Ironi dan Absurditas Politik

Panggung Teater

Lintasan peristiwa sosial politik dewasa ini menunjukkan bahwa diskursus politik bangsa kita menempatkan dirinya dalam panggung teater yang di dalamnya kita dipertontonkan berbagai pertunjukkan ironi dan absurditas politik.

Misalnya, para tokoh politik yang saling lempar cacian, sindiran dan bahkan saling tuduh. Elit politik menampilkan tauladan yang buruk, bersikap penuh ironi dan membangun perspektif absurd.

Ironi dan absurditas politik bangsa telah meletakkan ruang politik kita seperti apa yang diungkapkan Yasraf A Piliang, pada sikap, tingkah laku, cara bicara, bahasa, simbol dan citraan yang bersifat ironi.

Penjungkirbalikan kata dan perbuatan, inkonsistensi antara ideologi dan gaya hidup,dan berlawanan antara etika politik dan tindakan politik. Inilah yang menurutnya dikatakan politicus ironia.

Dia melanjutkan, absurditas praktik dan realitas politik yan dipertontonkan politisi dan birokrat bangsa ini telah membentangkan sebuah realitas dari kehampaan makna politik, ketiadaan nilai dan substansi politik, pengancuran tujuan politik, pendangkalan ideologi politik, dan degradasi moralitas politik, yang akhirnya melahirkan politicus absurditas.

Kebijakan dan Regulasi Palsu

Begitu banyak tontonan ironi dan absurditas yang menyeruak ke permukaan baik di media informasi, ruang diskusi, maupun di tengah-tengah masyarakat yang dipertontonkan oleh elit politik.

Tontonan itu menunjukkan bahwa ironi dan absurditas kini tidak lagi sekedar pertunjukan pada wilayah komunikasi politik tapi telah menjelma menjadi sikap hidup, paradigma berfikir, dan pandangan dunia yang dihirup elit politik dan masyarakat politik kita.

Menurut Jhon Evan seorang Filosof yang menggunakan perspektif Plato mengungkapkan, ironi politik (political irony) adalah sebuah kondisi ketika di mana dalam ruang-ruang politik hadir berbagai bentuk kontradiksi, pertentangan, disparitas, inkosistensi, inkompatibilitas, ambivalensi, dan paradok.

Berkaca dari perspektif Evan dengan melihat kondisi politik bangsa, maka kita akan mendapatkan kesesuaian. Efek lebih jauh dari semua ini bukan hanya terciptanya ironi politik, namun akan berujung pada pegaburan bahkan kepalsuan. Jika akibat dari ironi adalah pengaburan dan kepalsuan politik, maka tiap kebijakan akan melahirkan pengaburan dan kepalsuan regulasi dan hukum.

Ini dapat dibuktikan ketika lembaga hukum memproduksi citra-citra seolah-olah pengadilan telah menciptakan keadilan, dan regulasi seolah telah menghadirkan diri untuk kepentingan masyarakat namun kenyataannya regulasi absen dari masyarakat.

Fondasi: Transendensial dan Metafisika

Ironi dan absurditas politik yang menjangkiti bangsa ini berkembang seperti virus ke tiap sudut ruang politik bangsa ini akibat kehilangan fondasi nilai-nilai transendensi dan metafisisnya. Tidak ada lagi fondasi metafisis yang memayungi setiap wacana dan aktor politik yang merasa harus takut akan dosa, harus takut akan malu, harus takut untuk tak dicintai atau takut dihukum.

Tampilan panggung politik bangsa kita yang seperti inilah yang pada akhirnya menciptakan terhambatnya akselerasi untuk menjadi lebih baik atau kemampuan untuk mentransformasikan diri secara dialektis ke arah yang selalu siap untuk menyonsong peradaban.

Kondisi seperti ini akhirnya pilihan untuk kembali pada nilai-nilai luhur bangsa (metafisik) dan transendensial (Tuhan) menjadi sebuah keharusan. Karena diharapkan dari pilihan ini akan terlahirnya kembali tauladan politik, dan orang besar yang dapat mencairkan kebekuan politik dan menghentikan fase ironi dan absurditas politik yang menerpa bangsa ini. (*)

Recommended For You

About the Author: Fitrah Hamdani

Penyaji analisis kontemporer genuin yang bertumpu pada realitas akar-rumput. Malang melintang di dunia akademis, berpadu pada program kaderisasi generasi penerus. Mencintai keluarga dan berharap Indonesia hadir sebagai bangsa yang beridentitas.