Nasib Bangsa Indonesia

Nasib Bangsa

Menatap nasib bangsa ini begitu nanar seolah tak lagi bermaya, kuping terasa panas, hati terasa sesak, air mata tak mampu lagi menetes karena telah mengering. Cerita dan realitas yang memilukan mengiringi hari-hari kelam bangsa ini. Kita hinggapi setiap hari berita konflik, KKN, ulah birokrat sok kuasa, tindak kejahatan, peradilan yang dijadikan kepanjangan tangan kekuasaan, hingga anggota dewan yang  selalu setia dengan “budaya membolos”. Mungkin inilah yang menjadikan alasan bagi Sondang Hutagalung membakar dirinya di depan Istana Negara.

Masyarakat diperhadapkan pada serentetan kasus korupsi dan konspirasi. Ada kasus CENTURI, kasus BLBI, kasus penyuapan pada pemilihan direktur BI. Bahkan beberapa hari yang lalu kita disuguhkan fenomena pembantaian masal di Sumatera Selatan dan Lampung. Pembantaian yang dilakukan aparatur Negara demi memuluskan kepentingan korporasi.

Sederetan kasus ketidakadilan yang terjadi pada bangsa ini biasanya selalu menguap, kalaupun diperbincangkan biasanya karena ada muatan politik yang melatarbelakanginya. Hal ini pada akhirnya menjadikan elit politik saling sandra untuk menutupi kebusukannya, partai yang menaunginya atau melindungi elit yang berada di atasnya. Elit politik kita saling berkelindan dalam permainan “patgulipat” hingga masyarakat merasa “kecerdasannya dikoyak”.

Apatisme

Mungkin bangsa ini telah terlalu lelah dan telah kehabisan energi dan rasionalitas hingga aura apatisme dapat kita rasakan di mana-mana. Lalu dihadapkan pada jalan serba buntu, menciptakan sebagian masyarakat menjadi anarkis dan brutal. Kriminalitas telah menjadi biasa untuk diperdengar dan dipertontonkan di negeri ini. Kejahatan yang terjadi begitu massif dari kota hingga melebar ke desa. Lingkungan hidup kita terasa semakin tidak aman lagi.

Selanjutnya coba lihat kondisi peradilan kita, budaya sogok  telah menjadi barang biasa. Putusan hakim bisa dibeli asalkan dengan harga yang pantas. Inilah fakta yang membebani kita semua. Beban itu makin hari makin bertambah berat karena tak adanya perubahan yang signifikan seperti signifikannya angka korupsi di berbagai instansi dan level pemerintahan.

Beban psikopolitik, psikoekonomi dan  psikoperadilan kita yang terlalu berat dan fakta di lapangan yang begitu memprihatinkan telah  menempatkan bangsa yang besar ini berada pada titik nadir dan terancam pada episode akhir dari peradaban sebuah bangsa. Semua beban yang kita miliki begitu berat, apalagi berbicara beban ekonomi dengan utang luar negeri kita yang menggunung dan kemiskinan semakin  merajalela.

Pemimpin Nasional

Indonesia jelas memerlukan nahkoda baru yang berani menerjang gelombang dan peta dari bentuk sebuah bangsa yang dicita-citakan. Jalan keluarnya adalah menjadikan pemilu 2014 yang akan datang sebagai sarana untuk memilih sosok pemimpin nasional yang kuat. Seperti yang dikatakan oleh Buya Syafi’i Ma’arif, pemimpin yang berjiwa merdeka, adil, dan terbebas dari mental budak. Apabila ke depan bangsa ini masih gagal memilih pemimpin yang kita cia-citakan maka bangsa ini akan TAMAT dari substansi kehadirannya.

Pada akhirnya, apakah gempuran persoalan yang tak kenal ampun yang menerpa bangsa ini mampu menjadikan kita semakin pandai dan arif untuk belajar dari cara kita yang salah mengelola sebuah bangsa. Ataukah kita akan tetep tenggelam dalam kubangan lumpur relitas yang chaos? Jawaban atas nasib bangsa berada pada kita semua, karena kedaulatan dan masa depan bangsa ini berada di tangan kita semua. (*)

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.