SEA Games dan Korupsi

Spektakuler! Sejuta kata ini bisa menggambarkan kemeriahan pesta pembukaan SEA Games XXVI di Jakabaring Sport City, Palembang. Gebyar-gebyar kembang api dan permainan sorot lampu laser semakin menciptakan keindahan malam itu, Jumat (11/11/2011). Bendera Merah Putih berkibar dan lagu Indonesia Raya pun dilantunkan mengawali acara sekaligus pertanda kejuaraan olahraga se-Asia Tenggara tersebut dimulai.

Melibatkan 4.500 penari, tarian kolosal Sriwijaya Semenanjung Emas Indonesia tersaji di panggung pergelaran dan ribuan penonton pun terpukau. Dalam sambutannya, Presiden SBY mengatakan untuk menjunjung tinggi nilai persahabatan dan persaudaraan serta penghargaan setinggi-tingginya demi kesuksesan event yang digelar di dua tempat ini. Seluruh kontingen pun tampak hadir. Harapan dan espektasi peserta SEA Games pun membumbung tinggi termasuk tuan rumah, Indonesia.

Acara pembukaan tersebut diklaim paling spektakuler sepanjang sejarah penyelanggaraan SEA Games. Indonesia patut berbangga dengan capaian tersebut. Meski direcoki kasus suap dan korupsi, juga persiapan venue yang kurang maksimal, tak membuat panitia penyelenggara merasa terganggu. Alhasil, opening ceremony pun berjalan lancar dan terbukti spektakuler.

Kasus Suap Wisma Atlet

Tentunya, kemeriahan ini tak membuat sejumlah pihak luput atau bahkan melupakan kasus suap wisma atlet/Sesmenpora. Perlu ditandaskan kalau kasus tersebut belum tuntas. Aparat penegak hukum harus terus bergerak, tak boleh lalai dan terlena menyaksikan kontingan Indonesia yang terus mendulang emas.

Kamis (10/11/2011) tersangka kasus suap, M Nazaruddin kembali menyentil KPK agar segera menetapkan status tersangka kepada mantan koleganya, Anas Urbaningrum. Nazar sering kali mengungkapkan kalau Anas ikut menerima aliran dana korupsi dari proyek pembangunan wisma atlet SEA Games di Palembang. Bisa jadi ketidakberesan pembangunan beberapa arena SEA Games bermula dari kisruh kasus tersebut.

Sementara, Ketua KPK menyatakan kemungkinan penambahan tersangka baru dari kalangan eksekutif, legislatif dan partai politik. Disinyalir mereka menjabat di Badan Anggaran (Banggar), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan partai politik. Namun pimpinan KPK belum berani menyebutkan siapa saja yang terlibat.

Hasil perolehannya, Indonesia memimpin puncak klasemen perolehan medali dengan mendulang emas sebanyak 154 medali. Tentunya, pencapaian ini sangat menggembirakan di tengah kemerosotan prestasi olahraga Tanah Air. Hal tersebut menjadi pelecut semangat para penegak hukum untuk terus mengusut tuntas kasus suap tersebut. Setidaknya, ’nyanyian’ Nazaruddin dibuktikan secara empiris sehingga bisa dikatakan sebagai fakta hukum dan jangan takut akan intervensi tangan kekuasaan.

Politisasi kasus hukum tersebut kian kentara saat penanganan kasus suap tersebut terkesan diperlambat padahal Nazaruddin kerap menyebut nama seseorang yang katanya menerima aliran dana. Aparat penegak keadilan lamban dan mengulur-ulur waktu pengusutannya. Alhasil, drama kasus suap itu masih digelar tanpa tahu klimaksnya seperti apa.

Tampak kejahatan korupsi akan susah dibumihanguskan dari republik ini. Penegakan hukum yang masih terbilang tebang pilih, semakin membuat tindakan curang ini ibarat jamur tanpa kenal musim. Terus muncul dan menjamur. Lembaga superbodi, KPK pun seakan menunduk dan bertekuk lutut ketika orang yang terlibat adalah dari kalangan dekat istana atau partai penguasa. Dilematis memang, tapi kita tak mau tahu bahwa keadilan harus tetap diutamakan. Kita tunggu taring KPK untuk mencabik-cabik koruptor. (*)

Recommended For You

About the Author: Doni Uji Widyatmoko

Mahasiswa Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta ini adalah copy editor di Harian Joglosemar