Ketika Media = Mesin Hasrat

Informasi dan Komunikasi

Perkembangan teknologi informasi dan komu­nikasi mutakhir dewasa ini telah memungkinkan masyarakat dunia hidup dalam era informasi global. Proses komunikasi yang dipercepat dengan penyebaran informasi yang diproses, dapat diakses dengan sangat cepat melalui instrumen bernama ‘media’ yang telah menjadi ciri peradaban mutakhir. Proses ini menyebabkan keberadaan teknologi komunikasi dan informasi menjadi hal yang mutlak.

Seperti auditorium sunyi yang terbangun dalam kawasan komunikasi dan informasi, ruang-ruang fiksi telah diolah menjadi makna yang sesungguhnya, dan senantiasa, secara perlahan tapi pasti, membuka pintu dan jendela bagi makhluk bernama manusia. Padahal, harapan, cita-cita, kegilaan, ketakutan, atau mimpi tidak mungkin terpenuhi oleh ambisi barbarian dengan memejamkan mata dari kenyataan atas kebenaran.

Homogenitas

Akhir sejarah yang digambarkan Fukuyama sekaligus juga melukiskan akhir keragaman budaya (Homogenezing culture), karena dampak dari globalisasi akan menciptakan hegemoni budaya dan ideologi, dan bersamaan dengan ini pula secara otomatis akan tercipta homogenitas budaya.

Di masa manusia modern saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir (telekomunikasi, televisi, internet) telah membantu memperlancar proses homogenisasi ini, tidak peduli asal-usul historis dan teritorial berbagai budaya (plural) yang ada di dalamnya. Gerakan media ini sangat massive dan discursive dalam  mendukung globalisasi ekonomi dan budaya, mekanisme yang begitu canggih hingga mampu memprofokasi masyarakat dari tingkat nasional, tingkat kabupaten, bahkan hingga pedesaan.

Dalam wilayah komunikasi dan informasi, makna merupakan konsep yang abstrak. Seperti yang dikemukakan Fisher, sehingga melahirkan berbagai penalaran yang tidak terbatas. Imaji-imaji tentang kehidupan dan kematian, fakta dan ilusi, kebenaran dan kebohongan, kemuliaan dan keja­hatan telah menjadi bias ketika ditransfer ke ruang-ruang media yang sarat kepentingan.

 Media dan Hasrat

Seiring dengan perubahan peta politik tanah air pasca reformasi, dan bersamaan pula dengan semakin mengakarnya era pasar bebas semesta. Media massa, khususnya, datang dari segala penjuru dengan berbagai perspektif, tetapi memiliki tujuan sama, yaitu pasar sebagai target orientasi produk. Mereka menyerbu dari setiap inchi ruang-ruang sosial masyarakat tanpa mengenal tapal batas dengan memanfaatkan momentum liberalisasi dalam berbagai bidang.

Dalam kondisi seperti ini media telah menjadi “mesin hasrat”, menjadikan apapun yang ditampilkannya sebagai model. Di dalamnya telah membentuk sebuah citra, ideom, simbol yang nantinya akan mengarahkan pada satu model budaya dan model ekonomi global.

Hal ini bisa kita  lihat satu stasiun televisi yang menjadi ikon budaya global, ia dapat kita sebut “G TV”, di dalamnya ada satu ruang, citra, ideom dari kepentingan global yang akan mengarahkan kita dan terutama ABG bangsa ini  pada satu hasrat yaitu konsumerisme, terhadap satu hasrat tentang apa dan bagaimana hiburan dinikmati dan diekspresikan melalui MTVnya. (*)

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.