Kampus dan Masyarakat Kita

Jika ingin melihat kemajuan bangsa lihatlah kampusnya, ungkapan ini saya pikir masih relevan dengan zaman ini. Di jaman ini, rasanya tak ada kampus yang tak berpengaruh bagi kehidupan bangsanya.

Bangsa-bangsa Eropa, Amerika, maupun bangsa Asia sendiri, bisa mencapai kejayaan dan keemasannya lahir dari rahim kampus. Pun peradaban yang begitu besar kini, hadir dari kampus, meski kita tak menafikkan peradaban-peradaban yang dicipta dari luar kampus yang terus-menerus tumbuh dan berkembang di masyarakat kita.

Kehilangan Taring

Kecenderungan kampus sebagai pusat ilmu dan tumbuhnya budaya tidak lagi menunjukkan ke arah yang membanggakan. Kampus seperti kehilangan taringnya dan kehilangan jati dirinya.

Jati diri kampus tak lain adalah jati diri manusia-manusianya. Kampus kini seperti lembaga yang tersegmentasi sendiri dan terpisah dari manusianya. Apakah manusia kini mengenal kampus?

Apa kampus yang kemudian tak mampu mengenal manusia-manusia yang ada di dalamnya?. Sehingga muncul produk yang tak sesuai dengan harapan manusia-manusia yang ada di kampus.

Kampus sebagai Orang Tua

Sebenarnya kampus tak lain seperti ibu-bapak guru kita, yang meruwat dan memupuk optimisme terhadap harapan kita, dan dengan berbagai fasilitas yang ada membantu mewujudkan harapan itu. Harapan-harapan individu-individu tersebut diolah menjadi visi bersama dalam sebuah kerangka universitas.

Jadi tak ada larangan, kampus menciptakan jalannya sendiri dan cita-citanya sendiri, sebab kampus tak harus sama di tiap daerahnya. Kampus di kota besar berbeda dengan kampus yang ada di pinggiran desa.

Dari sanalah kita telah mencoba mengembalikan bahwa kampus tak terlepas dari pelbagai lingkungan yang ada di sekitarnya. Sebab mestinya dari lingkungan dan orang-orang disekitarnya itulah, kampus bisa menjadi solusi dan alternatif bagi persoalan yang ada disekitarnya.

“Untuk apa pendidikan dibangun kalau melepaskan diri dari berbagai persoalan di dalamnya?”. Begitu HAR Tilaar pernah berujar.

Ideologi

            Begitu banyak percakapan, obrolan, dan juga berbagai fenomena yang muncul di kampus melahirkan produk dari masyarakat kampus itu sendiri. Produk-produk ini bisa berupa dokumentasi buku, pidato guru besar, maupun kerja organisasi kemahasiswaan.

Makalah-makalah, hingga karya tulis mahasiswa. Kita memang bukan dewa yang bisa menciptakan perubahan dengan segera hadir di depan mata kita. Akan tetapi, dimanakah semua produk kampus tadi berkontribusi terhadap pola perubahan masyarakat kita ketika tak mampu memberikan perubahan yang berarti sekecil apapun.

Saat itulah kita mulai sadar, bahwasannya ideologisasi begitu memegang peranan penting dalam membangun peradaban yang konon kini hilang entah kemana. Apakah kampus kehilangan ideologi?. Atau apakah kampus berhak mempunyai ideologi?.

Modernitas itulah yang diimpikan oleh kampus-kampus di era awal kampus berdiri di negeri ini. Orang masuk ke kampus dengan harapan bisa modern. Namun apa sebenarnya modernisasi itu?.

Barbawa ward pernah mengatakan : “Modernisasi adalah memberikan kepada rakyat harapan bahwa sekarang jauh lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari sekarang,kuncinya adalah” hope” (Rosihan anwar, 2010).

Seperti apakah sebenarnya ideologi yang ada di kampus itu?. Tan malaka menderskripsikan ideologi kampus dengan kalimat sederhana dalam brosur pendeknya SI dan semarang dan Onderwijs.”.

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan. Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan”. Dari kalimat itulah muncul onderwijs atau perguruan yang bernafaskan rakyat, modal syarekat atau kebersamaan, dan cita-cita satu yakni hope tadi. Harapan itu tak lain dari harapan murid-murid dan harapan rakyat.

Tanpa ideologi yang kuat, maka kampus akan jadi seperti sekarang ini, gamang dan kehilangan posisi di rumahnya sendiri. Ia tak mampu menentukan bagaimana ia harus bersikap, diposisi mana ia bersikap dan kepada siapa sikap itu akan disampaikan?. Jika sudah demikian,maka kampus atau perguruan ini akan jadi menara gading yang tinggi di puncak kejayaannya sendiri, tapi tak membumi.

Masyarakat kita

Masyarakat kita pun demikian halnya, saat ini masyarakat kita seperti mendapatkan didikannya bukan dari pengalaman mereka sendiri. Masyarakat kita cenderung belajar dari apa yang disampaikan oleh media-media kita melalui televise, radio dan berbagai arus informasi yang tak terkira cepatnya. Desa kita jadi berubah menjadi desa yang kosmopolitan, yang tak mampu mengenal batas-batas maupun sekat kultural.

Alhasil, ketika masyarakat kita ditanya dimanakah kampus yang terbaik di kota ini?. Mereka akan bertutur berdasarkan nama-nama kampus ternama dari televisi, media-media, hingga pada iklan-iklan dan selebaran.

Tanpa sadar, masyarakat kita kehilangan kepercayaan dirinya, kepercayaan terhadap alamnya, hingga kemajuan serta kemampuan mereka mengelola harapan-harapan akan masa depan anaknya. Maka diserahkan anak-anak mereka ke dalam kampus .

Dengan demikian, tanpa sadar ideologisasi telah hilang sejak kampus berubah jadi tempat yang hanya memuja harapan, tanpa kemudian beranjak mewujudkan harapan, yang muncul adalah ahli-ahli yang bisa membaca persoalan dengan analisis mendalam, tapi tak mampu menguraikan solusi persoalan tersebut.

Hilangnya Zeitgeist

            Zeitgeist adalah semangat membebaskan orang kecil, golongan buruh dari kungkungan keterbelakangan, kemiskinan, mengangkat martabat kaum pekerja menjadi layak menurut perikemanusiaan. Kampus kini jadi kumpulan jargon yang pandai mengelola iklan dan memainkan komunikasi klisenya dengan berbagai tawaran menggiurkan, tapi lalai substansinya sebagai zeitgeist. Jika mengeliminir spirit zeitgeist tadi,maka kampus jadi terpisah dari masyarakat kita. (*)

Recommended For You

About the Author: Arif Saifuddin Yudistira

ARIF SAIFUDIN YUDITIRA . Lahir 30 juni 1988, bermukim di Klaten, masih studi di universitas muhammadiyah surakarta mengambil jurusan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan bahasa inggris, selain menulis puisi, penulis juga aktif menulis esai, esai dan puisinya tersebar di beberapa media massa seperti Radar surabaya, Suara merdeka, Harian joglosemar, Solo pos, Media Indonesia, Lampung post, Majalah bhinneka, Majalah papyrus, Bulletin sastra pawon, Koran opini.com, gema nurani-com dan lain-lain. Aktif di kegiatan sastra komunitas sastra pawon solo, pengajian jum’at petang, Disanalah penulis belajar tentang sastra dan dunia kepenulisan. Dalam dunia kemahasiswaan sempat menduduki ketua di beberapa lembaga IMM bidang SOSMI, LITBANG PERS FIGUR UMS, Dan KETUA DPM UMS. Selain di bangku kuliah, penulis aktif sebagai presidium kawah institute Indonesia dan bilik literasi Solo Cp : 085642255900