Indonesia Negara Anomie

Krisis Multidimensi

Memikirkan kembali sejarah perjalanan bangsa yang berlansung hingga saat ini kita akan mendapatkan sebuah pertanyaan besar, apakah bangsa yang besar dan berbudaya ini masih memiliki harapan? Mungkin menjadi pertanyaan yang bernada pesimistis, namun seolah menjadi wajar apabila kita diperhadapkan pada begitu banyaknya persoalan. Mulai dari krisis keteladanan akibat perkembangan sosial, politik dan ekonomi hingga krisis identitas yang menghinggapi cara pandang masyarakat di segala umur dan kelas sosial. Tentunya segala persoalan ini diakibatkan  karena kita telah secara perlahan tapi pasti telah melepaskan diri dari nilai-nilai luhur bangsa ini.

Saat ini, realitas sosial masyarakat terutama elit Negara telah menjeratkan diri pada paradigma dan perilaku seperti apa yang dikatakan Kuntiwijoyo adalah pola penjungkirbalikan nilai, norma, dan fakta. Hal ini mengakibatkan diri kita dan masyarakat menjadi bingung karena kehilangan batasan-batasan perilaku atas yang benar dan salah. Apa yang oleh masyarakat pada masa lalu dikatan aib saat ini dihalalkan, kebenaran telah berubah menjadi kesalahan, dan kesalahan berubah menjadi kebenaran.

Seiring berjalannya waktu, dan tentunya diiringi dengan perubahan cara pandang masyarakat dalam mempersepsikan fakta yang menghinggapinya, namun tidaklah menciptakan masyarakat yang siap menyonsong peradaban yang lebih baik secara nilai, perilaku dan bahkan segalanya menjadi absurd dan terpuruk. Salah satu sebabnya adalah krisnya keteladanan bangsa yang diakibatkan orang-orang yang seharusnya dijadikan teladan berubah menjadi “rakus, sok kuasa dan menjadi hamba dari kemilau dunia”.

Negara Anomie

Untuk melihat lebih lanjut kondisi bangsa, Kuntowijoyo mengatakan bahwa manusia Indonesia telah berubah secara spirit, yaitu spirit tanpa pamrih telah diganti menjadi pamrih, altruisme berubah menjadi individualisme, kesederhanaan berubah menjadi keserakahan, dan orang-orang menjadi bingung karena kehilangan nilai dan keteladanan.

Saat ini, kehidupan kita sebagai bangsa yang bermartabat dan berbudaya sedang dalam kondisi membahayakan. Kita sedang bergelayut dengan ruang dan waktu di mana sedang terjadi “penyusutan nilai” dan “pembalikan nilai”. Dalam ruang dan waktu inilah akan melahirkan dan terbentuknya manisia-manusia Indonesia yang tidak lagi mencintai lingkungan, amnesia dan pengabaian terhadap nilai-nilai leluhur, oportunistik, menghalalkan penindasan, budaya “patgulipat dan lain sebagainya.

Meminjam istilah Durkheim, bila melihat manusia-manusia Indonesia dan terutama elit negaranya beranggapan bahwa nilai-nilai dan ukuran masa lalu sudah tidak lagi relevan lagi untuk memahami realitas pragmatis saat ini. Akan tetapi nilai dan ukuran yang baru juga belum terbentuk secara jelas. Ketika paradigma kita seperti ini, maka Negara ini telah kehilangan identitas diri sebuah bangsa atau kata lain Negara anomie.

Sebuah Keharusan

Dimulai dengan fenomena terkucilnya orang yang berupaya memperjuangkan kejujuran dan terlindunginnya para pelaku kejahatan merupakan gambaran betapa nilai kejujuran adalah barang mahal dan langka. Mahal karena butuh keberanian mental dan upaya sungguh-sungguh untuk memperjuangkannya. Langka karena sulitnya menemukan sosok panutan kejujuran, sebaliknya betapa banyak pelaku penipuan dan ketidakjujuran.

Sebagai renungan bahwa tidak ada satupun Negara besar dan maju di muka bumi ini meninggalkan nilai-nilai luhur para leluhurnya kecuali Negara tersebut mau terus-menerus berada dalam kubangan keterpurukan dan keterbelakangan. Negara Indonesia sebagai Negara “kaya” dan mayoritas beragama akan terus berada di level bellow level one, yakni level di bawah terrendah dari kemampuan kompetesi di antara Negara-negara.

Keniscayaan realitas bangsa seharusnya menjadi renungan bersama secara serius sembari berbenah diri. Benturan-benturan sosial politik yang diharapkan makin mendewasakan dan menjadikan bangsa ini lebih baik justru menjadi perdebatan dan konflik tak berujung. Paradigma dan perilaku peniadaan karakter bangsa yang berbudaya yang dilakukan manusia Indonesia dan terutama para elit Negara akan menciptakan kerusakan permanen. Maka kontrol sosial, berpegang teguh pada nilai-nilai dasar dan menjalankan hukum secara adil dan tanpa pandang bulu adalah sebuah keharusan mutlak. (*)

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.