Menemukan Pemimpin Bangsa

Wacana Kepemimpinan

Di Indonesia dan mungkin juga di sebuah Negara belahan bumi manapun,  wacana kepemimpinan bangsa akan selalu menarik untuk dibicarakan, baik dari zaman prakemerdekaan maupun pascakemerdekaan. Wacana ini terus menggelinding dari orde ke orde dan dari pemerintahan satu ke pemerintahan yang lain, dan takkan pernah usai apalagi dengan melihat kondisi bangsa saat ini yang tengah terombang-ambing bak sekoci dihempas badai dari segala bentuk kepentingan.

Ideologi dan  kalangan tua-muda diperhadap-hadapkan untuk kepentingan kekuasaan. Ideologi yang satu merasa lebih baik dari yang lain, kelompok tua merasa paling berpengalaman dan yang muda merasa paling berani yang diambil dari pohon idealisme.

Pada  kenyataannya, yang tua tetap mewarisi budaya korup rezim sebelumnya bahkan dengan mode konspirasi yang lebih hebat. Eksistensi kaum muda-pun tak ubahnya seperti duri dalam daging yang bukan malah membuat maju bangsa, tapi menggerogoti negeri ini dengan keserakahan. Kemenonjolan kaum muda kini mulai dari Bupati, Gubernur, anggota DPR/DPRD, dan jabatan-jabatan politis lainnya diraih tanpa “berdarah-darah” laiknya kaum muda generasi dulu.

Generasi Indonesia

Menengok realitas sejarah dari tiap generasi kegigihan diuji untuk menghadapi persoalan bangsa pada ruang dan waktunya sendiri. Boleh dikatakan generasi Indonesia yang cukup berhasil dalam lingkaran idealisme kebangsaan adalah para tokoh generasi awal, mereka yang telah berhasil meretas kolonialisasi dan menyibak celah-celah kemerdekaan.

Kolonialisme dan perjuangan kedaulatan merupakan kesepakatan bersama dengan berjuang hingga mengorbankan tetes darah dan air mata. Generasi setelah itu ditandai persoalan koeksistensi ideologi. Demokratisasi dan kekuasaan sepanjang hayat diperhadap-hadapkan. Mereka juga mempertaruhkan ide, gagasan, dan pemikiran memapankan strategi politik, ekonomi, budaya, dan sosial. Usai itu, generasi stabilitas muncul yang tampak dari luar memberi kesan kesejahteraan dan kesentosaan nyata, walau sebenarnya absurd.

Dimasa-masa inilah pisau tajam kaderisasi dan regenerasi pemimpin “ditumpulkan”. Ditumpulkan dalam arti generasi yang terlambat tampil kepermukaan karena perannya direnggut. Kekuasaan politik ekonomi, sosial, dan budaya tersentral dalam satu kepemimpinan dan dipaksa berjalan hingga berpuluh tahun lamanya. Hampir-hampir tidak ditemui gelagat tampilnya kaum muda penuh percaya diri.

Pada masa perayaan demokratisasi saat ini, penumpulan generasi muda terus berlanjut namun dengan cara yang berbeda. Di mana kaum muda diberikan kesempatan untuk berkuasa namun hanya akan menjadi “jongos” dari pabrik kepentingan kelompok. Hal ini terjadi karena sistem kaderisasi partai yang didominasi oleh wacana kepentingan kekuasaan dan financial. Belum lagi ketika berbicara persoalan budaya monarki, dan determinasi kepentingan financial akan semakin memperparah sistem politik kepartaian kita.

Modal Politik

Ketika berbicara modal politik, maka menurut Piere Bordeu, untuk menjadi seorang pemimpin dalam sebuah lembaga politik harus memiliki minimal satu dari empat modal (capital) dasar, yaitu financial, social, intelektual dan keturunan yang bersifat given.

Bila melihat teori ini, maka sekiranya akan hanya ada tiga jenis modal yang paling dominan dan mendapat tempat di posisi teratas dalam sebuah partai politik dan pemerintahan. Siapa dia yang memiliki kemampuan financial, social, dan karena keturunan. Khusus kriteria yang ketiga bisa dikatan “kelompok penyusu” apabila tidak mampu membuktikan dirinya pantas, mencoba meminjam pendapat  buya Syafi’i Ma’arif.

Sedangkan bagi karakteristik dari modal intelektual, hampir secara merata akan menjadi “jongos” dari sebuah partai. Di sisi lain juga akan ada sebuah pertanyaan “ lalu bagaimanakah para anak bangsa dapat menjadi pemimpin apabila sudah antipasti dengan sistem politik, namun mereka memiliki kapasitas, integritas dan keberanian? (*)

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.