Sumpah Pemuda dan Rekontekstualisasi Kolonialisme

Pada mulanya adalah sebuah peta. Dari sebuah gulungan gambar penuh simbol, arah navigasi ditentukan, sasaran ditargetkan. Dari garis silang menyilang yang jadi penuntun peta itu meluncurkan kapal-kapal penjelajah yang membawa sederet angka-angka dan akta. Tak hanya menebar jalan ekonomi politik, tapi juga penguasaan identitas. Sebuah penguasaan yang kompleks dalam jejaring quasi episteme.

Hingga sampai pada kebulatan tekat Bangsa Indonesia, yang ditandai dengan konsolidasi para pemuda pada 28 Oktober 1928. Kebulatan tekat ini didasari atas kesadaran pluralitas dan kepentingan persatuan untuk melawan kolonialisasi dan pentingnya sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang kaya akan sumber daya alam, etnik, agama, ras dan suku.

Semangat kebangsaan yang kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah komitmen bersama yaitu mencintai tanah air dengan sumbu patriotisme. Penanaman nilai ini membutuhkan waktu yang panjang dengan segala desain dan pengorbanan. Namun semangat yang dicita-citakan perlahan tapi pasti telah tergerus oleh arus modernitas yang merupakan episentrum kolonialisme.

Berakhirnya era kolonialisme, dunia memasuki era neokolonialisme, di mana modus dominasi dan penjajahan tidak lagi fisik secara langsung, melainkan teori dan ideologi. Fase kedua ini dinamakan era developmentalisme. Periode ini ditandai dengan masa kemerdekaan negara-negara Dunia Ketiga secara fisik, sedangkan di sisi lain, terjadi pula dominasi negara-negara bekas penjajah terhadap negara eks-koloni mereka yang tetap dilanggengkan melalui kontrol terhadap teori dan proses perubahan sosial

 

Modernitas Sebagai Neokolonialisasi

Secara arkeologis kita menemukan bahwa panggung “modernisasi” yang disembah-sembah itu sesungguhya dibangun dari batu kali darah dan air mata negara-negara terbelakang. “Modernisasi” sejatinya adalah anak kandung dari kolonial yang tak semata dipupuk dalam anjungan ekspansi teritorial, tapi juga disirami lewat pemalsuan kesadaran geopolitik secara sistematis ke naskah-naskah estetika, keilmuan, sosiologi, sejarah, politik dan kerangka epistimologis.

Bila kita berbicara konteks ke-Indinesiaan, barangkali negeri yang dikatakan syurga dunia ini telah menjadi sentral angkara murka dengan berbagai ekspresi kebencian yang seharusnya bukan merupakan bagian dari dirinya. Kita telah banyak menyaksikan dan bahkan menjalani proses ini. Sebuah keniscayaan buruk, seolah tanpa ujung  akan terus menggerus kebudayaan adiluhung kita sehingga kita akan dihantarkan pada titik alienasi dan ambiguitas. Kita diserang dari semua sisi (budaya politik “picisan”, sistem ekonomi liberal, budaya global sebagai bentukan modernitas), dari kesemuanya itu kita tidak bisa besembunyi.

 

Sikap Bertahan-Menyerang

Dalam suasana seperti ini, kita sangat membutuhkan sebuah strategi bertahan  yang jitu. Begitupula dalam konteks peperangan, seandainya kita diposisikan sebagai pihak yang kurang diuntungkan karena minimnya logistik (persenjataan, makanan dan obat-obatan), maka dalam kondisi ini kita akan memerlukan strategi yang efektif dalam menyerang dan bertahan. Usaha ini dalam teori sosiologi politik dinamakan resistensi.

Resistensi atau siasat “bertahan-menyerang” itulah yang disebut Homi Bhabha sebagai mimikri, suatu sikap “paradok”, di satu pihak membangun identitas persamaan, tetapi di lain pihak tetap mempertahankan perbedaan. (*)

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.