Reaktualisasi Sumpah Pemuda

Tanggal 28 Oktober merupakan momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia khususnya bagi generasi muda. Sebab pada tanggal tersebut 83 tahun yang lalu para pemuda telah menyatakan satu tekadnya yang kemudian dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda, yang terdiri dari tiga gagasan besarnya. Pertama ; kami putra dan putri Indonesia bertanah air satu tanah air Indonesia, kedua ;  kami putra dan putri Indonesia berbangsa satu bangsa Indonesia, ketiga ; kami putra dan putri Indonesia berbahasa satu bahasa Indonesia.

Peristiwa tersebut diperingati tidak saja oleh para pemuda-pemudi akan tetapi seluruh rakyat Indonesia pun akan memperingati peristiwa tersebut. Sebab dari sanalah lahir suatu visi kebangsaan. Tentu saja sebuah peringatan dimaksud untuk memberikan rasa hormat pada mereka yang telah bertekat bulat untuk bersatu padu dalam membangun visi baru dalam kehidupan kebangsaan. Selain itu sebuah peringatan dilaksanakan sebagai bentuk penghargaan dan rasa syukur terhadap jasa-jasa dan pengorbaan mereka dalam melahirkan arah terhadap masa depan bangsa dan Negara. Tak kalah pentingnya dalam memperingati sumpah pemuda ialah bagaimana generasi muda mampu menangkap spirit perjuangan dan visi kebangsaan yang ditelurkannya.

Munculnya pernyatakan tekad bersama tersebut bukanlah lahir dalam suatu kondisi yang hampa, akan tetapi didasari atas kondisi rial terhadap kenyataan sosiologis yang terjadi pada waktu itu. Setidaknya ada empat hal yang melatar belakangi lahirnya statemen pemuda tersebut, keempat hal tersebut yakni ; pertama ; belum adanya persatuan di kalangan pemuda karena masih terkotak-kotaknya para pemuda dan masyarakat dalam bingkai kesukuan, agama dan ideologi politiknya masing-masing. Kedua ; adanya gelombang internasionallisasi baik atas nama agama (Islam) dengan hadirnya komunitas Islam (Pan Islam) maupun atas nama Ideologi yakni hadirnya komunis internasional (kominteren), ketiga ; masih kentalnya warisan social cultural yang menjungjung sikap feodalisme, dan terakhir atau keempat ;  cengkraman kapitalisme kolonial dengan politik devide et impera kian menggurita dalam struktur kekuasaan politik maupun ekonomi di Nusantara.

Keempat realitas sosiologis tersebut untuk kemudian mengugah para kaum muda untuk mencari jawabanya lewat kongres kepemudaan yang ke 2 yang berakhir dengan hadirnya spirit kebangsaan yang baru yang berupa ke Indonesiaan.

Realitas Kekinian

Spirit sumpah pemuda tersebut nampaknya masih menemukan sisi vitalnya apabila kita mencermati kenyataan sosiologis saat ini. Dimana keempat hal di atas nampak masih menyelimuti sebagian kehidupan dalam masyarakat dan bangsa. Misalnya saja terkotak-kotaknya para pemuda dalam satuan organisasi kepemudaan maupun dalam satuan organisasi partai politik. Pada satu sisi hal ini merupakan suatu realitas dari masyarakat Indonesia yang plural, akan tetapi hal ini tidak dibarengi dengan adanya kedewasaan berpolitik dan visi kebangsaan yang harus digapai bersama sehingga sering kali kita melihat bentrok antar kelompok pemuda, bentrok antar mahasiswa, maupun bentrok antar pelajar.

Belum lagi konflik politik antar partai politik, maupun antar elit/pemimpin politik serta konflik antar lembaga Negara. Seolah-olah tidak adanya satu visi yang harus digapai bersama-sama dalam kontek kebangsaan dan ke-Indonesia-an. Masing-masing institusi Negara terlihat begitu egois dan saling sandra untuk keperluan dan pragmatisme politik lembaga maupun institusinya masing-masing dan hanya menguntungkan segelintir elit dan kelompok tertentu. Karena itu muncul konflik KPK Vs Polisi, KPK Vs DPR, MK Vs Polisi, KY Vs MA, TNI Vs Polisi dan sebagainya

Demikian pula masih adanya gelombang internasionalisasi. Gelombang Internalisasi telah berubah jubah dari kapitalisme kolonial telah berubah menjadi kapitalisme global. Penjajahan secara fisik berubah jubah menjadi penjajahan yang bersifat software, dengan adanya kesepakatan pasar bebas dengan serangkaian perjanjian dagang seperti AFTA, NAFTA, GAAT  dan sebagainya. Membanjirnya produk-produk impor baik hasil-hasil pertanian maupun yang berupa pangan atau sandang/tekstin telah memukul para petani dan pedagang kecil. Muncul buah-buah Impor, garam, kentang dan sebagainya telah memukul hasil panen petani.

Gelombang internasionalisasi atas nama agama juga hadir dalam peta realitas kekinian kehidupan berbangsa. Hal ini bisa dilihat bagaimana jaringan dan tali-temali terorisme tersebut bekerja dan beroperasi dalam melancarkan serangkaian aksi bom. Belum lagi munculnya kelompok-kelompok keagamaan yang “bergaya” ala timur dengan isu-isu kekhalifahan, maupun gaya radikal yang tidak memiliki pijakan kultural.

Sementara kultur feodalisme masih begitu menjangkiti khususnya pada elit politik, para pemimpin maupun sebagian para pemuda. Gejala ini bisa dilihat dari perilaku pejabat public yang tidak memiliki rasa malu seperti skandal sex dan korupsi, sudah terang-terangan fotonya beredar maupun terlibat dalam kasus korupsi tidak mau mundur. Menganggap jabatan sebagai status sosial yang dapat mendatangkan keuntungan financial maupun untuk mendapatkan segala fasiltas yang super lux merupakan gejala feodalisme lain yang masih kental.

Para pemimpin lebih suka menuruti kemauan asing, kaum liberal/kapital dan mereka yang memiliki kekuatan financial dari pada membela dan berpihak pada rakyat dan belum sampai memperjuangkan aspirasi atau cita-cita politik kerakyatan. Hal ini bisa dibaca dari penguasaan sumber-sumber daya alam baik yang didarat, laut maupun udara yang hampir sebagian besar dimiliki oleh perusahaan transnasional.

Harapan

Dalam konteks yang demikian maka jiwa dan semangat sumpah pemuda perlu dihadirkan kembali, oleh para pemuda. Memang harus diakui bahwa sebagian besar para pemuda kita terjebak dalam semangat pragmatisme dan feodalisme (lihat kasus nazaruddin, Gayus), sehingga kelihatan gelap wajahnya. Karena masih terlihat gelap itulah berarti masih ada harapan (kalau sudah tidak terlihat lagi berarti harapannya pupus) kendati hanya setitik cahaya keoptimisan yang terpancar dari sebagian para pemuda. Akan tetapi yang setitik tersebut memiliki visi dan idealisme yang kuat dan tinggi, untuk kembali hadir membawa pencerahan bagi ke-Indonesia-an sebagaimana yang telah dihadirkan para pemuda tempo dulu lewat sumpah pemudanya.

Minoritas intelektual kreatif dari kaum muda akan mampu mendatangkan suatu perubahan bagi kehidupan berbangsa, bernegara maupun  bermasyarakat dan dalam sejarahnya peran tersebut tak bisa terbantahkan lagi. Kini peran tersebut sangat dinanti oleh jutaan rakyat yang hidup dalam struktur Negara yang korup. (*)

Recommended For You

About the Author: Djoko Respati

Aktif di ISKRA (Institute Sosial Kerakyatan)