Mempertanyakan Fungsi KPI

Semuanya tentu setuju jika yang menjadi prioritas adalah masa depan anak-anak Indonesia, karena merekalah (anak-anak, red) yang kelak memimpin bangsa ini. Bagaimana anak-anak itu bertindak tentunya juga tidak luput dari peran media massa. Media massa misalnya, televisi juga ikut membentuk karakter mereka. Masa anak-anak memang menjadi masa yang menarik. Dunianya seperti dunia khayalan yang ingin dinikmati sendiri. Anak-anak usia 0-5 tahun adalah anak-anak yang mudah terpengaruh. Jika mereka disuguhi siaran pendidikan maka mereka akan jadi pintar, namun jika disuguhi siaran yang bersifat kekerasan, mereka akan menjadi beringas.

Komisi Penyiaran Indonesia

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tentunya berperan besar dalam membentuk karakter anak-anak Indonesia. Sekarang ini banyak sekali tanyangan di televisi yang menyuguhkan kekerasan dalam bentuk hiburan anak-anak. Naruto, One Piece, Alvatar, Power Ranger, Dragon ball dan film sejenisnya yang masih bebas dan berjaya di negeri kita ini. Film-film tersebut tentunya bisa memicu tingkah laku anak-anak menjadi agresif karena menirukan tokoh idolannya. Seperti dalam film Dragon ball, yang jelas-jelas menunjukkan adegan saling memukul antara satu dengan yang lain. Bukan hanya itu, tempat mereka bertarung sampai hancur lebur karena pertarungan tersebut. Tontonan seperti ini otomatis memberikan doktrin kekerasan kepada anak-anak. Ketakutannya adalah jika mereka terbiasa melihat acara seperti itu mereka akan menjadi terbiasa melakukan kekerasan.

Kontroling

Dalam hal ini, kita juga bisa menyoroti peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang bertugas mengontrol tayangan yang ada di televisi Indonesia. Seperti yang tertulis dalam pasal 8 ayat 2d yang menyatakan akan memberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran. Pasal ini menegaskan jika KPI mempunyai wewenang untuk memberikan sanksi kepada stasiun televisi yang melenceng dari peraturan yang sudah dibuat. Melihat tayangan semacam Dragon ball ini masih bebas merdeka berpentas di televisi dalam negeri menandakan KPI belum maksimal dalam menjalankan tugasnya.

Jika KPI terus membiarkan tayangan seperti ini merajalela maka ada kekhawatiran anak-anak Indonesia bisa berperilaku brutal. Menurut Teori Kultivasi, khalayak memusatkan perhatiannya pada pengaruh media komunikasi khususnya televisi. Teori kultivasi berasumsi bahwa pecandu berat televisi membentuk suatu citra realitas yang tidak konsisten dengan kenyataan (denontarr.blogspot.co.id/2008/11/teori-kultivasi.html). Berarti lama kelamaan anak-anak yang menonton  serial semacam Naruto ini bisa menganggap kekerasan adalah hal yang biasa dan bisa-bisa malah menmacu mereka melakukan tindak kriminal.

Melihat kenyataan semacam ini KPI diharap bisa bertindak tegas dengan stasiun televisi yang menayangkan acara-acara serupa Naruto. Jika KPI tidak menindak tegas berarti orang-orang KPI saat ini benar-benar sudah tidak bertanggung jawab. Bukan hanya KPI yang tidak bertanggung jawab, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi (DPRDP) juga tidak bertanggung jawab karena sebagai pengawas KPI juga tidak kunjung menegur KPI untuk melakukan tugasnya.

KPI sebaiknya segera bertindak tegas untuk mensensor tanyangan-tayangan semacam ini, semakin lama mereka bertengger menghias dunia pertelevisian kita semakin diracuni pula generasi penerus bangsa. Mari perbaiki tayangan pertelevisian kita supaya lebih bagus dan membangun. (*)

Recommended For You

About the Author: Ryantono Puji Santoso

Mahasiswa Komunikasi ini adalah Pemimpin Umum LPM Pabelan UMS