraan, hubungan darah, hak-hak istimewa mereka, harta benda , rumah dan harta benda maupun nilia-nilai serta lembaga-lembaga mereka yang telah rusak, bejat, korup dan penuh kepalsuan.

Oleh karena itu seorang muhajir adalah mereka yang setia pada nilai-nilai kebenaran, keadilan, kesetaraan bukan pada primodialisme kelompok baik yang bersifat kedaerahan/kesukuan, profesi, satuan keagamaan, maupun ikatan-ikatan kepartaian, keluarga besar alumni maupun yang lainnya. Pendeknya seorang muhajir mereka yang memiliki prinsip dan revolusioner, tegas, berani, tidak kenal kompromi dengan siapapun yang dihadapinya.

Dengan demikian hijrah merupakan sunatullah yang harus diikuti oleh seluruh umat Islam, dan hijrah merupakan suatu teladan bagi para muhajir/pejuang Islam yang bermaksud membangun tatanan sosial-politik yang berkeadilan sosial. Sebab didalamnya penuh dengan semangat taktik dan strategis dalam mewujudkan suatu bangun masyarakat yang menujung tinggi nilai kemanusiaan. Sehingga cara-cara yang dilakukan oleh Nabi Muhammad pun sangat manusiawi. Hal ini bisa tergambar bagaimana Nabi mengatur siasat meninggalkan kota Mekkah serta bagaimana Nabi mulai membangun suatu tatanan sosial yang berkeadilan selama di Yastrib/Madinah. Baik yang menyangkut konsepsi, taktik dan strategis serta rencana operasional semua memberi teladan bagi kita.

Dari semangat hijrah ini para reformis bisa belajar bahwasa dalam membuat undang-undang maupun produk hukum hendaknya didasari oleh kesetaraan sosial, keadilan dan kemanusiaan universal bukan atas dominasi kelompok, apalagi pesanan dari segeliter orang yang memiliki kekuatan uang maupun kekuasaan. (*)

Recommended For You

About the Author: Djoko Respati

Aktif di ISKRA (Institute Sosial Kerakyatan)