Mitos Kebangkitan Pemuda

Setiap zaman memiliki problem dan tantangan berbeda. Kegigihan teruji generasi Indonesia tak lain adalah generasi awal yang telah menyibak celah-celah kemerdekaan. Kolonialisme dan perjuangan kedaulatan merupakan ladang garapan hingga “berdarah-darah”. Generasi setelah itu ditandai persoalan koeksistensi ideologi. Demokratisasi dan kekuasaan sepanjang rentangan sejarah bangsa tidak mengalami dialektika ideologi yang mengesankan dan ekstrim. Segala pertaruhan ide, gagasan, dan pemikiran memapankan strategi politik, ekonomi, budaya, dan social yang hanya terdapat dalam lembarang mati konstitusi.

Wacana dan kesempatan  tentang stabilitas dalam segala bidang muncul, yang tampak dari luar memberi kesan kesejahteraan dan kesentosaan nyata, walau sebenarnya absurd. Namun dalam rentangan waktu perlahan tapi pasti, kepemimpinan kaum muda setapak-demi setapak “mengapung” kepermukaan. Yakni, kepemimpinan yang lahir atau dilahirkan ditengah situasi yang tidak sepenuhnya menuntut jerih payah dan melewati tantangan setinggi gelombang tsunami.

 

Budaya KKN

Bila dibandingkan periode atau masa-masa generasi sebelumnya, tampak dengan amat mencolok latar yang memicunya. Kepemimpinan pra-kemerdekaan bermusuhkan penjajah. Sementara era kemerdekaan, kaum muda tampil masih melawan sisa-sisa penjajahan sekaligus konsolidasi ideologi.

Sedangkan di era orde baru, kaum muda dihantui kekuasaan absolut dan otoriter yang menginginkan kekuasaan sepanjang hidup. Ada pun pasca-reformasi, riak-riak kaum muda harus menghadapi sistem politik sisa-sisa kekuasaan orde baru yang masih menghujamkan nilai dan kebiasaan ,  korupsi, kolusi dan nepotisme.

Sisa-sisa KKN  yang diperhadapkan kepada kaum muda justru berubah menjadi arus utama kebudayaan polotik dan birokrasi saat ini. Hal ini tentunya menuntut dan menguji kekuatan idelisme  kaum muda  tentang pentingnya nilai-nilai kejujuran dan empati terhadap nasib dan masa depan Bangsa.

 

Hanya Mitos

Bola harapan kepemimpinan kaum muda terlanjur digelindingkan ke tengah publik. Optimisme tentu mesti disandarkan di atas pundak kaum muda. Hanya saja, tanpa gerak serentak kemunculan kepemimpian kaum muda sebagai “gunting” pemotong budaya politik kotor dan pisau pemerintahan yang korup hanya akan menjadi mitos.

Sebagai tulang punggung harapan, independensi kepemimpinan kaum muda dipertaruhkan. Kau muda harus mampu melampui sejarah bangsa yang kini berbalut seribu satu persoalan dalam bingkai kultur kebangsaan yang sedang patah dan psikis yang rusak.

Jawaban atas kemelut bangsa kini tergantung sejauhmana komitmen visioner kaum muda terhunus dari sarung progresifitas tindakan dan pikiran bak semangat yang dikobarkan oleh para pemuda 1928. Meminjam istilah Buya Syafi’i Ma’arif  “bukan kaum muda penyusu, yang terus membebek bukanlah harapan masa depan, yang secara fisik muda, tapi isi dan substansinya jauh panggang dari api”. (*)

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.