Memaknai Kembali Etos Haji dan Qurban

“Raut wajah dan bentuk yang berbeda-beda, pakaian yang serba khas, adat-istiadat yang beragam,bahasa yang tidak sama dan warna kulit yang berbeda-beda namun persatuan ukhuwah yang satu dan tujuan yang satu pula yakni menunaikan haji”

(Azkarmin zalni,1975 dalam bukunya Pengalaman haji di tanah suci)

            Baru saja kita menyelesaikan dan merayakan hari raya idul qur’ban. Hari raya qur’ban tidak terlepas dari serangkaian ritus haji. Ibadah qurban adalah ibadah yang dimaknai sebagai salah satu bentuk pengabdian total atau totalitas ibadah manusia terhadap Tuhannya. Karena berdasarkan sirah Ibrahim, Ibrahim melakukan ini sebagai wujud totalitas kecintaanNya kepada Tuhannya sehingga ia mau melakoni perintah Alloh untuk menyembelih anaknya. Di jalan, Ibrahim digoda oleh iblis yang kemudian dilempar oleh Ibrahim sehingga jadilah tiga jumrah yakni jumrah ula’, wustha’, dan aqabah. Di tempat itulah kini dibangun tugu yang digunakan untuk meniru Ibrahim sebagai simbol melempar syetan dan sebagai bagian dari ritual ibadah haji.

Dalam ibadah haji, sebagaimana yang diungkapkan Azkarmin dalam bukunya (pengalaman ibadah haji di tanah suci, 1975), bahwa ibadah haji adalah bentuk penyatuan umat sedunia. Prinsip utilitas dan universalisme ada di sana, islam itu universal, meluluhkan batas-batas duniawi dan material, untuk kembali pada satu hakikat yakni Tuhan. Di sanalah kemudian manusia setelah melakukan ibadah haji diharapkan memancarkan sifat-sifat Ketuhanan dengan berbagai cara setelah melakukan ibadah haji. Maka harapan menjadi haji mabrur dimaknai sebagai haji yang bisa menanamkan kebaikan dan menaburnya di berbagai tempat dan kapanpun ia berada (Cak Nur, perjalanan haji dan umrah, 97).

Penyatuan dan hakikat kesatuan ini pun pernah dialami oleh Sidharta ketika ia bercermin di Sungai Gangga, ia menemukan hakikat dirinya, ia melihat manusia berjalan berbondong-bondong, dan berjalan bergemuruh di sungai tersebut, dan di sana ia menemukan kekosongan, kekosongan adalah isi, isi adalah kosong. Berbeda dengan Sidharta, dalam ibadah haji, di waktu berjuta-juta manusia berkumpul di Mekah, ketika mereka sedang melakukan Thowaf di ka’bah mereka merasakan berbondong-bondong manusia menyerukan hakikat kebesaran, melebur dalam satu tekad, dan satu tujuan yakni Tuhannya. Di sana berlantun do’a dan harapan agar manusia memancarkan kebaikan ketika nanti berpulang di kampung halamannya.

Disinilah hakikat haji itu terletak, bahwa insan haji adalah insan prophetic. Ketika mereka menemukan siapa dirinya, di ka’bah dan menjalankan haji dengan segenap rukun-rukunnya dengan baik, maka ia menyadari segala yang diperintahkan dan dilarang, ia melakoni doa sepanjang perjalanan haji, dan menapak tilas apa yang dilakoni Ibrahim menyerahkan harta dan segala yang dicintainya untuk Tuhannya melalui ritus qur’ban. Maka ia telah kembali seperti bayi lahir. Ia tidak cukup berhenti di sana, tapi ia mengemban tugas dan misi profetik yakni menabur kebaikan dan menyingkirkan kemungkaran dimanapun ia berada. Maka manusia haji yang tak mampu melakoni dan mengilhami ini, biasanya ia akan biasa-biasa saja setelah ia pulang dari haji. Tapi sebaliknya, manusia haji yang mengilhami dan merasai hakikat haji sebagai pengemban misi profetik, maka ia akan menebar kebaikan dan memberi pencerahan bagi manusia di sekitarnya utamanya masyarakatnya.

 

Manusia haji kita

Haji di negeri ini serasa belum menemui haji mabrur. Ketika kita melihat berbagai kemungkaran dan kedzaliman saat ini tidak hanya terjadi pada penguasa dan juga elit politik kita, tapi mulai merambah pada desa-desa kita. Sementara manusia haji di negeri ini lebih mengejar titel atau gelar “haji” dari orang-orang. Haji adalah status, bukan lagi misi profetik. Maka tak jarang mereka haji hingga berpuluh-puluh kali tapi tak menemui esensi dari haji itu sendiri. Mereka melakoni do’a dan haji baru pada tahapan fisik, tapi belum merasai sentuhan dan hakikat haji itu sendiri.

Lihatlah betapa politisi kita dan koruptor kita adalah manusia penyandang haji, atau ulama’ulama’ kita adalah manusia haji, begitupun presiden dan elit birokrasi kita, tapi mereka belum mampu melempar jumroh-jumroh yang ada di negerinya. Yakni korupsi, kolusi, nepotisme, hingga penyakit moral masyarakat lainnya. Alhasil manusia haji kita berubah menjadi manusia hajirut yakni haji yang justru jadi bahan tertawaan kita sendiri.

Film emak ingin naik haji mestinya jadi pelajaran buat manusia indonesia yang belum dan akan melakoni haji. Haji itu spirit, haji itu hakikat, haji itu pengorbanan dan keikhlasan bukan hanya ucapan mulut, bukan hanya pamer gelar dan status, bukan hanya tempelan di depan nama kita. Melainkan haji itu misi, haji itu adalah tantangan, dan juga tugas suci.

Haji dan Qurban

            Sebagaimana haji, qur’ban tak jauh beda, qur’ban sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Kautsar ayat 1-3. Menerangkan Qur’ban adalah perintah yang dilakukan sebagai pengabdian, karena Tuhan telah memberikan nikmat yang banyak kepada kita. Sebelum qur’ban dimulai dengan mendirikan sholat karena Tuhan. Dan orang yang berqurban sebelum berqurban dituntunkan untuk menyempurnakan shalat mereka karena Alloh.

Kebanyakan kita, tidak menyadari qur’ban berangkat dengan sikap taat kita sebagai  sebagai hamba di hadapan Robb-nya. Ibadah qur’ban adalah puncak, sebagaimana yang dituntunkan oleh Ibrahim. Ibrahim sudah melakukan ibadah-ibadah lainnya sehingga ia melakoni perintah yang menurut Tuhan adalah ujian puncak ketaatan hamba pada Tuhannya. Yakni mengurbankan anaknya sebagai sembelihan.

Maka etos qurban mengajarkan pada kita “bahwa penyatuan pada Illah, serta hakikat pengabdian tertinggi yang membawa misi suci ketika hamba sudah menyatu pada Tuhannya, maka mustahil jika ia akan berdiam melihat kemungkaran dan kedzaliman di negeri ini”. Ibadah haji dan qur’ban adalah serangkaian, maka haji mabrur dan orang yang berqur’ban mestinya memaknai bahwa dirinya adalah para insan profetik yang mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar. Bukankah masih banyak kemungkaran di negeri ini?. Maka memaknai Haji dan Qurban tidak lain adalah memahami bahwa kita adalah manusia pelopor dalam memimpin perang melawan kedzoliman dan pemimpin dalam menegakkan misi profetik Tuhan. Begitu. (*)

Recommended For You

About the Author: Arif Saifuddin Yudistira

ARIF SAIFUDIN YUDITIRA . Lahir 30 juni 1988, bermukim di Klaten, masih studi di universitas muhammadiyah surakarta mengambil jurusan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan bahasa inggris, selain menulis puisi, penulis juga aktif menulis esai, esai dan puisinya tersebar di beberapa media massa seperti Radar surabaya, Suara merdeka, Harian joglosemar, Solo pos, Media Indonesia, Lampung post, Majalah bhinneka, Majalah papyrus, Bulletin sastra pawon, Koran opini.com, gema nurani-com dan lain-lain. Aktif di kegiatan sastra komunitas sastra pawon solo, pengajian jum’at petang, Disanalah penulis belajar tentang sastra dan dunia kepenulisan. Dalam dunia kemahasiswaan sempat menduduki ketua di beberapa lembaga IMM bidang SOSMI, LITBANG PERS FIGUR UMS, Dan KETUA DPM UMS. Selain di bangku kuliah, penulis aktif sebagai presidium kawah institute Indonesia dan bilik literasi Solo Cp : 085642255900