Pahlawan dan Kepahlawanan

Menjadi pahlawan barangkali “diinginkan” oleh setiap orang Indonesia, karena itu menjadi jamak kalau kita mengenal sebutan adanya pahlawan nasional, pahlawan revolusi, pahlawan kemerdekaan hingga pahlawan pembanguan, pahlawan devisa, pahlawan olahraga dan sebagainya. Pemberian embel-embel atau predikat dibelakang nama pahlawan tersebut diberikan oleh Negara. Kendati demikian tidak setiap “pahlawan” itu harus dan berkeinginan untuk mendapat SK dari pemerintah.

Pahlawan itu menyangkut unsur orang seorang, menunjukkan jumlah atau kuantitasnya bukan kualitasnya. Karena itu Indonesia memiliki banyak sekali pahlawan, kendati demikian  tidak semua pahlawan itu dikenal dan mendapat tempat di hati masyarakat maupun bangsanya, bahkan predikat pahlawan yang disematkan dalam diri seseorang itu terkadang penuh kontroversial. Pada satu sisi seseorang disebut sebagai pahlawan namun pada sisi lain disebut sebagai penjahat. Contoh kasus ialah mantan Presiden Soeharto, sebagian orang mengganggap sebagai pahlawan namun sebagian lain berpendapat sebaliknya.

Pertanyaanya kenapa bisa demikian, banyak pahlawan namun sangat sedikit yang bisa singgah di hati masyarakat atau justru menimbulkan suatu pertentangan yang kontrakdiktif. Padahal setiap tahun bangsa ini memiliki hari pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November. Hal ini tentu menyangkut nilai kepahlawanan yang dimiliki dan dilakukan seseorang dalam perjuanganya. Oleh karena itu  memahami nilai kepahlawanan menjadi hal lebih urgen dari pada memilihat “sosok pahlawan” dengan ketakjuban.

Nilai Kepahlawanan

Nilai kepahlawanan itu ialah pengorbanan yang tak lekang oleh waktu, yang menyangkut jiwa-raganya dalam mengubah nasib bangsa dan rakyat kerah yang lebih baik  dan bermartabat. Nilai lainya yakni kebulatan dan keteguhan diri yang telah mereka buktikan dalam melawan dan mengusir kaum penjajah/penindas.

Nilai kepahlawanan akan selalu melekat dalam kualitas pribadi seseorang. Dimana kualitas pribadi tersebut menurut Budiman (2009) meliputi tiga hal. Pertama adanya keberanian untuk menghadapi masalah yang mendera entitas kolektif dimana tokoh itu merupakan bagian darinya, atau memperjuangkan kebenaran dan kebijakan bagi lingkungannya.

Kedua, berkorban tanpa pamrih baik pribadi maupun untuk keluarga dan kelompok sempit dalam mengambil tindakan. Ketiga, bersedia meresikokan atau mengorbankan hidup dirinya dalam mengambil tindakan-tindakan tersebut. Ketiga kualitas tersebut haruslah utuh tidak boleh ada yang kurang atau minim sedikitpun. Kualitas tersebut hampir mendekati kualitas “kenabian”.

Dengan demikian nilai yang terkandung dalam setiap jiwa Pahlawan , tentunya hampir sama, yaitu bagaimana keluhuran sikap yang gigih mempertahankan idealitas yang diyakini kebenaranya sekaligus kegunaanya untuk mengubah nasib yang diderita oleh rakyat. Hal ini berarti bahwa jiwa kepahlawanan memuat unsur gabungan dari keteguhan dalam memperjuangkan idealisme dan kesediaan berkorban untuk membela dan memperjuangkan nasib orang lain (rakyat).

Dengan memahami nilai kepahlawanan tersebut, jelas kiranya bahwa seseorang bisa diberi predikat pahlawan atau tidak, dapat dilihat sejauh mana dia berkorban untuk mengubah keadaan agar lebih baik. Karena itu seorang pejabat atau olah ragawan bisa disebut sebagai pahlawan namun tidak memiliki nilai kepahlawanan, sebab mereka mendapat fasilitas yang serba komplet dan mewah plus gaji yang besar. Karena itu apa yang dilakukanya tidak mampu menembus ruang dan waktu. Dia sesaat mendapat tempat namun tidak mampu melekat dalam relung hati rakyat.

Kepentingan Penguasa

Pertanyaannya selanjutnya kenapa nilai kepahlawaan itu hilang sementara Negara terus memproduksi pahlawan-pahlawan dengan segala atribut yang melekatnya. Hal ini terjadi karena dalam setiap memperingati hari pahlawan hanya dilakukan upacara bendera saja. Padahal sebagaimana diungkap oleh ahli sejarah Paolo Grasi “kita tidak bisa melakukan perubahan pikiranya hanya dengan mengibar-ngibarkan bendera, tanpa memahami evolusi sistemnya “.  Dimana dalam evolusi itu sendiri terkandung evolusi tehnologi, ekonomi, social, budaya dan politik.  Karena itu kepahlawanan dan nilai-nilainya akan tumbuh popular sekiranya mampu berdialog dengan evolusi system masyarakat tempat kepahlawanaan itu dirindukan.

Hanya saja masalahnya kenapa Negara (baca : para elit penguasa) lebih mengedepankan upacara serimonial. Hal ini tentu menyangkut kepentingan politik para elit tersebut yang berkeinginan untuk berkuasa dan dipahlawankan namun tidak mau berkorban. Ingin tetap dikenang oleh rakyatnya namun miskin gagasan dan pemikiran. Sementara pada sisi lain Negara (penguasa) tidak mampu atau bisa jadi tidak mau untuk menciptakan kesejahteraan warganya (karena miskin berkorban tadi) sehingga warga masyarakat berjaung sendiri-sendiri dan untuk menghiburnya mereka diberi embel-embel Pahlawan dari mulai pahlawan devisa, pahlawan tanpa tanda saja dan sebagainya.

Itulah model kepahlawanan yang diciptakan dan diproduksi oleh rezim penguasa dari mulai orde baru hingga rezim SBY. Model kepahlawanan model ini memang akan banyak melahirkan pahlawan selebritis, yang cepat lekang oleh waktu, yang gampang datang dan pergi, diingat namun hanya sesaat dan itu pun untuk kepentingan tertentu dan sesaat, penuh slogan namun tanpa semangat dan kegairahaan cinta serta kehidupan masa depan. (*)

Recommended For You

About the Author: Djoko Respati

Aktif di ISKRA (Institute Sosial Kerakyatan)