Politik Dan Hakikat Kemenangan Islam

Tidak kurang dari 13 tahun negeri ini mereformasi dirinya, akan tetapi realitas politik di negeri ini makin menunjukkan kemundurannya. Politik adalah panglima itu slogan dan fenomena politik pada masa orde lama, rakyat wajib berpolitik, meskipun rakyat belum dibiarkan memiliki kebebasan politiknya. Orde baru lebih mengerikan lagi, politik adalah pembangunan yang ditafsirkan dengan gaya politik “asal bapak senang”.

Setelah lama kita meninggalkan reformasi, kita menikmati era kebebasan dan ekspresi politik yang luar biasa. Dari reformasi itu pula partai politik menikmati hasil dari melimpah-ruahnya kekayaan negeri ini. Partai politik menjadi mandor dan pemilik di negeri kapling seperti negeri ini. Politik dijadikan alasan untuk menimbun, mengelola dan melestarikan generasi politik yang berputar bagai siklus nestapa yang memberatkan bagi bangsa ini.

Realitas politik yang seperti ini sudah pernah dianalisa oleh guru bangsa kita Ahmad Syafii Maarif di bukunya “mencari autentitas dalam kegalauan”(PSAP,2004): Dengan kerusakan mental yang cukup berat yang kita warisi selama ini, konstelasi dan konfigurasi politik kita ke depan masih sulit mencapai kemapanan dan kestabilan. Budaya politik instan yang dihasilkan dari gaya didikan dan kaderisasi partai politik adalah dosa sejarah yang mesti kita hentikan. Partai politik kita sangat berhasil menciptakan politikus, tapi tidak negarawan.

Bukankah politik di negeri manapun mesti berkaitan erat dengan cita-cita politik bangsa ini yang tidak lain adalah mewujudkan cita-cita UUD 45 kita. Akan tetapi yang terjadi saat ini adalah krisis politik, krisis nurani dan krisis manusiawi. Maka yang timbul dalam dunia politik kita adalah kongkalikong, koalisi dan saling menjatuhkan. Iklim kerjasama semakin ditinggalkan kecuali ada pamrih  dan transaksi.

Politik islam

Sampai saat ini tidak ada yang bisa menyangkal bahwa kebesaran umat islam menjadi potensi politik yang besar bagi berkembangnya kemajuan dan peradaban islam maupun bagi tumbuh suburnya partai politik islam. Partai politik islam saat ini belum mampu menunjukkan etika politik islam yang dimaknai bahwa islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan juga cita-cita negeri ini.

Muhammad iqbal pernah mengatakan : “Cita etika islam- ialah membebaskan manusia dari rasa takut, dan memberi kepadanya suatu rasa kepribadian, agar ia dapat menyadari bahwa ia sumber kekuatan”. Maka etika politik islam tidak lain adalah menyadari bahwa potensi umat islam adalah kekuatan bagi pencerahan dan kemajuan peradaban.

Jika realitas politik yang terjadi adalah sebaliknya, maka akan sangat sulit bagi umat islam mengembangkan cita-cita dan politik islam itu sendiri. Rendra menganalisa gejala ini diakibatkan oleh hilangnya nurani. Simaklah penggalan puisi rendra berikut : Negara tidak mungkin kembali diutuhkan/ tanpa rakyatnya dimanusiakan/ dan manusia tidak mungkin menjadi manusia /tanpa dihidupkan hati nuraninya. Nurani menjadi kata yang alfa di kamus pemimpin partai politik kita maupun politikus kita yang menjabat maupun yang akan menjabat dalam struktur lembaga-lembaga pemerintah kita.

Paradoks

            Apakah perilaku politik sangat berpengaruh dalam membentuk budaya politik kita?. Atau sebaliknya agama islam yang tidak mampu memberi pencerahan bagi umatnya tentang makna dan hakikat politik itu sendiri?. Natsir pernah menuliskan dalam majalah Pembela Islam 1932 : Islam adalah peraturan pergaulan hidup yang memberi hak sama rata, memberi kewajiban juga sama berat atas segenap manusia penduduk ala mini. Peraturan mengangkat budi pekerti,mengurus rumah tangga, pergaulan dalam negeri,mengurus pemerintah dan kerajaan,mengurusi perhubungan mereka yang berlainan negeri ini,mendidik, memimpin, dengan tubuh semangat pencapai derajat kemanusiaan yang sepenuhnya.

            Melihat apa yang ditulis natsir tersebut kita akan bisa berkesimpulan ternyata umat islam-lah yang justru perlu kita pertanyakan dengan sikap politik dan garis politiknya selama ini. Sampai kini realitas politik di negeri ini membentuk opininya sendiri. Padahal sejatinya, partai politik itu yang mestinya menyatukan antara tokoh dan masyarakatnya. Derajat kemanusiaan adalah barang langka, karena di negeri ini para politikus dan calonnya sudah melakukan hubungan intim untuk meneruskan visi kelompok, golongan dan partainya masing-masing. Maka realitas politik yang diciptakan oleh sebagian partai islam sangat tidak wajar ketika logika etik politiknya adalah bagaimana menguasai system keuangan dan menggerogoti negerinya sendiri.

            Kebesaran yang ada pada umat islam adalah potensi, tapi kebanggaan akan hal tersebut akan melalaikan bahwa ada satu paradoks yang kentara ketika jumlah umat yang besar tidak mampu menunjukkan kerja peradaban di dalam bangsa yang penuh dengan berbagai persoalan. Cita-cita agama sebenarnya memiliki fondasi kuat dengan nilai-nilai yang abadi dan universal. Agama tidaklah cukup hanya difahami sebagai formula-formula abstrak tentang kepercayaan dan nilai . Ia menyatu dan menyatakan diri dalam hidup nyata para pemeluknya(nur cholis madjid : 90).

            Harapan akan masa depan politik di negeri ini sebagaimana Muh. Hatta pernah bilang, tidak lain dan tidak bukan bertumpu pada pemuda indonesia. Sebab dari pemuda itulah lahir gagasan luhur, dan memiliki nurani yang murni dengan cita-cita idealismenya. Dalam indonesa merdeka ia menuliskan : Pemuda indonesia adalah hati nurani bangsa yang berbicara jiwa bangsa yang menyala, yang akan mewarnai masa depan.

            Harapan ini akan menjadi kenyataan jika antara partai politik islam, maupun umat islam membenahi dan menginsafi bahwa politik tidak mungkin langgeng jika bertumpu pada kekuasaan semata. Selain itu, perkaderan partai harus berubah dari mindset oligarki dan dinasti serta pragmatisme politik menjadi politik yang didasarkan kembali pada cita-cita bangsa dan politik nurani. Jika demikian, maka kemenangan islam yang pernah disuarakan oleh cak nur yang dimaknai sebagai kemenangan ide,cita-cita,dan sikap hidup umat islam benar-benar terwujud, bukan kemenangan umat islam yang semu dengan berbagai sirkus dan akrobat politiknya. (*)

Recommended For You

About the Author: Arif Saifuddin Yudistira

ARIF SAIFUDIN YUDITIRA . Lahir 30 juni 1988, bermukim di Klaten, masih studi di universitas muhammadiyah surakarta mengambil jurusan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan bahasa inggris, selain menulis puisi, penulis juga aktif menulis esai, esai dan puisinya tersebar di beberapa media massa seperti Radar surabaya, Suara merdeka, Harian joglosemar, Solo pos, Media Indonesia, Lampung post, Majalah bhinneka, Majalah papyrus, Bulletin sastra pawon, Koran opini.com, gema nurani-com dan lain-lain. Aktif di kegiatan sastra komunitas sastra pawon solo, pengajian jum’at petang, Disanalah penulis belajar tentang sastra dan dunia kepenulisan. Dalam dunia kemahasiswaan sempat menduduki ketua di beberapa lembaga IMM bidang SOSMI, LITBANG PERS FIGUR UMS, Dan KETUA DPM UMS. Selain di bangku kuliah, penulis aktif sebagai presidium kawah institute Indonesia dan bilik literasi Solo Cp : 085642255900