Membangun Insfrastruktur Kognitif

Kalau kita ibaratkan sebuah terminal, perpustakaan itu merupakan terminal bagi ilmu pengetahuan dan informasi. Pusat lalu lintas ilmu pengetahuan dan informasi  bergerak hidup dan berkembang di sana. Setiap individu bebas memilih buku atau non buku sebagai sarana untuk mengembangkan wawasan dan ilmu pengetahuan yang akan mengantarkan pada tujuan masa depan yang hendak dicapai.

Dengan demikian membangun sebuah perpustakaan pada dasarnya merupakan upaya mendirikan bangunan infrastruktur kognitif (informasi) yang paling sederhana namun sangat vital peranannya dalam  membangun suatu masyarakat. Sederhana sebab perpustakan akan lebih  mudah dijangkau oleh seluruh elemen masyarakat dari berbagai starta sosial. Memuat serangkaian informasi dari mulai yang terbaru “up to date”, masih aktuil maupun yang telah “kadar luwarsa” dalam arti buku-buku maupun jurnal-jurnal tua yang telah lama terbit bertahun-tahun, dimana daya nilainya begitu tinggi.

Himpunan Pengetahuan

Kendati sederhana namun sangat penting peranannya sebab perpustakaan merupakan tempat terhimpunnya berbagai pemikiran dari sejumlah ahli-ahli besar, yang lahir maupun tumbuh di daerah tersebut khususnya maupun dari berbagai daerah maupun negara lainnya. Di samping himpunan pemikiran juga berbagai dokumen maupun arsip mengenai dinamika perkembangan dan pertumbuhan daerah/kota. Himpunan tersebut terdiri dari buku dan non buku yang dirawat dan disusun secara sistematis serta dipersiapkan agar sewaktu-waktu dapat dibaca, dipelajari dan diambil manfaat maupun pengertiannya oleh setiap orang yang membutuhkannya, akan tetapi berbagai himpunan tersebut tidak dapat dimiliki baik sebagian apalagi seluruhnya.

Himpunan pemikiran dan informasi tersebut apabila masyarakat membacanya maka akan  akan dapat mengasah daya imajinasi, mengasah saraf-saraf otak untuk bekerja efektif, memperkaya wawasan ilmu pengetahuan, merangsang daya kreatifitas berpikir, membuka cakrawala dunia lewat membaca berbagai buku, majalah, jurnal, koran, ensiklopedi maupun  lainnya yang tersedia.

Dengan demikian diotak kita ada saluran informasi yang senantiasa diolah, lalu lintas informasi menjadi bergerak, sehingga membuat otak senantiasa hidup. Jalan pikiran kita akan  terasah untuk selalu diajak berpikir. Sehingga jaringan susunan syarat otak akan senantiasa diperbaharui lewat “makanan” (informasi) tersebut. Hal inilah yang kemudian disarankan oleh Dr. C. Edward Coffey seorang peneliti dari Henry Ford Health System untuk membiasakan membaca, sebab menurut hasil risetnya kebiasaan membaca ternyata dapat membantu menunda kepikunan seseorang. Ibarat sebuah makanan himpunan informasi ilmu pengetahuan tersebut merupakan nutrisi bagi pikiran dan jiwa manusia. Dia bisa menjadi obat bagi penyakit dan kelemahan-kelemahan perasaan manusia.

Masyarakat yang sangat terbiasa dalam mengelola informasi dan ilmu pengetahuan pada gilirannya akan memiliki nilai signifikasi yang tinggi terhadap tingkat kemajuan suatu daerah/kota. Kecintaanya warga masyarakat untuk selalu mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat untuk mencari, membaca dan mengelola berbagai informasi ilmu pengetahuan yang tersedia, sebagai mana dikemukakan oleh seorang ilmuwan orientalis Franz Rosenthal (1996) akan dapat melahirkan kemajuan maupun peradaban suatu daerah/bangsa.

Sarana infrastruktur kognitif tersebut sangatlah penting dalam membentuk masyarakat yang memiliki kegemaran membaca, dimana pada giliranya nanti akan mendorong terciptanya suatu masyarakat pembelajar.  (*)

Recommended For You

About the Author: Djoko Respati

Aktif di ISKRA (Institute Sosial Kerakyatan)