Profesionalisme Guru

Saat udara siang tengah memanggang, Mas Pinilih duduk termangu. Sorot matanya berat. Bibirnya manyun. Tapi aku mengira, dibalik sorot sepasang mata itu, ia masih menyimpan optimisme. Seusai bertegur sapa dan sama-sama duduk, aku beranikan untuk bertanya.

“Anda terlihat memikirkan sesuatu yang penting Mas? apa masalah politik lagi?” tanyaku hati-hati.

Seketika mimik muka Mas Pinilih berubah, meski masih muncul gurat-gurat berat itu tadi. Tanpa aba-aba, ia pun bertutur. Saya pun jadi pendengar sejati.

Tema yang membikin Mas Pinilih gundah itu yakni mengenai profesionalisme guru. Atau bolehlah disebut bagaimana mencipta guru yang profesional itu. Beberapa tahun terakhir banyak yang tahu kalau profesi guru seakan menjadi primadona. Dimulai dari diburunya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) oleh para lulusan sekolah menengah atas hingga program sertifikasi semakin meningkatkan gengsi profesi guru. Mas Pinilah menghela napas sebentar. Saya pasang kuping lebih lebar. Kemudian ia lanjutkan paparannya,

Belum lagi soal gaji, guru yang telah lulus sertifikasi dapat memperoleh gaji yang cukup fantastis. Kesejahteraan guru seperti ini meningkatkan dengan signifikan. Sebagai contoh, guru-guru sekarang sudah mampu dan berani membeli mobil. Minimal, sepeda motor versi terbaru bisa terparkir di halaman rumah. Akan tetapi, apakah zaman sekarang dengan segala program modernnya bisa membuat kondisi lebih bagus daripada zaman apa-apa dikebiri itu?. Sebelum ia berkata lagi, langsung kusela,

“Seharusnya lebih bagus kan Mas?”, Mas yang ditanya hanya mengangguk pelan.

“Tapi tolong, jangan lupa apa misi awal menjadi guru. Guru sekarang harus bisa tak sekadar memberi pelajaran tapi juga mampu mencipta pembelajaran.”

“Maksud Mas apa dengan mencipta itu tadi? Lalu gimana dengan profesionalismenya Mas?”, tanyaku masih dengan hati-hati. Ia membetulkan posisi duduknya.

Kualitas Guru

Memang benar, agak berbanding terbalik. Ketika membandingkan antara tingkat kesejahteraan dengan kualitas dan profesionalisme guru. Terkuak, masih banyak berita yang menyatakan guru yang belum mampu mengaplikasikan media pembelajaran modern ke dalam kelas, masih text book, atau gagal mengejawantahkan standar kompetensi ke dalam rencana pembelajaran secara matang. Juga, kesadaran menulis dan mempublikasikan karangan ilmiah yang masih lemah.

“Lalu apa penyebab semua itu Mas?” tanyaku cepat-cepat.

“Sabar, saya masih ingin menjelaskan. Tentu, ada penyebabnya lah!”

Reformasi

Berbicara soal penyebab, ingatlah pepatah. Ada asap pasti ada api. Zaman sudah serbaenak, kemajuan Iptek, dan sumber-sumber belajar pun melimpah kenapa masih banyak keluhan terkait kebecusan guru dalam mendidik dan mengajar. Apakah fasilitas dan kemapanan hidup membuat guru semacam ini lupa tugas utamanya.

Seyogyanya misi atau tugas penting seorang guru harus diprioritaskan. Yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana termaktub di undang-undang dasar. Lebih lagi dalam era perkembangan multidimensi, tak hanya memintarkan anak-anak, setidaknya ilmu yang diajarkan dipahami betul yang tak hanya teori melainkan melekat erat dan tak tergerus oleh waktu. Ilmu itu ibarat air, yang mengalir sampai jauh. Mas Pinilih meminjam lirik lagu Bengawan Solo-nya Gesang.

Harus ada reformasi secara komprehensif. Bukan hanya pada diri individu saja akan tetapi mengarah pada sistem. Karena meskipun individu itu berpemikiran maju namun sistemnya masih kolot maka tak mungkin terjadi perubahan berarti. Setidaknya dalam diri masing-masing guru mulai menyadari bahwa kenyamanan tersebut bukan malah lalai dari tugasnya. Dengan kemudahan akses dan ketersediaan sarana prasarana tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya dan diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas.

Ketakbisaan menggunakan sarana belajar seperti laptop, LCD dan lainnya harus menjadi cerita lama. Sekarang waktunya semua serbabisa karena guru dituntut memiliki kemampuan lebih. Yakni mengajar dengan hati sekaligus visi-misi yang jelas. Mendidik manusia dengan memanusiakannya secara komunikatif dan merencanakan target-target pencapaian belajar.

Mengenai profesionalisme sebenarnya itu tak lebih dari istilah. Terpenting, manusia itu mampu andil dan bermanfaat bagi sekelilingnya. Bekerja dengan baik dan produktif, termasuk profesi guru. Siswa-siswa yang ia kelola mampu memahami semua materi pelajaran yang disampaikan. Syukur, mampu menciptakan ide atau gagasan baru yang inovatif. Ketika terjun ke dunia luar, para murid pun tak gagap dan langsung bisa berkarya dengan potensi masing-masing. Sementera, mereka para guru tetap menjaga perhatian pada pendidikan dan semangat pengabdian. Sebab, nilai sebuah pengabdian itu lebih berharga daripada cuma sebutan guru profesional. (*)

Recommended For You

About the Author: Doni Uji Widyatmoko

Mahasiswa Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta ini adalah copy editor di Harian Joglosemar