Visi Sosial Politik Qurban

Hari raya Idul Adh-ha atau yang juga disebut sebagai hari raya qurban, tak lepas dari perintah Allah untuk menyembelih hewan qurban setelah melaksanakan sholat id. Berdasarkan suatu riwayat para ulama telah menetapkan ibadah qurban atau menyembelih hewan qurban sebagai sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), khususnya bagi mereka yang mampu. Penyembelihan binatang ternak tersebut merupakan wujud rasa syukur dalam mendekatkan kaum muslim kepada Allah. Karena itu berqurbanlah sebagai sarana untuk menuju ketaqwaan (Q.S. 22 ; 37).

Dengan demikian jelas kiranya bahwa penyembelihan hewan qurban oleh umat Islam sangat berbeda dengan penyembelihan hewan qurban yang dilakukan oleh para penganut agama lain maupun para penganut aliran kepercayaan. Dimana hewan qurban dijadikan sebagai sesaji yang diperuntukkan bagi persembahannya, sementara dalam Islam hewan qurban dinikmati oleh pelaku qurban dan sebagian besarnya dibagikan kepada sesama khususnya pada mereka yang kurang baik nasibnya.

Dalam sejarahnya perintah qurban itu telah dimulai sejak mulai Nabi Adam sebagaimana difirmankan Allah dalam Q.S Al-Maidah (3;27-30), yang secara ringas memuat cerita mengenai perintah Nabi Adam kepada dua putranya yakni Qobil dan Habil untuk berqurban. Habil mempersembahkan hewan ternaknya gemuk-gemuk dan sehat serta dilakukan dengan penuh ketulusan hati. Sementara Qobil mempersembahkan hasil tanamanya yang tidak bagus dan dilakukan dengan rasa tidak iklhas serta diselimuti adanya rasa iri untuk mengalahkan suadaranya. Singkat cerita qurban Habil yang diterima oleh Allah sementara qurban Qobil tidak, hal ini semakin menambah tebal rasa irinya, sehingga memutuskan untuk membunuh suadara kandungnya sendiri.

Selain itu perintah qurban juga dikisahkan dalam cerita mengenai ujian yang harus dilakukan oleh Nabi Ibrahim, yang diperintahkan untuk menyembelih putra tersayangnya Ismail Q.S Ash-Shaffat (37;102-107), yang kemudian oleh Allah SWT saat pedang diangkat dan hendak dihunuskan pada Ismail secara tiba-tiba diganti dengan seekor kambing (kibasy) yang besar. Kambing itu yang kemudian disembelih untuk kemudian dimakan dan dibagi antar sesama sebagai wujud rasa syukur. Peristiwa itulah yang kemudian diperingati sebagai hari raya Idul Adh-ha, atau hari raya qurban.

Kata Qurban sendiri secara harfiah berarti “mendekatkan” . Karena itu untuk bisa berdekatan dengan Allah SWT, Tuhan sekalian alam maka umat Islam diperintahkan untuk berqurban, dengan mengeluarkan hartanya yang diperwujudkan dalam bentuk binatang ternak yang disembelih untuk dinikmati dan dibagi antar sesama. Hal ini berarti bahwa untuk dekat dengan Allah maka kita diperintahkan untuk berqurban dari apa yang dimilikinya, dari apa yang telah diusahakan (mengeluarkan harta) untuk dibagikan kepada sesama khususnya mereka yang hidup dalam kondisi miskin.

Menjadi Kurban

Apabila dicerna dan direnungkan lebih lanjut dari cerita perintah qurban, baik yang dilakukan oleh putra Nabi Adam maupun yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim mengadung suatu pelajaran kemanusiaan yang universal. Orang yang ingin sukses (dunia akhirat) tentu dia harus berqurban. Tentu saja berqurban dari apa yang dimiliki entah waktu, tenaga, pikiran, harta maupun jiwanya yang bukan milik orang lain dan itu harus diambil yang terbaik dari yang dimilikinya dengan penuh keiklasan.

Berqurban itu sendiri mengandung pengertian kerja keras penuh perjuangan bukan asal-asalan berqurban karena itu harus direncanakan dan diatur sedemikian rupa agar tidak sia-sia dan mencapai hasil yang terbaik atau semakin dekat dengan apa yang dinginkan. Karena direncanakan maka tidak ada istilah mengorbankan sesuatu oleh karena apa yang dilakukan dilandasi atas kesadaran dan penuh keikhlasan untuk dapat dekat dengan sesuatu yang ingin digapainya

Secara sederhana bisa dicontohkan sebagai berikut kalau kita mengejar cita-cita katakanlah ingin menjadi dokter atau yang lain, maka kita harus “berqurban” untuk belajar dengan giat sehingga cita-cita itu semakin dekat dan terwujud. Demikian pula kalau kita ingin dekat dengan seseorang atau mencintai sesorang maka harus berani berkorban.

Namun dalam dunia kapitalis-pragmatis ini, kamus berqurban itu nampaknya kian menjauh dari kehidupan, yang ada ialah mengoorbankan miliki orang lain atau bahkan jiwa/nyawa orang sehingga harus ada yang menjadi qurban dengan bahasa lain harus ada yang menjadi tumbal. Banyak contoh yang bisa dilihat dari kehidupan bermasyarakat maupun berbangsa.

Rakyat kecil sering kali menjadi qurban atau yang diqurbankan pertama kali terhadap setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh elit penguasa. Para penguasa tidak mau berqurban, akan tetapi lebih suka mengorbankan yang lain lantaran hal itu, korupsi di negara kita kian menggurita dan merajalela. Mereka berqurban bukan dari apa yang dimilikinya akan tetapi dari milik rakyat (uang Negara). Karena itu para penyelanggara Negara gemar meminta fasilitas yang serba mewah, ganti-ganti mobil, leptop maupun renovasi rumah dinas, studi banding dan sebagainya, dan tentu saja kenaikan gaji yang tinggi secara terus-menerus.

Kondisi ini yang kemudian mengakibatkan alokasi APBN/APBD banyak terkuras untuk belanja barang dan gaji pegawai, sementara anggaran untuk peningkatan kesejahteraan rakyat (pendidikan dan kesehatan) maupun peningkatan dan perbaikan kualitas sarana infrastruktur menjadi terabaikan. Mereka mendapat fasilitas yang super lux dan gaji besar akan tetapi bersamaan dengan itu mereka mengorbankan rakyat. Rakyat kecil yang rajin membayar pajak telah berqurban—dari harta yang mereka miliki akan tetapi qurban yang begitu tulus telah mengakibatkan mereka menjadi qurban dari para penguasa yang korup.

Apalagi dalam dunia politik rakyat selalu jadi korban, untuk membiayai pemilu misalnya baik pemilihan legistatif, kepala daerah maupun presiden dan wakil presiden mereka yang maju menjadi calon sering kali menggunakan uang Negara untuk membiaya pencalonanya. Kalau sudah demikian maka jelas rakyatlah yang dirugikan.

Oleh karena itu menjadi sangat relevan sekali dalam menterjemahkan visi qurban di tengah-tengah kehidupan sosial politik yang senantiasa mengorbankan orang lain. Karena itu sudah saatnya meghentikan untuk mengorbankan orang lain/rakyat, dan mulailah berkorban dari apa yang dimiliki dari apa yang diusahakan dan itu harus diambil yang terbaik dan dilakukan dengan penuh keihlasan. (*).

Recommended For You

About the Author: Djoko Respati

Aktif di ISKRA (Institute Sosial Kerakyatan)