Negara yang Dimiskinkan

Realitas Kemiskinan

Negara terus bertambah usianya, tetapi ketahanan, kemakmuran, serta kedaulatannya justru semakin melemah seperti sekarang ini. Tujuan utama para founding fathers jelas dan tegas, yakni membentuk negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Pertanyaannya, apakah dengan bertambahnya usia negara ini kemiskinan dan penjajahan itu sudah musnah di negeri adidaya ini?

Di bidang ekonomi, rakyat tidak semakin sejahtera, sebaliknya justru semakin sengsara. Pemerintah merilis angka-angka ekonomi makro yang menggembirakan, namun pada kenyataannya, rakyat semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup, akibat daya beli yang terus merosot, sedangkan harga-harga terus melambung.

Kasus bunuh diri akibat kesulitan ekonomi telah banyak bermunculan ini yang terus menyebabkan keresahan sosial yang terpendam bagai bisul yang menunggu pecah pun sepatutnya diantisipasi akibat semakin banyak dan meluasnya anak bangsa ini yang menganggur dan tingkat kemiskinan semakin meraja lela karena negara gagal menciptakan lapangan kerja.

Rakyat semakin sengsara dan terjajah ketika pada tahun 2010 di berlakukannya pasar bebas yaitu kerja sama ASEAN  yang embel-embelnya mampu menjawab dan meningkatkan pendapatan Negara, padahal ini malah berbalik menjadi bencana, karena negara tidak berperan menguatkan pelaku pasar nasional. Dominasi produk asing di pasar domestik pun menjadi kelaziman.

Pendapatan per Kapita

Ketahanan ekonomi menjadi kian rapuh. Padahal kalau kita liahat Pendapatan per kapita penduduk Indonesia menembus angka US $ 18,000 atau sekitar Rp. 180.000.000,00 per tahun.

Angka tersebut jauh di atas beberapa negara ASEAN lainnya seperti Malaysia yang hanya memiliki pendapatan per kapita penduduk US $ 6,220, atau Thailand dengan pendapatan per kapita penduduknya US $ 2,990. Tetapi anehnya kenapa hari ini kemiskinan terus mencokol di negeri yang katanya Gemah ripah loh jinawi ini?

Kalau kita melihat lebih jauh dan mendalam Indonesia begitu megah dengan segala keanekaragaman baik itu dari segi budaya maupun dari segi kekayaan alamnya yang tidak mampu disaingi oleh Negara-negara lain.

Sebenarnya kalau pemerintah mampu memaksimalkan di bidang pertanian saja maka tidak akan ada yang namanya kemiskinan di Negara yang kaya raya ini, tetapi hari ini keberpihakan seorang pemimpin terhadap masyarakyat nya tidak ada sama sekali, itu terbukti siapapun yang meminpin Negara ini selalu melahirkan regulasi-regulasi yang terus menyengsarakan rakyat, misalnya di dunia pendidikan dengan lahirnya UU Sisdiknas Tahun 2003 itu adalah skenario besar pemerintah bagaimana kedepannya dunia pendidikan ini akan diswastanisasikan.

Pemberdayaan ekonomi Rakyat

Negara tak henti-hentinya melahirkan regulasi-regulasi yang terus mencengkram dan terkesan menindas kalau sudah seperti ini tidak akan ada lagi tanggung jawab pemerintah padahal sudah jelas dalam  UUD 1945 menyatakan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab Negara bahkan 20% dari APBN sudah di peruntukan untuk dunia pendidikan.

Sepantasnya Negara dan kira semua mulai menyadari diri, bangun dari tidur yang panjang, memekikkan peringatan pada para pemimpin yang terkenal bebal untuk mulai berubah. Budaya pemerintah yang suka mencari kambing hitam dan selalu menjadikan data statistik untuk mengukur keberhasilan ekonomi untuk segera dikurangi bahkan dihilangkan.

Pemberdayaan ekonomi rakyat menjadi suatu upaya yang mutlak harus dilakukan. Kemampuan “tahan banting” terhadap krisis telah terbukti. Mengingat relatif sulitnya mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi yang diharapkan dari investasi usaha-usaha besar maka pemerintah daerah diharapkan untuk lebih memberdayakan ekonomi rakyat yang merupakan potensi yang tersembunyi (hidden potential) termasuk di dalamnya UKM dan sektor informal untuk mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan. Hingga prasangka dan pendapat masyarakat tentang kesejahteraan yang hanya dirasakan kaum elit dan masyarakat kelas bawah akan terus berada dalam lingkaran kemiskinan segera terkikis di negeri ini. (*)

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.