Mempertanyakan Ke-Indonesiaan dan Kemanusiaan

Realitas Bangsa

Mimpi buruk, adalah hasil terjemahan kita terhadap realitas Indonesia kini. Hampir segala aspek kehidupan di wilayah masyarakat kecil selalu saja ada harapan-harapan kecil menuju kehidupan yang lebih nyaman. Kadang-kadang harapan-harapan kecil itu terwujud, namun sangat tak bisa bertahan lama dan semakin menunjukkan bahwa daya tahan pondasi dan pilar-pilar bangsa semakin mengeropos. Apakah kesalahan-kesalahan akan kita tuding sebesar-besarnya untuk pemerintah? atau ada tudingan yang juga bisa melampaui prasangka buruk kita terhadap yang bukan pemerintah?

Jika bangsa ini masih banyak manusia utuh, maka tidaklah terjadi penyalahgunaan anggaran, korupsi, penyelewengan undang-undang, penjual-belian kebijakan hukum, pembakaran hutan, pengerukan bumi yang direpresentasikan oleh pertambangan secara berlebih-lebihan, perkelahian masa, pembantaian sesama manusia bahkan pemusnahan terhadap hewan yang langka dan hewan liar secara langsung pun tidak langsung, tindakan represif oleh yang kuat terhadap yang lemah, kegilaan, frustasi, bunuh diri, dan bentuk-bentuk eksistensi murni manusia lainnya.

Apa yang kita tengah rasakan sebagai manusia yang masih berfikir tentang Negara dan segala bentuk kehilangan dan kecuriannya seolah-olah hanya mengantarkan kita pada jurang pesimis yang begitu dalam. Kesadaran berfikir tentang kehilangan keinginan dalam diri masyarakat untuk tinggal di negaranya cukup jelas dibuktikan oleh beberapa hal, membuminya gerakan menjadi TKI, menjalarnya imigrasi ke-negara-negara lain, bagi yang tidak dapat berbuat, bunuh diri menjadi alternatif, mereka yang tak hendak bunuh diri mendapatkan serangan di wilayah fikiran, hati dan rasa kemudian menjadi stres dan timbulah kegilaan.

Karena Uang

Apakah semua harus kita kembalikan kepada Tuhan? Jika dalam fakta memang sudah jelas, bahwa ada manusia-manusia yang sengaja diangkat, dibesarkan, ditinggikan, lalu pada akhirnya dirinya sendiri mengalami ketinggian yang begitu hebat sehingga enggan lagi untuk berdiri di atas tanah ciptaan Tuhan ini. Selanjutnya, orang yang sedang mendapat pujian-pujian dan sedang berdiri di atas kepala-kepala orang lain kecenderungannya adalah memerintah dan berlaku seenaknya. Alhasil, kelahiran konflik, rusuh dan fitnah-memfitnah menjadi sangat lumrah di Negara tercinta ini.

Bangsa tanpa malu, dan mungkin karena sudah terlanjur tidak punya malu, kejadian-kejadian yang lebih aneh muncul dan dilakukan oleh manusia-manusia yang sudah hilang kemanusiaannya. Kalau saya ukur-ukur secara subjektif individualistik, kehilangan persatuan ini tidak lain disebabkan pembicaraan dan penyembahan secara tidak langsung pada apa yang kita sebut-sebut itu “UANG”.

Tulisan ini tidak akan bisa merepresentasikan kegelisahan-kegelisahan terhadap keadaan bangsa dan manusia di dalamnya. Sebab, saya pun masih dalam keraguan, apakah dengan tulisan ini juga akan membangkangi diri-sendiri melalui eksistensialisme individualistik? Mudah-mudah tidak begitu kejadiannya.

Refleksi itu Penting

Orang Islam akan mengatakan yang lebih detail dengan dalil-dalil tentang manusia dan ke-Riya’an-nya. Entah bagaimanakah cara mengukur keberadaan dan kebesaran keriyaan itu ada pada kondisi bangsa yang mengeropos ini. Mungkin kita mengusung sederetan pertanyaan-pertanyaan  yang sama dalam hati tentang nasib bangsa yang hampir menyerupai etos Rahwana. Dan apakah kritikan terhadap orang-orang Indonesia yang mulai kehilangan kemanusiaan serta ke-Indonesiaannya, kemudian dipublikasikan ini akan menjadi salah satu bentuk ketidaksetiaan kita terhadap sifat kemanusiaan?

Ada 17.000 lebih pulau yang ada di Indonesia, ada 30-an provinsi, dalam satu provinsi minimal terdapat tiga kabupaten, satu kabupaten memiliki banyak kecamatan, desa, lingkungan, Rt, Rw, keluarga hingga akhirnya baru masuk yang namanya ada satu kepala manusia yang dapat melihat, mendengar, berbicara, merespon dan berbagai tindakan kemanusiaan yang ada padanya.

Melakukan refleksi dari zaman ke zaman adalah penting adanya. Membahasakan, menggerakkan, dan menginterpretasikan bangsa Indonesia adalah hal yang lumrah dan terjadi di sebagaian besar sudut dan arah kehidupan. Kepentingannya adalah untuk membangun keseluruhan bangsa yang berlandaskan etika dan moral, lalu berujung pada kedamaian serta kesejahteraan. Semua itu memang akan selalu menimbulkan ke-ambiguan dan refleksi berikutnya akan dilahirkan oleh generasi-generasi baru dan berhati putih, berkeberanian yang menyala, dan berwawasan indah bak pelangi. (*)

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.