Pesan Untuk Kepolisian

Mengayomi dan Melindungi

Cita-cita pemisahan antara kepolisian Indonesia dan TNI pada awalnya sejatinya adalah untuk menempatkan TNI sebagai militer adalah angkatan bersenjata yang profesional, dan disisi yang lain kepolisian melakukan tugasnya untuk melindungi dan mengayomi kepentingan sipil. Namun yang terjadi akhir-akhir ini mempertunjukkan tindakan represif polisi dalam melakukan tindakan pengamanan dalam  tiap kasus sengketa yang melibatkan masyarakat dan korporasi.

Tak perlu repot-repot jika ingin menyaksikan kebringasan polisi dalam menghadapi rakyat. Di banyak kesempatan (di media masa maupun elektronik, di saat demonstrasi dll) kita dipertunjukkan bagaimana tindakan polisi melakukan tindakan kekerasan. Lalu dimana diletakkan fungsi pengamanan dan perlindungan polisi? Apakah fungsi itu hanya diperuntukkan  korporasi atau elit pemerintahan dengan melakukan tindakan represif terhadap raktat?

Aparat kepolisian sebagai bagian dari aparatur Negara yang menangani persoalan hukum seharusnya bersikap netral bila diperhadapkan dengan masa rakyat tentunya dengan berusaha tidak melakukan tindakan-tindakan seperti “membubarkan massa denga laras tempur” seperti akhir-akhir ini terjadi di Mesuji-Sumsel dan Bima-NTB. Hal ini secara implisit menandakan kekacauan sistem pola penindakan dan dominasi modal sangat mempengaruhi pembelaan kepolisian terhadap korporasi dan elit pemerintahan.

Centeng Korporasi

Dalam pengertian yang lain, tindakan polisi tidak mencerminkan citra kepolisian Indonesia sebagai aparatur Negara yang bertugas untuk melakukan pengayoman dan perlindungan terhadap masyarakat sipil. Kerusakan citra ini ditambah lagi dengan indeks korupsi di kepolisian menempati peringkat atas di Indonesia dan pelanggaran HAM berat yang dilakukan pihak kepolisian di berbagai tempat.

Tak dapat dipungkiri dalam proses dialektika sosial, entah secara lansung ataupun tidak, secara alami akan terbentuk kelompok-kelompok yang akhirnya menjadi kelas-kelas sosial yang saling berebut kekuasaan. Foucoult menegasikan kekuasaan seperti lingkaran sosial,berjalan tak lagi dari atas ke bawah, namun berjalan merembet ke samping dari pusat lingkaran, ataupun dari samping menuju pusat lingkaran.

Pada tataran praksis, relasi kekuasaan saat ini berada di tangan pemodal, mereka yang memiliki kelebihan modal akan berada pada level teratas kekuasaan. Nah, pada posisi ini pihak Kepolisian Negara Republik ini menjadi “centeng berseragam” pemodal. Centeng yang tindakannya melukai dan bahkan menembaki rakyat atas nama ketertiban dan penegakan hukum. Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah hukum yang mana dan penegakan ketertiban seperti apa yang dilakukan dengan mengesahkan tindakan “barbarian”?

Simbol Peradaban

Para pemegang kekuasaan (berkuasa atas modal dan struktur pemerintahan) di negeri ini seolah-olah memiliki otoritas penuh dalam menentukan posisi mereka dan mengabaikan posisi rakyat. Di sisi yang lain, polisi sebagai yang dapat dikatakan (posisi paling rendah) dalam struktur pemegang kekuasaan melakukan tindakan-tindakan yang dianggap perlu sebagai sistem kendali atas masyarakat untuk melindungi penguasa dan korporasi (pemodal). Sehingga terjadi pemanfaatan kewenangan yang dimiliki oleh penguasa dan kepolisian (sebagai pihak yang berhadapan lansung dengan rakyat).

Yang perlu diingat kembali adalah posisi kepolisian yang seharusnya profesional dan netral. Pihak yang hampir-hampir tidak memiliki kepentingan dalam perebutan kekuasaan antar kelas atas (dalam hal ini elit pemerintahan dan pemodal) dan kelas bawah (massa rakyat). Polisi sebagai pelindung dan pengayom seharusnya menjadi mediator yang mampu melakukan mediasi antar kelas yang berkonflik, tidak memandang sebuah aturan sebagai hukum formal yang mutlak apabila tidak menguntungkan untuk digunakan pada kondisi-kondisi tertentu. Sehingga polisi tetap pada garis dan takdirnya untuk mrnghadirkan dirinya sebagai simbol peradaban sebuah masyarakat. (*)

Recommended For You

About the Author: Firman Hamdani

Penulis lepas yang pernah kencang di aktivitas gerakan mahasiswa