Moral Pelajar Kita

Memprihatinkan, mencemaskan! begitulah kesan pertama saya mendengar berita dan membaca Koran terbitan solopos beberapa waktu lalu. Karena masyarakat digegerkan dengan beredarnya video ‘mesum’ yang dilakukan oleh oknum siswi Sekolah Menengah Pertama di Sragen Jawa Tengah. Dengan kejadian seperti itu menurut saya ini semakin menambah potret buramnya remaja/pelajar kita. Karena remaja/pelajar seharusnya mendapatkan pencerahan dan bimbingan yang baik dalam lingkungan sekolah. Namun, apa yang kita lihat malah sebaliknya. Pelajar kita masih banyak yang melakukan hal-hal ‘negatif’.

Bisa menjadi alasan ketika Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan bahwa persentase remaja di Jabodetabek lebih dari 50% sudah tidak perawan sedangankan di Yogyakarta sekitar 37% remaja tidak perawan. Namun, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dengan tegas membantah data tersebut. Menurutnya data dari KPAI menyebutkan bahwa jumlah remaja di Jabodetabek yang pernah melakukan hubungan pranikah dan tidak perawan lagi tak lebih dari 10 %.

Pertanyaan kemudian adalah mengapa masih banyaknya remaja/pelajar kita terjerumus hal-hal negatif dan bagaimana untuk meminimalisir jumlah pelajar/remaja kita agar terhindar dari perbuatan itu.

Pengaruh Modernitas

Permasalahan pelajar yang terjerumus dalam hal-hal negatif memang pelik bagi kita. Karena dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, pelajar kita tidak mau dibilang ‘tidak’ gaul oleh teman-temannya. Atau malah ketinggalan jaman. Namun, perlu digaris bawahi bahwa majunya Iptek tidak lantas kita ‘bebas’ melakukan apa saja. Akan tetapi, kita perlu memperkuat iman dan taqwa dalam melakukan perbuatan sehari-hari.

Apa yang dilakukan oleh pelajar kita itu patut membuat hati kita ‘ngelus dada’. Bisa dibayangkan apabila perbuatan itu sudah menjadi kebiasaan remaja/pelajar kita. Tentunya akan berbahaya di kemudian harinya. Oleh karena itu, agar pemerintah segera melakukan penghentikan tanyangan atau pemberitaan yang berbau pornografi. Ini merupakan langkah awal untuk meminimalisir remaja kita untuk mengakses hal-hal yang berbau pornografi. Dengan tidak memberitakan atau menayangkan maka jumlah kejadian seksual akan berkurang.

Selain itu, dari pihak penyedia layanan jasa internet sebaiknya memblokir situs-situs yang berbau pornografi. Apabila ini sudah diblokir tentunya remaja kita akan mengalami kesulitan dalam mengakses situs-situs porno. Terakhir orang tua meningkatkan pengawasan, pemantauan pergaulan dan perilaku anaknya. Hal ini harus dilakukan orangtua secara bijaksana tanpa menekan anak, sehingga anak tidak merasa diawasi.

Mengapa ini harus dilakukan oleh keluarga? Karena keluarga merupakan institusi terkecil dalam sebuah masyarakat dan keluarga sangatlah berpengaruh dalam proses pembentukan karakter dan perkembangan anak-anaknya sebelum terjun di tengah-tengah masyarakat.

Proses pembentukan karakter yang dilakukan dalam keluarga ini, diharapkan keluarga memberikan sebuah pesan moral atau pencerah kepada anaknya agar tidak melakukan hal-hal negatif. Pada akhirnya keluarga merupakan elemen terkecil dalam masyarakat sebagai salah satu proses sosialisasi tahap awal terhadap anaknya. Proses sosialisasi yang diberikan orang tua ini dalam keluarga berupa pemberikan motivasi yang bersifat positif kepada anak-anaknya agar terbentuk karakter anak yang kuat iman dan moralnya serta menghindarkan perbuatan yang tidak baik. Wallahu’alam. (*)

 

Recommended For You

About the Author: Tommy Setyawan

Alumnus mahasiswa sosiologi UIN Yogyakarta